Prime banner

Malam ini purnama nampak sempurna menghias mayapada. Awan tipis putih bergelung seumpama selarik sutera halus membingkai indah cahaya keemasan. Kupejamkan mata mencoba merasakan pendar sinarnya. Dan kurasakan kehangatan tatkala wajahnya membayang. Samar dari ruang sebelah terdengar intro lagu ”All of The Stars” milik Ed Sheeran.

 It’s just another night and I’m staring at the moon. I saw a shooting star and thought of you. I sang a lullaby. By the waterside and knew if you were here, I’d sing to you. You’re on the other side as the skyline splits in two. I’m miles away from seeing you. I can see the stars from America. I wonder, do you see them, too?

Purnama ini, awan putih dan gugusan gemintang yang kini terhampar di hadapanku, apakah ia juga melihatnya? Apakah ia merasakan rasa yang sama denganku? Mataku kembali menerawang ke luar jendela kamar. Menatap indah langit malam yang bermandikan cahaya purnama. Ribuan bintang nampak berkelip dengan pijar kekuningan. Kuarahkan pandanganku ke langit di sebelah utara. Nampak tujuh buah bintang bersinar terang seolah membentuk sebuah gayung.

”Itu adalah rasi bintang biduk atau beruang besar yang menunjukkan arah utara. Banyak juga yang menyebutnya sebagai konstelasi bintang tujuh,” gema suaranya terngiang di telingaku. Gelombang kenangan tiba-tiba melanda. Seperti magnet yang menarik kuat setiap keping mozaik masa remajaku.

 

***

Dulu, setiap bulan Maret yang merupakan masa puncak musim panen padi, penduduk desa kami akan berbondong-bondong memanen padi di sawah milik mereka. Di saat itulah, pemuda-pemudi ikut turun ke sawah menuai padi bersama sanak kerabat. Siang hari adalah saat untuk memotong tangkai yang menguning kemudian mengumpulkannya di bagian tepi sawah. Malamnya dengan membawa obor dan bekal makanan dari rumah, warga desa kembali ke sawah mereka untuk mengetam padi. Momen seperti itu menjadi saat yang selalu ditunggu. Karena kami bisa turut serta membantu, bermain dan tidur di sawah hingga menjelang pagi. Biasanya aku hanya membantu memungut remahan padi yang terserak di tanah. Kemudian membentangkan kain jarik milik Ibu yang kubawa dari rumah di atas tumpukan jerami dan tidur di atasnya. Ia pun ada di sana. Membantu kedua orangtua bersama kakak perempuannya.

Sawah keluarga kami bersebelahan. Kami adalah tetangga dalam wilayah satu rukun warga. Usianya delapan tahun lebih tua dariku. Ia dan kakak lelakiku bersahabat sejak kecil. Karenanya, di kala musim menuai padi, kami sering bersama. Seperti malam itu, ketika ngantuk dan penat mulai menyerang, aku yang berbaring di atas tumpukan jerami beralaskan jarik sidomukti milik Ibu, mendengus kesal karena keusilannya. Ia dengan sengaja menarik satu tumpukan jerami di bagian bawah, sehingga tubuhku ambles *) secara tiba-tiba. Aku yang sudah setengah tidur tetiba terjaga. Kulampiaskan rasa kesal dengan melempar beberapa tangkai jerami ke arahnya. Tawanya meledak tatkala lemparanku tak sampai ke sasaran.

”Ah, lemah sekali kau. Melempar dalam jarak dekat saja tak kena. Mana mungkin kau bisa menjadi… apa yang kau bilang waktu itu? Kau ingin menjadi reporter di stasiun televisi luar negeri? Mana mungkin adik manis. Kau takkan sanggup jika ditugaskan untuk meliput peristiwa penting, semisal perang atau dikirim ke daerah konflik. Apa yang bisa kau lakukan di sana? Melempar jerami saat narasumber tak bersedia kau wawancara? Ledeknya sembari tertawa memamerkan dua gigi kelincinya.

”Setidaknya aku punya cita-cita! Sedangkan Kak Abdi …?”

Belum selesai aku bicara ia telah memotongnya, ”Gadis kecil, aku mungkin tak pernah mengatakan ingin menjadi apa setelah lulus kuliah nanti. Tapi setidaknya, aku telah punya gambaran tentang apa yang akan aku lakukan. Kau mau tahu?”

Ia meraih jemariku, menggenggamnya lalu mengangkat tangan kami ke arah gugusan bintang yang bertebaran di langit. Dengan cekatan ia menunjuk beberapa bintang yang bersinar lebih terang dari bintang lainnya. Ia menggerakkan tangan kami membentuk garis samar yang menghubungkan bintang-bintang tersebut. Memaparkan dengan detail setiap konstelasi bintang yang terlihat.

”Itu adalah rasi bintang biduk atau beruang besar yang menunjukkan arah utara. Banyak juga yang menyebutnya sebagai konstelasi bintang tujuh. Keistimewaan bintang ini, sekalipun gugusan bintang lainnya berputar pada malam hari, tetapi bintang kutub tetap berada di utara. Itu mengapa aku sangat mengaguminya. Dan suatu saat aku ingin mengikuti arah yang ditunjukkannya. Utara, ke sanalah aku akan pergi untuk melakukan hal besar setelah lulus kuliah nanti,” ujarnya mantap.

Jemari kami masih bertaut. Gelisir angin malam lembut membelai wajah telanjang kami. Sesaat aku menoleh ke arahnya. Ia memandang lekat ke langit. Rambut ikal hitamnya, garis tegak hidung dan jenjang lehernya begitu sempurna. Kurasakan hangat di kedua pipiku. Jika ada cermin pasti aku dapat melihat betapa merona wajahku. Malam itu adalah terakhir kalinya ia menemaniku melihat gugusan bintang dari tengah sawah di desa kami. Kesibukan kuliah dan praktek kerja membuatnya jarang pulang ke desa. Bahkan setelah wisuda, hanya dua kali kami bertemu. Itu pun sesaat. Sebelum akhirnya kami berpisah untuk merajut cita dan impian masing-masing. Tak ada janji terucap. Tetapi aku mematrinya di kedalaman relung hati. Sebuah ikrar untuk selalu menunggunya mengungkapkan sebenar rasa yang ia miliki.

Tahun berganti windu dan dasawarsa menjelma. Sepuluh tahun kami tak pernah bertemu. Ia mengadu nasib ke Negeri Sakura. Sedangkan aku melanjutkan kuliah ke salah satu negeri Skandinavia dengan beasiswa yang kuterima dari Stockholm University. Di sana pula aku mendapatkan pekerjaan sesuai cita-cita masa kecilku. Menjadi reporter di salah satu televisi nasional Swedia. Ritme kerja yang tak kenal waktu dan besarnya biaya untuk cuti ke Tanah Air, membuatku harus menahan kerinduan pada keluarga.

Dalam rentang waktu itu, hanya tiga kali aku pulang kampung. Kami tak pernah bertemu. Karena ia masih di Negeri Matahari Terbit. Tak ada komunikasi sama sekali. Terkadang, terbersit keinginan untuk menanyakan kepada kakak perempuannya perihal nomor telepon atau akun jejaring sosial miliknya. Namun kuurungkan. Rasa malu sebagai seorang perempuan desa masih kumiliki, meski telah lama tinggal di negara yang menganggap emansipasi adalah hak setiap perempuan. Kembali, aku harus menyimpan rasa rindu untuknya.

Hingga dua minggu yang lalu, sebuah kabar tentangnya memupus harapanku. Aku mengetahuinya saat menelepon ke rumah.

”Sha, kamu mau nitip kado apa untuk Abdi?” ucap kakakku di ujung telepon.

Aku sempat bertanya dengan gurauan, ”Ngapain juga nitip kado untuk dia. Bukankah ulang tahunnya masih dua bulan lagi? Toh, Kak Abdi sudah terlalu tua untuk menerima kado.”

Namun, jawaban yang kuperoleh membuatku terpekur. ”Abdi akan menikah seminggu lagi. Kalau kamu mau nitip kado, bilang sekarang mau kasih apa. Besok aku akan mengantar Ibu ke pasar besar.”

Lidahku kelu. Aku tak mampu bersuara.

”Halo, Sha. Kamu masih di situ?” Suara kakak menyadarkanku.

”Eh…iya. Ehhmm…iya aku nitip kado untuknya. Terserah mau dibelikan kado apa saja. Oh ya, Kak, aku pamit dulu. Ada tugas yang harus kuselesaikan. Salam buat Ibu dan adik-adik, ya!” Kututup telepon setelah ucapan salam terucap. Ia akan menikah? Dengan siapa? Apakah gadis pilihannya? Apakah ia mencintai gadis itu? Lalu, apa arti penantianku selama ini? Apakah hanya aku yang memiliki rasa itu? Dan, ia sama sekali tak pernah menyukaiku? Tak sedikit pun melihatku sebagai sosok wanita yang ia inginkan untuk mengarungi bahtera kehidupan bersamanya? Berjuta tanya berlompatan dalam batok kepalaku.

Tiga hari menjelang hari bahagianya, sebuah panggilan tak terjawab dari nomor tak kukenal terpampang di layar ponsel. Saat kucoba menelepon kembali, bibirku terkatup rapat tak mampu berbicara. Suara yang terdengar di seberang adalah miliknya. Sepuluh tahun berlalu dan suaranya masih tetap sama, ”Assalamu’alaikum, Sha, aku tahu ini kamu. Kumohon, bicaralah!”

Aku menghela napas. Dalam hitungan detik mencoba menahannya. Rongga dadaku terasa berat. Ingin aku berucap satu dua kata, mengiyakan jika aku yang meneleponnya. Namun, otakku sama sekali tak mau bekerja sama. Dan suara miliknya kembali menyapa gendang telingaku.

”Sha, tadi sengaja aku meneleponmu. Aku ingin mengatakan yang sejujurnya. Jika selama ini, aku selalu menunggumu. Menanti kepulanganmu. Satu dasawarsa lamanya kucoba menyimpan rasaku. Karena aku khawatir, jika kuungkapkan sebenar rasa yang kumiliki, hal itu akan membuyarkan konsentrasimu mencapai cita dan asamu. Kau masih ingat? Ketika jemari kita beradu saat malam panen raya sepuluh tahun yang lalu? Waktu itu, aku ingin jujur padamu. Mengatakan jika di dalam dadaku, telah terukir sebuah nama yang akan menjadi pemilik singgasana hati. Dan nama itu adalah namamu. Tetapi aku tak memiliki keberanian untuk menyatakannya. Karena kau masih sangat belia dan aku pun harus melanjutkan kuliah. Hingga detik ini, ketika semua akan menjadi bayangan dalam bilik kenangan, aku baru mengatakannya. Sungguh Sha, tak pernah ada yang bisa memasuki bilik hatiku selain dirimu. Namun, kiranya aku harus tunduk mengalah pada keinginan kedua orangtuaku. Sekuat apa pun keinginanku untuk menunggumu, tak kuasa aku menolak permintaan Ibu dan Bapak untuk membina rumah tangga dengan gadis pilihan mereka. Bakti dan tanggung jawab seorang anak lelaki kepada orangtua dan keluarga harus kutunaikan. Terimalah jika suatu saat ada lelaki yang menurutmu baik dan memintamu menjadi belahan jiwanya. Lupakan aku dan semua kenangan kita. Dan, kumohon jangan pernah membenciku,” kata-katanya berputar menghujam gendang telingaku.

Bibirku bergetar. Ingin aku berteriak melepas sejuta rasa yang menghimpit dada. Tetapi hanya isakan pelan dan airmata yang mengalir deras. Dia kembali memanggil namaku. Betapa ingin aku mengucapkan selamat dan berbahagia untuknya. Tetapi, aku tak kuasa. Lidahku kelu. Dan sambungan telepon pun terputus. Tubuhku jatuh luruh ke lantai. Aku meringkuk dalam gelap, mendekap kedua lututku erat-erat dan menangis tergugu.

 

Semalaman kubiarkan tangis memelukku dalam setiap buliran kristal yang turun membasahi pipi. Melarung semua asa dan harapan yang terpendam selama satu dasawarsa oleh pengakuan 11 menit 51 detik darinya.

***

Aku masih menatap ke tujuh bintang itu. Kerlip cahayanya semakin melemah tersaput awan tipis yang melintas. Dan kubiarkan diriku larut dalam untaian nada kerinduan kepadanya. Kepada seorang lelaki yang pernah mengajarkanku tentang konstelasi bintang, tentang cinta pertama dan penantian. [Cerpen: Susana Nisa] Tabloid APakabar Plus Edisi #22/XII 2018

Catatan kaki:

Ambles (bahasa Jawa): merosot ke bawah

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner