Prime banner

“Menjadi janda itu memang tidak mudah, kalau terlihat bisa memiliki sesuatu, dikatakan nyambi, kalau tidak bisa memiliki sesuatu, disebut kuper tidak mau menikah lagi” tutur Eni Fitriana, seorang PMI Hong Kong asal RT 12 RW 02 Desa/Kecamatan Margomulyo Bojonegoro Jawa Timur Saat berbincang dengan ApakabarOnline.com.

“Masyarakat kita itu perhatian banget mas dengan janda. Tapi ya begitu, perhatiannya bikin risih dan kalau kita tidak tebal telinga tebal kesabaran, pasti kita akan tergerus gunjingan sosial. Akibatnya, menjadi anak seorang janda, itu juga terkena imbas tidak mudah itu tadi” sambungnya.

Eni Fitriana merupakan salah satu sosok PMI Hong Kong yang blak-blakan berbagi pengalaman, melewati perjalanan hidup yang sarat dengan ujian. Belum lagi, 3 orang buah hatinya menunggu Eni untuk selalu memenuhi semua kebutuhan.

Najid & Andriyani, Cinta Sejati Mantan PMI Hong Kong Asal Pacitan Dengan Pria Nepal

“Saya itu janda cerai mas. Suami saya entah kemana sekarang, saya ditinggalkan begitu saja dulu waktu masih hidup dan bekerja di Tangerang. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung bersama 3 orang anak saya, ke rumah orang tua saya” tutur Eni.

“Sampai di kampung, bahkan sampai sekarang setelah 6 tahun lamanya saya kerja di Hong Kong, suami saya maupun keluarga suami saya tak satupun yang berusaha mencari atau mendatangi saya dan ketiga anak saya ke Bojonegoro, padahal mertua saya maupun keluarga besar suami saya banyak yang tahu kampung halaman saya saat mereka mengantar pernikahan kami dulu” lanjutnya.

“Atas dasar penerlantaran itulah, akhirnya saya nekat berangkat ke Hong Kong tahun 2011. Waktu itu anak-anak saya masih kecil. Kebutuhan semakin banyak dan tidak bisa ditunda, sedangkan saya tidak punya penghasilan. Terus menerus mengandalkan orang tua kan tidak enak juga dengan saudara lainnya” katanya..

Kini, setelah 6 tahun berjalan, ketiga anak Eni yang dititipkan pada neneknyapun juga tak pernah lepas dari ujian sosial di masyarakat. Nana, anak sulung Eni yang sudah bisa merasakan sindiran masyarakat, mengaku risih juga dengan olokan sana-olokan sini tentang kehidupan dia bersama kedua adiknya dan ibunya yang jauh pergi ke Hong Kong.

“Kami bisa naik sepeda baru untuk sekolah, punya baju bagus kiriman ibu dari Hong Kong, oleh beberapa orang disindir, ibumu enaknya nduk jadi TKW aja bonus banyak banget.  Kata bonus itu lho pak yang menyakitkan. Kan sama aja nuduh ibu negatif kalau kata bonus itu diucapkan dengan sorot mata yang nakal” tutur Nana.

Namun demikian, sebagai anak tertua, Nana merasa harus tetap lurus dengan niat dan usaha keras, dimana saat ini status mereka sebagai pelajar, berprestasi dan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk belajar menjadi porsi utama ketiga anak Eni selama ini.

Pandangan miring, perlahan tertepis dengan prestasi yang berhasil diraih ketiga anak Eni. Mengagumkan memang semangat mereka untuk terus berkembang. Nana, sejak bangku sekolah dasar hingga saat ini duduk di bangku kelas 1 sebuah SMA, berhasil menunjukkan prestasinya dalam bidang bahasa Inggris, hingga dia pernah berkali-kali memenangkan debate contest dan menulis easy dalam bahasa Inggris hingga tingkat nasional.

Sedangkan Tika, anak kedua Eni, selama duduk di bangku SMP, menonjol dalam bidang aktifitas organisasi kepanduan, Pramuka. Event nasional pernah dia ikuti, bahkan saat ini sedang bersiap-siap untuk mengikuti event kepanduan pelajar di level Asia.

Anak sulung Eni, Nanda, yang saat ini sedang menjalani ujian nasional tingkat SD, pernah dua kali mengikuti event kejuaraan sempoa di Malaysia dan di Singapura. Meski pada mata pelajaran lain Nanda tidak sebagus pelajaran matematika nilainya yang selalu mendapat angka 100, tapi kelebihan Nanda dalam berhitung dan penguasaan logika matematika yang dia dalami selama 3 tahun secara formal mengikuti sempoa, buah manisnya luar biasa membuat bangga kedua kakak dan ibunya.

Tanpa Diduga, Mahasiswi Asal Hong Kong Teman Kuliah Hanif Adalah Putri Majikan Ibunya

Bagaimana Eni yang di Hong Kong mendidik anaknya sehingga mereka bisa seperti sekarang ?

Kepada ApakabarOnline.com, Eni mengaku tidak punta kiat yang muluk-muluk.

“Sederhana saja mas. Tanggung jawab dan menanamkan jiwa kepemimpinan” jawab Eni singkat.

Setelah ditelisik lebih dalam, tanggung jawab dan kepemimpinan yang dimaksudkan oleh Eni ternyata dengan mengawali dari Nana anak sulungnya harus bisa menjadi pemimpin bagi kedua adiknya, bisa memberi teladan baik bagi kedua adiknya dan bisa melindungi, mengayomi. Sedangkan sisi tanggung jawabnya, sebagai pemimpin bagi kedua adiknya, Eni secara rutin aka  mengontrol perkembangan kedua adiknya melalui Nana, disamping juga melakukan croscheck dengan kedua anaknya.

Sedangkan Tika, sebagai anak kedua, oleh Eni juga diposisikan sama seperti Nana. Menjadi pemimpin dan bertanggung jawab atas Nanda adik bungsunya.

Eni beruntung, dalam menjalankan kiat tersebut, almarhhum ibu Eni sempat menjadi pengawas utama sebelum akhirnya meninggal dunia setahun yang lalu karena sakit.

Kini, meskipun sudah tidak ada sosok nenek dalam keseharian ketiga anak Eni, di tengah perkembangan dan usianya, ketiga anak Eni telah siap untuk memulai dan menjalani hidup mandiri sesuai dengan kapasitas dan usianya.

“Termasuk dalam hal keuangan, saya juga selalu mengontrol mereka, digunakan untuk apa uangnya, sisa uangnya masih ada berapa dan dari situ saya akan menanyakan kepada mereka tentang penting atau tidaknya barang yang sudah atau akan dibeli. Dari situ, saya berharap, mereka juga belajar menggunakan uang dengan bijak. Saya tidak memanjakan mereka, ini prinsip. Saya menyayangi dan mencintai ketiga anak saya dengan kedisiplinan” pungkas Eni. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner