Prime banner

Ini curhatku tentang tahun-tahun pertama aku ”bertemu” Ramadhan di Hong Kong, negeri yang kaum muslimnya minoritas. Tentu, suasananya sangat jauh berbeda dengan Ramadhan di kampung halaman. Aku selalu teringat kenangan indah saat-saat aku sekeluarga menikmati makan sahur, walau hanya berlaukkan ikan asin dan tempe goreng. Nikmatnya sungguh tak terperi.

Apalagi, sesudahnya kami bisa shalat subuh berjamaah sebelum melakukan aktivitas keseharian. Ayah pergi ke kota, bekerja sebagai pegawai gudang di sebuah toko bangunan. Ibu menuju pabrik rokok, menjadi karyawan penglintingan tembakau. Sedangkan kami, ketiga anaknya, pergi ke sekolah masing-masing. Aku anak sulung dari tiga bersaudara.

Tahun pertama di Hong Kong, aku menikmati sahur dengan hambar. Menunya pun jauh dari layak, hanya selembar roti tanpa selai dan segelas air putih. Maklum, masih masa potongan gaji. Aku takut aktivitasku menjelang fajar itu mengganggu kenyamanan di rumah majikan.

Aku masih bersyukur sudah diizinkan berpuasa, meski dengan syarat yang menurutku mengada-ada. Pertama, aku tetap harus bekerja seperti biasa, tak boleh lamban. Kedua, bila aku sakit selama menjalankan puasa, aku harus periksa dokter dengan uang sendiri. Dan ketiga, tidak boleh shalat. Itu diucapkan Nyonya saat, tanpa sengaja, memergokiku sedang sujud di malam yang seharusnya tidur.

”Aku sudah kasih kamu izin puasa!” bentak Nyonya saat itu. ”Aku membayar kamu bukan untuk melihatmu gheido, berdoa! Cie em cie a! Mengerti, tidak?! Kamu ke sini untuk kerja…!” Lanjutnya dengan bentakan yang diiringi mata merah, menandakan Nyonya benar-benar marah.

”Ba…ba…baiklah, Nyonya. Ngo cito,” jawabku. Hatiku makin bergemuruh. Ingin melawan, takut tertekan. Ingin kabur, aku memikirkan keluarga di rumah yang menanti uluran tanganku. ”Ya Allah… Hanya pada-Mu hamba memohon pertolongan. Lindungi keluarga hamba dan sampaikan hamba pada kontrak dua tahun kerja dengan baik. Amin.”

***

Selama Ramadhan, hari demi hari kulalui dengan bentakan Nyonya. Hasil kerjaku selalu dianggap kurang. Jendela, pintu, dinding, harus kubersihkan tiap hari. Sempat aku putus asa, ingin pulang. Tapi bayangan tiada kerja yang layak di Tanah Air dan kebutuhan keluarga yang kian meningkat, membuatku berusaha bertahan. Kalau kerjaan kurang bagus di mata Nyonya, aku harus ikhlas mengulang kembali sampai dia berkata, Okelah, lei hoyi co ghei tha. Kamu bisa kerja yang lain.

Meski dalam keadaan puasa, kerjaan tak pernah surut walau sejenak. Nyonya seperti sengaja mengerjai aku, agar puasaku batal. Ada kalanya mengganggu dengan menawariku minum, buah atau es krim. Padahal ini tak pernah terjadi saat aku tidak sedang berpuasa. Sampai suatu saat, tanpa sengaja kudengar nenek yang kujaga berkata kepada Nyonya agar tidak lagi mengurus makan-tidaknya aku setiap hari.

”Biarkan saja dia tidak makan. Setidaknya malah mengurangi jatah makan kita,” ucap Nenek, tak bersahabat. So? Kunikmati apa yang ada. Aku yakin, Allah swt tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang lemah. Pasti ada hikmah di balik semuanya.

Benar saja. Belakang hari, keluarga majikan mulai melunak hatinya. Tidak rewel, meski tetap bawel. Mereka mulai menghargai pekerjaanku. Boleh istirahat saat kerjaan sudah beres. Meski begitu, aku masih ragu atas kebaikan mereka. Terus terang aku takut. Biasanya, majikan seperti itu ada maunya. Entah disuruh tambah kontrak atau malah dipecat. Makanya, aku sengaja tetap bersikap biasa. Siapa tahu mereka cuma mengetes mentalku.

***

Sikap Nyonya semakin lama semakin baik. Suatu hari, aku dikasih baju-baju bagus untuk musim dingin. Kulihat dari labelnya, tampak bermerek dan mahal harganya. Aku diselimuti keraguan dan kebimbangan.

Liko song pei lei a ? Ini buatmu.” Nadanya manis. Raguku tergantikan dengan senyuman Nyonya yang telah lama tak kunikmati dari wajah cantiknya.

Tocesai, Dhai-dhai,ucapku sambil meraih pemberiannya. Ingin segera kupakai baju ini. Warnanya kalem, pasti hangat di badan. Kuharap kebaikan Nyonya berlaku hingga kontrakku selesai.

Namun, kebaikan Nyonya ternyata tak direspons positif oleh Nenek. Sepertinya ia tak suka Nyonya terlalu baik padaku. Ada saja hal negatif yang diadukan. Dia bilang aku pemalas, kerja kurang bersih, dll. Serasa disulut api deh bila mendengar Nenek bergunjing tentang aku. Pengin rasanya menutup kuping atau pura-pura tidak dengar. Tapi lengkingan suaranya tetap menggema dalam ruang sempit.

Tak cukup itu. Nenek agaknya masih kurang puas dengan tekanan demi tekanan yang ia berikan padaku. Ia menganggapku tak terpengaruh dengan caci maki darinya. Ia terus mengadu pada Nyonya apa yang kukerjakan tiap hari. Tentu ditambah pewarna kalimat yang sinis bercampur pahit. Aku muak, tapi tetap bertahan demi sebuah harapan.

Semakin hari, kian menjadi saja kenakalan Nenek. Dia tahu aku tak makan daging babi, Nyonya pun tak memaksaku untuk memakannya. Tapi Nenek, yang biasanya acuh dengan apa yang kumakan, mulai berulah. Tiap hari ia sengaja minta menu daging itu. Entah di-steam, digoreng, atau dibuat bubur. Karena kami makan bareng, aku cuma makan nasi dan sayur. Itupun masih direcoki dengan cara makan Nenek yang suka memilah-milah sayur dalam piring. Padahal sumpit yang dipakai bekas menyumpit makanan haram itu. Aku makin mual dibuatnya.

Melihat ulah Nenek, Nyonya mengambilkan lauk terlebih dulu di tempat terpisah, agar aku bisa makan tanpa keraguan. Aku senang melihat toleransi yang ditunjukkan Nyonya padaku.

***

Alhamdulillah… Sebulan kurang tujuh hari puasaku terlewati dengan lancar, walau cobaan datang silih berganti. Ujian lahir batin selama puasa hanya kurasakan di negeri rantau ini. Termasuk juga godaan dari teman-teman satu blok yang menyarankan aku agar tidak berpuasa. ”Kita kan jauh dari Indonesia, ngapain susah-susah ibadah? Gak ada yang tahu!” Kilah mereka, mencoba membenarkan ucapannya.

Namun, jiwa ini justru makin tertantang untuk tetap berpuasa, apa pun kendalanya. Aku yakin, ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh niscaya akan menuai berkah. Godaan teman-teman justru kian memacuku untuk belajar agama agar mereka tidak lagi menyepelekan ibadah wajib ini.

Berkah itu kuperoleh dengan lancarnya aku meng-qodho puasa yang kutinggalkan selama tujuh hari selama Ramadhan dengan puasa Senin-Kamis. Lancarnya seperti apa? Penghuni rumah tidak ada lagi yang memameriku makanan di siang hari. Mereka malah menganjurkan aku memasang alarm sebelum tidur, agar bisa makan sahur. Di saat berbuka, Nenek dengan senang hati memberiku kue atau cemilan buat ta’jil.

***

Ramadhanku kedua di Hong Kong tidak lagi dianggap aneh oleh majikan dan keluarga. Mereka mendukung penuh. Mungkin mereka menganggap, dengan beribadah aku tidak akan melakukan hal-hal buruk, seperti mencuri barang, berbohong, dll. Benar juga sih pendapat nyonyaku ini. Orang yang berpuasa memang tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Panca indera juga ikut dipuasakan.

Cara pandang teman-teman satu blok juga ikut berubah. Mereka malahan ikutan menjalankan puasa dan mulai membenahi ibadahnya. Kukatakan kepada mereka, ”Beribadah itu wajib dilakukan di mana saja. Tidak hanya di kampung. Hidup dan mati kita ada dalam kehendak-Nya. Iya kalau Malaikat Izrail mau menunggu kita tiba di Tanah Air dengan sekoper dolar? Kalau tidak, amal apa yang bisa kita bawa ke akhirat?” Rupanya, kata-kata itu mujarab untuk mengajak teman-teman ikut menyemarakkan Ramadhan. Bulan suci pembawa berkah. Marhaban yaa Ramadhan…!

 

[Dituturkan Siti Maryam kepada Anna Ilham dari Apakabar Plus]

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner