Prime banner

 

Perkenalanku dengan istriku sebenarnya sudah berlangsung sejak kami sama-sama masih duduk di bangku sekolah. Dia adalah tetangga desaku yang bila berangkat pergi ke sekolah kami sering menaiki angkutan yang sama, meskipun berlainan sekolah. Hampir setiap hari, terutama saat berangkat ke sekolah kami selalu bertemu. Akibat seringnya bertemu tersebut, menumbuhkan perasaan saling menyukai diantara kami. Sampai akhirnya kami berkomitmen untuk berpacaran. Dialah cinta pertamaku, sebaliknya akulah cinta pertama dia. Meski saat itu kami masih tergolong remaja usia belasan, namun diantara kami pernah berjanji untuk saling mencintai sampai maut yang memisahkan.

Setamat sekolah tahun 1997, aku memutuskan untuk bekerja ke Malaysia. Aku tamat SMA dua tahun lebih dahulu dari pada Rini kekasihku. Tahun 1999 saat aku pulang dari Malaysia, Rini sedang menikmati pesta kelulusan sekolah. Waktu itu aku menawarkan padanya untuk menikah, lalu dia akan saya ajak bekerja ke Malaysia. Namun dia menolak, alasannya ingin cari pengalaman dulu. Hingga setamat SMA, Rini mengambil keputusan untuk berangkat bekerja ke Hong Kong. Namun, tiga tahun kemudian, pada tahun 2002 pernikahan diantara kami benar-benar terjadi. Aku dan Rini sudah menjadi sepasang suami istri yang sepenuhnya saling memiliki.

Dua minggu setelah kami menikah, Rini harus kembali lagi ke Hong Kong lantaran kontrak kerjanya masih tersisa satu tahun. Rencananya waktu itu setelah habis sisa kontrak kerja yang tinggal setahun, Rini akan pulang ke Magetan untuk selamanya. Tapi kenyataan berkata lain, kepada saya, Rini meminta pengertiannya untuk diberi ijin menambah satu kali masa kontrak agar kami bisa memiliki nilai tabungan yang cukup untuk dijadikan modal hidup rumah tangga kami. Akupun akhirnya juga mengijinkan.

Tepat pada awal tahun 2005, Rini memenuhi janjinya pulang ke kampung halaman untuk rumah tangga kami. Untuk melangsungkan keindahan rencana kehidupan yang telah kami rancang sebelumnya. Sudah barang tentu, hal pertama yang sangat aku inginkan di awal berumah tangga adalah segera memiliki anak. Sehingga, memasuki bulan ke tiga setelah kami berkumpul, aku segera membawa Rini ke dokter untuk memeriksakan kandungannya karena selama pulang aku belum mendapati Rini mengalami menstruasi. Bahagia sekali perasaanku saat itu karena aku optimis banget kalau Rini sedang hamil muda, kalau aku berhasil menebarkan benih dalam kandungannya, dan kebahagiaan yang tak terkalahkan oleh yang lainnya tentu saja karena sebentar lagi aku akan menjadi bapak dari anak yang sedang dikandung istriku.

Seusai dokter memeriksa, dengan senyum bahagia, dokter mengatakan bahwa istri saya positif hamil. Usia kandungannya sudah genap lima bulan. Mendengar klaim usia kandungan lima bulan aku kaget dan segera mempertegas pernyataan dokter tersebut. Namun dokter tersebut dengan yakinnya menunjukkan bukti-bukti hasil diagnosa mesin USG, berikut foto janin yang ada dalam kandungan istriku, bahwa usia kandungan istriku benar-benar lima bulan. Betapa kagetnya aku mengetahui hal ini. Bagaimana mungkin aku dan istriku baru saja berkumpul belum genap tiga bulan, kok usia kehamilan istriku sudah genap lima bulan.

Setelah aku desak, istriku akhirnya mengakui kalau selama di Hong Kong dia sering melakukan hubungan seks bebas dengan orang asing. Pantas saja dulu waktu malam pertama kami lewati, aku mendapati istriku sudah dalam keadaan bolong alias tidak perawan lagi. Ternyata keluguan dia selama kami berpacaran, bukan menjadi jaminan untuk tetap bisa menjadi wanita bermoral, atau setidaknya menjaga kehormatan waktu pergi bekerja ke Hong Kong.

Permohonan ampun yang dilakukan istriku diantara raung tangis penyesalan seraya bersujud di kedua kakikulah yang membuat aku ikhlas memaafkan dia dan tetap menerimanya sebagai istriku apa adanya. Termasuk janin yang ada dalam kandungannya. Bayi dalam kandungan istriku tersebut lahir pada bulan Juli 2006 berjenis kelamin perempuan. Celakanya, setiap orang yang melihat bayi tersebut, pastilah menyangka bahwa bayi itu merupakan keturunan orang bule alias eropa lantara ciri-ciri fisik yang dia miliki. Dan Rinipun juga mengakui bahwa memang benar yang menanam benih dalam kandungannya adalah seorang laki-laki berkewarganegaraan Prancis yang dia kenal di sebuah club disko di kawasan Wan Chai Hong Kong.

Resiko dari ketulusanku menerima istriku berikut bayi itu apa adanya adalah harus tabah dan kuat menanggung rasa malu terhadap siapapun. Alhamdulilah, perlahan-lahan aku bisa menerima dengan setulus hati bayi yang saat ini usianya sudah genap empat tahun. Setahun setelah istriku melahirkan, dia berpamitan lagi akan kembali bekerja ke Hong Kong agar kami bisa memiliki rumah sendiri, agar kami tidak tinggal menjadi satu dengan orangtua. Aku bisa menerima alasan itu, meskipun saat itu sebenarnya kepercayaanku pada Rini istriku sudah tidak bisa penuh. Akal sehatku mengatakan tidak apa-apa Rini kembali bekerja ke Hong Kong, namun hati kecilku menyangsikan kesetiaan dia untuk tetap bisa menjaga kehormatan dan keutuhan rumah tangga kami.

Benar saja, kekhawatiranku benar-benar terjadi begitu istriku terbang ke Hong Kong. Sejak tahun 2007 hingga sekarang, kecuali mengabarkan bahwa dirinya sudah tiba di Hong Kong, sudah nyampe rumah majikan di hari pertama dia bekerja, sampai sekarang kabar itu sudah tidak pernah ada lagi. Aku benar-benar lelah menunggunya, aku pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Kalau memang istriku tidak akan kembali pulang untukku, aku rela. Biarlah sekarang dan seterusnya aku hidup dengan Dini saja. Anak yang dilahirkan istriku dari hasil hubungan gelapnya dengan bule, anak yang secara administratif menjadi anak kandungku meskipun secara biologis bukan anakku.

Kepada para perempuan Indonesia yang sekarang bekerja di Hong Kong dan membaca tulisan ini, aku mengingatkan pada kalian semua, pandai-pandailah menjaga kehormatan dirimu. Bagaimana orang lain akan menghormatimu jika terhadap diri sendiri saja kalian tidak bisa menjaganya. Ingat Tuhan. Pergaulan bebas itu termasuk kategori perbuatan zina. Zina itu benar-benar perbuatan tercela lantaran hanya layak dilakukan oleh binatang yang tidak meliliki adab. Kalau terjadi sesuatu yang menanggung malu bukan cuma anda, tapi semua sanak saudara juga ikut tercoreng mukanya. [seperti dituturkan TY kepada Asa dari Apakabar Indonesia]

 

*artikel ini pernah di muat di Kolom Curhat Tabloid Apakabar Indonesia Edisi bulan Februari 2012

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner