Prime banner

SRAGEN – “Awalnya saya berusaha mencari Marini, sebab bagaimanapun juga, sebagai suami, saya khawatir tiba-tiba istri saya menghilang tanpa ada kabar beritanya. Tapi, setelah tiga tahun saya mencari, melalui beberapa tetangga dan teman, saya menemukan kabar istri saya yang diluar dugaan saya. Seperti dalam foto ini, bisa nebak sendiri kan ? “ papar Jaelani saat mengawali percakapan dengan ApakabarOnline.com

Jaelani, warga Desa/Kecamatan Miri Kabupaten Sragen Jawa Tengah ini merupakan seorang mantan pekerja migran Malaysia yang terpaksa dipulangkan karena mengalami kecelaakaan saat bekerja di sebuah proyek bangunan.  Saat dipulangkan, kondisi Jaelani yang mengalami patah tulang kaki masih menggunakan kursi roda. Kepulangan Jaelani, tentu membuat kaget keluarga. Demikian pula dengan istrinya, Marini yang saat itu telah bekerja di Hong Kong.

“Oktober tahun 2009, adalah bulan dimana saya meninggalkan Malaysia. Juga bulan dimana saya bertemu terakhir terakhir kalinya sampai sekarang dengan istri saya. Setelah itu, tidak pernah ada kabarnya, sampai 3 tahun kemudian, akhir tahun 2012, saya mendengar dan menemukan kembali kabarnya” tutur Jaelani.

Bukan hanya dengan Jaelani, dengan kedua orang tuanya dan dengan kedua anaknya, Marini juga sama sekali tidak pernah berkomunikasi sejak tahun 2009 hingga sekarang. Padahal, Jaelani tinggal di rumah orang tua Marini lantaran Jaelani tidak tega meninggalkan mereka.

Jaelani menduga, pertemuan itulah yang membuat Marini seolah melarikan diri dari Jaelani. Pasalnya, saat mengalami kecelakaan kerja di Malaysia, Jaelani bukan saja mengalami patah tulang kaki saja, saat bertemu istrinya, Jaelani dan Marini baru menyadari dan mengetahui, bahwa Jaelani juga kehilangan fungsi seksualnya. Kecelakaan kerja itu membuat Jaelani mengalami impotensi.

“Mereka itu sudah seperti orang tua saya sendiri. Kalau saya egois, tentu saat ini saya memilih untuk pulang ke Blora. Tapi saya tidak tega, mertua saya kena stroke, tidak bisa jalan, harus pake pampers, kalau mandi harus dimandikan, makan harus disuapi” tutur Jaelani.

Setahun pertama Jaelani berada di kampung halaman, kondisi Jaelani sempat terpuruk dengan ketiadaan pemasukan keuangan. Awalnya dia berharap kiriman dari istrinya lantaran kondisi Jaelani memang dalam keadaan tidak bisa bekerja. Setidaknya, waktu itu dia berharap bisa membelikan susu untuk kedua anaknya. Disaat kondisi yang serba tidak pasti, akhirnya Jaelani nekat, begitu bisa berjalan mengendarai motor kembali, dia meminjam uang pada salah seorang kerabatnya untuk modal usaha.

“Saya dulu ngutang 15 juta tahun 2011. Saya gunakan untuk beli motor bekas ini, modal belanja mracangan dagangan saya ini dan untuk cadangan kebutuhan sehari-hari, sebab waktu itu mertua saya jatuh sakit. Kena stroke, tekanan darahnya sering naik, memikirkan Marini yang tidak ada kabarnya” tutur Jaelani.

Jaelani menjadi tulang punggung kedua anaknya dan mertua perempuannya sebab Marini merupakan anak semata wayang mertuanya. Dua bulan menjalankan usaha ngobrog, Jaelani diuji dengan kondisi fisiknya. Bekas cidera patah tulang kaki saat bekerja di Malaysia belum sempurna, pin yang dipasang di kakinya belum dilepas sebab tidak punya biaya, akibatnya kaki Jaelani bengkak dan tidak bisa berdiri apalagi berjalan atau mengendarai motor untuk berjualan.

“Saya benar-benar bingung saat itu, setiap hari kebutuhan terus menuntut untuk dipenuhi. Mulai dari biaya anak-anak saya, biaya mertua saya yang sedang sakit” imbuhnya.

Seperti mendapat ilham, tiba-tiba Jaelani mendengar pengalaman seorang tetangga yang pernah mengalami hal serupa, bisa sembuh dengan berobat ke pengobatan alternatif sangkal putung. Upaya Jaelanipun dikabulkan, 3 bulan menjalani terapi, kondisi kakinya sehat kembali. Bukan hanya itu, gangguan impotensi yang dia alami, bisa sembuh kembali seperti sedia kala. Hal ini dia akui dari saat setiap bangun tidur pagi, Jaelani mengalami ereksi. Belum yakin dengan temuannya, Jaelani pernah memeriksakan diri ke dokter, dan dokterpun menyatakan fungsi seksual Jaelani secara medis telah normal.

“Dokter bilang, dulu bisa ppengaruh obat yang saya konsumsi, bisa pengaruh syaraf, dan bisa pula pengaruh kondisi psikis. Namun, saat diperiksa, sudah normal kembali” akunya.

Sembuh dari cidera, ujian Jaelani belum berakhir. Ketiadaan kabar istrinya sangat mengganggu hari-hari Jaelani. Perasaan was-was, takut dan bayangan-bayangan buruk menganggu aktifitasnya sehari-hari. Namun demikian, meskipun pikiran dan batinnya sangat terbebani, Jaelani tetap berusaha tegar dan tersenyum didepan kedua anak dan mertuanya.

“Puasa Senin Kamis dan sholat tahajud selalu saya lakukan. Sampai setahun kemudian, pada pertengahan tahun 2013, saya diberitahu beberapa teman di Hong Kong perihal kondisi istri saya” akunya.

Teman di Hong Kong mengabarkan, kondisi Marini telah jauh terperosok dalam gemerlapnya kebebasan dan pesta. Sebuah foto dikirimkan sebagai bukti. Bahkan saat seorang teman tetangga kecamatan pulang, membawakan rekaman video, bagaimana ulah Marini di Hong Kong saat itu.

Menghela nafas panjang, Jaelani lakukan sebagai upaya untuk tetap bisa mengendalikan diri dan pikiran. Bagaimana tidak, Jaelani mendapati kenyataan, istrinya telah mengkhianati bukan saja rumah tangganya, tapi juga kepercayaan orang tua dan kedua anaknya untuk bisa menjadi tauladan ibu yang sholihah.

“Istri saya bergaul bebas dengan bule-bule, minum alkohol, merokok. Masyaallah, pokoknya bejat mas” aku Jaelani.

Entah apa penyebabnya, sampai saat ini Jaelani tidak pernah mengerti, kenapa istrinya bisa sampai terperosok dalam lembah nista.  Yang Jaelani lakukan setelah mengetahui kondisi istrinya adalah berusaha menghubungi untuk mengingatkan. Namun istrinya selalu menghindar dan pura-pura tidak kenal saat ditelpon oleh Jaelani.

“Menyakitkan sekali mas, dibegitukan. Saya gupuh mencari tahu kabarnya bukan pamrih untuk mengeruk keuntungan atau menggantungkan kehidupan, tapi saya gupuh mencari karena saya merasa sebagai suami, jadi saya harus bertanggung jawab. Kalau karena waktu itu anu saya tidak bisa bangun waktu mengajak berhubungan suami istri, masa sepicik itu dijadikan alasan, lha wong saat dia pulang terakhir ketemu saya, kaki saya dalam kondisi di perban pake gip, jalan pake tongkat, wajar kan mas kalo anu saya ini tidak bisa bangun ?” tegas Jaelani.

Dua tahun terus ditolak istrinya, tidak diakui dan pura-pura tidak mengenali, akhirnya Jaelani pasrah. Hanya doa yang bisa dia panjatkan, disela-sela berdagang obrog berkeliling kawasan Miri. Alhamdulilah, dengan penghasilan bersih rata-rata 200-an ribu setiap hari, dissamping bisa memenuhi kebutuhan kedua anaknya secara layak, Jaelani juga bisa memenuhi kebutuhan ibu mertuanya, yang adalah ibu kandung istrinya Marini yang saat ini dalam kondisi tidak berdaya karena stroke.

“Saya sudah tidak berharap mas. Mau pulang ya terserah, mau terus melacur dengan bule juga terserah. Yang penting saya menjaga kedua anak saya agar jangan sampai kebacut seperti ibunya, menjaga mertua saya sampai akhir hayatnya. Meskipun saya hanya bakul obrog, tapi saya bertekad ingin menyekolahkan anak saya setinggi-tingginya, semoga mereka berdua menjadi sarjana. Gusti Allah mboten sare, semua pasti ada balasannya.” ucap Jaelani dengan penuh keyakinan.

Melalui ApakabarOnline.com, Jaelani menitipkan pesan :

Untuk Marini, kalau kamu membaca  berita ini, aku berharap kamu mau ingat dengan kedua anak kita dan ibu kandungmu yang sejak tahun 2012 hingga saat ini menjadi kembang amben karena menderita stroke. Jangan siksa dan jangan menambah penderitaan batin ibu. Setiap hari aku yang mengurusi ibu, menyuapi ibu, mencucikan bajunya ibu, mengganti pampersnya ibu, memasak untuk kedua anak kita. Mereka mengharap, kamu bisa memenuhi kebutuhan batin mereka yang sampai saat in i telah kamu abaikan.

Saya tidak mengharap kamu menjadi istriku lagi, sebab dengan akhlakmu di Hong Kong selama ini, Allah sudah menunjukkan kepadaku siapa dan bagaimana kamu.

Kepada seluruh TKW di Hong Kong dan dimana saja, terutama yang sudah berkeluarga, tolong jaga keutuhan keluarga kalian. Kalian bisa bekerja keluar negeri itu juga ada doa dan dukungan keluarga. Jangan sampai kalian menyediakan diri untuk tenggelam dalam maksiat seperti istri saya

Saat ini, kedua anak Jaelani dengan Marini sudah berusia 15 dan 12 tahun. Yang Sulung sedang mempersiapkan diri menghadapi kelulusan SMP sedangkan yang Bungsu sebentar lagi masuk SMP. Kedua anak mereka perempuan semua.  [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner