Prime banner

Di lini masa sebuah jejaring media sosial, ramai dibicarakan upaya seorang perempuan, calon ibu yang sedang hamil, seorang dokter pula, yang memposting bukti-bukti sementara adanya perselingkuhan antara suaminya dengan seorang perempuan. Dari capture beberapa percakapan langsung antara dirinya dengan si wanita, hingga foto dan video kebersamaan suaminya dengan perempuan selingkuhannya diposting dalam kronologi yang menunjukkan indikasi yang mengarah ke satu tindakan perselingkuhan.

Seperti yang sudah dapat diduga, para netizen menanggapi, mulai dari orang-orang yang mengenal ketiganya, bahkan dari orang-orang yang sama sekali tak mengenal mereka. Sebagian besar bernada dukungan demi dukungan diberikan kepada istri disertai hujatan-hujatan kepada si suami dan perempuan yang menjadi tertuduh sebagai ‘orang ketiga’. Pelakor, demikian sebuah sebutan beberapa kali ditujukan kepada si ‘orang ketiga’. Apa itu pelakor? Bagaimana awal kemunculannya?

Pelakor ternyata adalah sebuah singkatan; ‘pengganggu laki orang’ yang sudah jelas bermakna negatif, karena laki orang berarti pasangan atau suami resmi yang dimiliki oleh perempuan lainnya. Kita garis bawahi kata ‘Pengganggu’. Dimanapun dan kapanpun serta bagi siapapun, keberadaan ‘pengganggu’ jelas merugikan atau setidaknya mengganggu kenyamanan.

Kehadirannya membuat suasana yang tenteram dan damai dalam kehidupan berubah menjadi situasi penuh kegusaran, bahkan menjadi amarah. Jadilah si Pelakor ditetapkan sebagai ‘musuh bersama’ para perempuan lainnya yang merasa terganggu rumah tangganya atau yang bersolidaritas terhadap prahara yang ditimbulkan oleh pelakor terhadap rumah tangga seorang sahabat, teman atau perempuan lain yang tidak dikenalnya sekalipun. Dalam beberapa kasus, si pelakor akan tetap membela diri dan kepentingannya sebagai seorang perempuan, karena bagaimanapun juga dia sebagai manusia, dia berhak membela diri dan martabatnya. Kenapa?

Keterlibatan Suami Sebagai Pelaku Perselingkuhan Sering Terlupakan

Dalam sebuah hubungan perselingkuhan pastilah memiliki berapa sebab-sebab yang mendasari, dan yang paling sering dilupakan justru faktor si laki-laki. Kesalahan justru sering ditimpakan kepada dua perempuan. Perempuan pertama adalah istri, dituduh tak becus mengurus dan melayani suami. Perempuan kedua adalah pelakor atau si pengganggu, dia akan dihujat tak punya etika, martabat dan harga diri, juga empati serta telah merebut kebahagiaan perempuan yang lain. Lalu, dimana posisi laki-laki yang jelas ikut andil telah melukai kesakralan pernikahan dalam nilai kesetiaan?

Laki-laki seringkali diposisikan sebagai trophy atau ‘sumber kebahagiaan’ yang diperebutkan oleh perempuan. Siapa penjahatnya, siapa korbannya, menjadi bias sejak di awal terbukanya sebuah kasus perselingkuhan. Kesalahan perselingkuhan sejak dulu sering dibebankan pada perempuan. Namun setidaknya dari berbagai kasus perselingkuhan dengan adanya kehadiran ‘pelakor’ dalam sebuah rumah tangga, asal-muasalnya bisa berawal sejak lama terjadi, yakni:

 

  1. Nakalnya Laki-Laki Dianggap Wajar

‘Kenakalan’ seorang laki -laki sudah diwajarkan sejak mereka kecil dan diterima oleh lingkungan. Anak laki-laki yang tidak nakal bukanlah laki-laki, demikian pandangan yang sudah membudaya dalam hampir semua keluarga. Selain itu ada beberapa pasangan selingkuh yang justru menganggap wajar apa yang mereka lakukan, karena selain menuruti kata hati, mereka percaya perselingkuhan yang terjadi adalah takdir Tuhan. Bahkan mereka akan mempertanyakan balik ketaksempurnaan atau ketiadaan peran pasangan sehingga mereka berdua sepakat saling mengisi ‘kekosongan’.

 

  1. Turuti Kata Hati Bukan Kata Orang Lain

Keyakinan ini di satu sisi menjadi satu kekuatan bagi seseorang yang membutuhkan kepercayaan diri, namun dilain sisi bisa menjadi dasar perbuatan nekat yang kemudian menimbulkan kerugian bagi orang lain, bahkan banyak pihak dalam kurun waktu yang lama bahkan abadi sifatnya. Kenapa hanya hati yang dituruti, jika tahu hati bisa berubah-ubah dalam hitungan sesaat? Kenapa bukan logika? Atau kenapa bukan ajaran etika, kesusilaan dan agama tentang pergaulan antar manusia? Atau setidaknya berkonsultasilah dulu kepada empati, sebelum turuti kata hati?

 

  1. Melankolisme Media dan Romantika Kisah Maya

Tak bisa dipungkiri, peran media baik audio, visual maupun gabungan keduanya dalam mempengaruhi pola sikap dan perilaku manusia memang sebegitu kuatnya. Film India, Telenovela Korea dan Sinetron Cinta a la Indoensia, atau Romantika Film Hollywood Amerika telah menjadi bagian dari pembentuk jiwa, pewarna ras dan panduan etika pemuda-pemudi kita sejak mereka remaja bahkan balita. Sederhana saja melihat buktinya, idola mereka kebanyakan adalah para pelakon sandiwara atau tukang tarik suara dalam lagu-lagu cinta. Ya kan?

Perselingkuhan akan selalu muncul dan semakin banyak jumlahnya dari masa ke masa, hanya masalah waktu dan kesempatan yang tersedia. Karena semua bahan dasar pembuatnya sudah ada di antara kita dan ‘bumbu-bumbu penyedap’ serta ‘obat perangsang’nya semakin banyak jenis dan ragamnya. Pun janganlah heran jika pelakor akan terus bermunculan karena seperti keyakinan yang mereka miliki, ini semua sudah jalan yang harus dilalui, dihadapi dan diterima oleh setiap orang, bak para penjahat yang justru menyalahkan polisi bahkan korbannya yang telah memberikan kesempatan dan peluang untuk mencuri sembari menyalahkan juga kondisi kekurangan pada dirinya yang membuatnya terpaksa mencuri.

Wow, lalu apa kata dunia?

Selalu ada seribu satu alasan untuk bertindak jahat, namun cukup satu alasan sederhana saja untuk senantiasa selalu berbuat baik, yakni: EMPATI. Jangan mencubit, jika tak ingin dicubit. Nampaknya inipun akan semakin gampang-gampang sulit. [Yasin BM]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner