Prime banner

MADIUN – Kepergian yang tak terduga, membuat keluarga Titik Katinengsih syock dan histeris setiap terbayang peristiwa maut yang merenggut nyawanya. Terlebih lagi, saat suara sirine mobil jenazah yang membawa almarhumah terdengar sudah mendekati rumah duka, seperti menjadi komando, jerit tangis kembali terdengar bersahutan, sebagaimana seperti saat mereka kali pertama mendengar kabar, Titik Katinengsih telah tiada.

Jumat (27/10) siang, saat jenazah pahlawan devisa yang meninggal lantaran menjadi korban kecelakaan maut di Penang Malaysia ini tiba di rumah duka, kedua oorang tua dan suami almarhumah tampaak tak mampu menguasai dirinya. Terutama Roni, suami Titik, yang begitu peti jenazah dikeluarkan dari ambulan, tangisnya tak mampu dia tahan, sembari memeluk peti yang akan dibawa masuk ke dalam rumah.

Begini Ungkapan Keluarga Titik Katinengsih, BMI Madiun Yang Menjadi Korban Meninggal Dalam Kecelakaan Maut Di Penang Malaysia

Roni menjerit Histeris, mendapati istri tercinta yang pulang dalam kondisi tak bernyawa. Beeberapa kali Roni sempat jatuh tak sadarkan diri hingga membuat beberapa keluarga memapah dan menenangkannya. Roni, diusianya yang masih 25 tahun, harus menyandang predikat duda, tanpa pernah dia sangka sebelumnya.

Jenazah Titik diterbangkan dari Malaysia dan sampai di Bandara Adisucipto Yogyakarta sekitar pukul 06.40 WIB. Jenazah Titik diantarkan perwakilan BP3TKI Yogyakarta, staf Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia, Bantuan Hukum Indonesia dari Kementerian Luar Negeri, dan PT Adila Frescy Farindo Duta cabang Yogyakarta.

Adik Titik, Andi Saputro, 19, terus bersedih dan meneteskan air mata. Orang-orang di sekitarnya juga tampak mencoba menenangkan Andi yang telah kehilangan kakak semata wayangnya itu.

Ayah Titik, Marimun, mengaku tidak menyangka anaknya itu meninggal dunia di usia yang masih muda. Meski demikian, Marimun telah mengikhlaskan kepergian anaknya itu.

“Saya sangat sedih. Saya sudah mengikhlaskannya, ini kan musibah,” ucapnya.

Marimun menuturkan Titik merupakan anak yang baik dan rajin bekerja. Titik mengenyam pendidikan terakhir di SMK Bhakti Mejayan.

Sebelum menikah, Titik sempat menjadi TKI di Malaysia selama empat tahun. Setelah menikah, Titik tidak lagi menjadi TKI. Namun, sebulan yang lalu Titik kembali bekerja di Malaysia.

“Saya menasihati supaya tidak usah pergi ke Malaysia. Soalnya dia kan masih punya anak kecil. Namanya Naira Mauzara,” jelas dia.

Namun, tekad Titik begitu kuat itu sehingga nekat pergi ke Malaysia. Tujuannya memperbaiki perekonomian keluarga. Selama ini, suaminya yang juga menjadi buruh di Malaysia belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan hidup dia dan anaknya.

Titik bekerja di Malaysia juga dengan tujuan supaya lebih dekat dengan suaminya yang telah lebih dahulu bekerja di sana. [Asa/Foto-JPNN]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner