Prime banner

SURABAYA – Sebuah cerita lika liku pekerja migran Indonesia, membuat audien yang menyimak sampai menitikkan air mata. Banyak rona dan warna menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika seseorang memutuskan menjadi pekerja migran.

Hal ini terungkap di depan forum Sidang Pleno VIII Tanwir I Aisyiyah yang berlangsung mulai hari ini di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), saat Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Taiwan, Lilis Setyowati, menyampaikan paparan kegiatan dakwahnya di Taiwan.

“Tantangan yang paling berat bagi kami adalah larangan melaksanakan kewajiban shalat.” Terang Lilis.

Lilis pun harus terhenti sejenak saat berpidato karena dia tidak kuasa menahan tetesan air matanya.

“Kami bisa melakukan banyak hal meskipun usia cabang kami relatif masih muda. Akan tetapi tantangan yang terberat buat kami adalah larangan melaksanakan kewajiban shalat oleh laopan (majikan) bagi para TKW,” jelas Lilis.

Perempuan yang sedang tugas belajar di Taiwan itu menegaskan, tidak ada tantangan yang paling berat selain larangan shalat.

”Coba bayangkan karena keinginan untuk melaksanakan kewajiban itu ada anggota kami yang melakukan shalat di toilet,” ujarnya dengan terbata-bata.

Pada awak media,  Lilis, mengatakan bahwa di Taiwan semua majikan memelihara anjing dan babi.

“Setiap hari semua pembantu harus memandikan binatang-binatang itu,” imbuhnya.

Untuk menolong mereka, ujarnya, kami memberikan siraman ruhani online melalui TV dan radio. “Ada jadwal juga bertemu. Biasanya dilakukan pada malam hari,

” kata Lilis yang menjelaskan juga tidak sedikit para TKW itu mengaji sambil merawat kakek-nenek yang sakit.

Menurutnya, PCIA Taiwan anggotanya terdiri dari kalangan mahasiswa dan tenaga kerja wanita (TKW) atau yang sekarang disebut pekerja migran Indonesia (PMI) wanita.

“Gerakannya terbagi di tiga wilayah Taipe, Tainan Taiwan Selatan dan Taichung Taiwan Utara,” ujarnya. [Asa/Uzlifah]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner