Prime banner

Sebuah pertanyaan “Pilih stay In (tinggaal ikut majikan) atau Stay out (tinggal diluar tidak ikut majikan)? “  dua hari yang lalu disebar di kalangan BMI Hong Kong. Sampai dengan Hari Minggu, 08 September 2017 pukul 16:00 WIB, terhitung ada 1.327 BMI yang memberikan jawaban. Dengan menggunakan metodologi sederhana, dengan mudah bisa dipilah berapa BMI yang menjawab setuju stay in, dan berapa BMI yang menjawab setuju stay out.

Dari 1.327 BMI yang memberikan jawaban, diketahui ada 138 BMI yang memilih stay out alias tinggal diluar, tidak ikut majikan. Dan sisanya, 1.189 BMI menyetujui stay in alias tinggal bersama majikan. Tidak semua dari 1.327 BMI yang menyatakan pilihan, memberikan alasan. Hanya 876 dari mereka yang memberikaan alasan atas pilihannya.

Demonstran : Akhiri Keharusan Stay In, Imigrasi : Tetap Stay in Demi Pengawasan

138 BMI yaang memilih stay out, 73 ari merekaa memberikan alasan beragam. Namun pada intinya, mereka memilih stay out lantaran merasa, selama tinggal di rumah majikan merasa tidak nyaman. Fasilitas yang terkait dengan hak, jam kerja hingga sikap dan perilaku majikan yang menjadi alasan mereka untuk memilih stay out.

Sedangkan dari 1.189 BMI yang menyetujui stay in,  837 dari mereka mengemukakan alasan yang beragam pula. Faktor hubungan baik dengan majikan, ini menjadi alasan paling banyak yang dikemukakan. Ada 431 BMI mengemukakan mereka memilih stay in lantaran hubungan dengan majikannya sangat baik seperti keluarga sendiri. Sedangkan sisanya, 406 BMI menyebut alasan ekonomi dan keamanan menjadi dasar mereka memutuskan untuk tetap memilih stay in.

Apakabar menemukan dua BMI yang tetap memilih stay in meskipun mereka juga mengemukakan kondisi yang sebenarnya membuat tidak betah stay in. Ungkapan mereka humanis sekali. Satu dari mereka menyebut, tidak tega meninggalkan nenek yang dia tangani.

“Bagaimana saya mau stay out ?, lha wong liburan saja, nenek saya sering saya ajak kemana-mana. Saya tidak tega dengan nenek, meskipun sebenarnya majikan saya galak dan pelitnya minta ampun. Tempat tidur saya hanya di ruang tamu.” terang responden berinisial G.

Refleksi: Masih Pilih Overstay dan “Paperan”?

Responden berinisial K memiliki ungkapan yang hampir sama.

“Kalau saya stay out, kasihan Anak majikan saya. 2 anak majikan saya pernah sampai mogok makan, mogok sekolah, gara-gara saya tinggal cuti ke Indonesia. Mereka berdua, setiap malam tidak mau tidur dengan kedua orang tuanya, mereka tidurnya sama saya, minta kelon, minta dielus-elus dulu” tutur K.

Temans.. stay out maupun stay in, semua ada kurang dan lebihnya. Dari 1.327 responden yang memberikan jawaban, menampakkan situasi dan kondisi menjadi pertimbangan bagi BMI untuk memilik stay in atau stay out.

Dalam sudut pandang kualitatif, perbedaan angka bukan menjadi ukuran yang harus memenangkan yang berjumlah besar atau mengalahkan yang berjumlah kecil. Pendekatan kualitatif, cenderung mengakomodir seluruh kepentingan.

Stay In vs Stay Out, mau pilih mana  ? Jawabannya tetap ada ditangan anda, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner