Suwarni alias Tiwok
Prime banner

 

 

“Nggih nyuwun tulung to mas, kulo niku kelangan anak pun lawas banget mboten kantenan jluntrunge.Nek pancen takseh gesang, panggenane wonten pundit, nek pancen sampun pejah, kuburane nggeh wonten pundit. Setunggal setunggale anak kulo nggeh namung niki mas.” tutur Parti saat membuka percakapan dengan Apakabar+.

 

SONY DSC
Keluarga Suwarni

 

 

Parti merupakan ibu dari Suwarni alias Tiwok PMI Hong Kong asal Kecamatan Wungu Madiun yang sejak tahun 2003 tidak ada kabarnya. Menurut penuturan keluarga, Suwarni pertama kali pergi ke Hong Kong pada tahun 1996 melalui PT Surya Pasific Jaya, dan hanya bertahan kurang dari dua tahun kemudian pada tahun 1998 dia pulang ke kampung halaman selama hampir sebulan lamanya saat mendapat kabar Untung sang suami meninggal dunia saat dalam perjalanan membelikan susu Dita anaknya. Selama 2 tahun pertama bekerja di Hong Kong, Suwarni tidak pernah mengirimkan sama sekali hasil kerjanya lantaran menurut penuturan keluarganya, Suwarni tersandung masalah dan sampai harus berganti agen dan majikan di Hong Kong. Di Indonesia, Suwarni juga diancam oleh pihak PPTKIS untuk mengganti sejumlah uang lantaran dia tidak bisa finish kontrak kerjanya.

Belum genap setahun Suwarni menjanda, dia menikah lagi dengan seorang warga Pare Kediri kemudian dikaruaniai seorang anak perempuan dari hasil perkawinan tersebut. Saat anak hasil perkawinannya dengan warga Pare masih berusia 7 bulan, Suwarni kembali berangkat bekerja ke Hong Kong pada awal tahun 2000 dengan status sebagai istri warga Pare.

“Berangkat yang kedua ini Suwarni masih berkomunikasi. Beberapa kali dia nelpon ke rumah saya, bahkan pernah sekali mengirim uang sebesar 600 ribu rupiah dan oleh neneknya Dita dibelikan sepeda karena Dita sudah waktunya sekolah SD.” Terang Mbak Yayuk tetangga sekaligus ibu yang mengasuh Dita sejak kecil.

Namun sejak tahun 2003 hingga sekarang, Suwarni hilang bak ditelan bumi. Bahkan pernah beberapa kali suami Suwarni yang di Pare Kediri datang ke Madiun menanyakan perkembangan kabar Suwarni. Lantaran Suwarni sama sekali tidak pernah mengirim kabar, keluarga di Madiunpun tidak bisa memberikan kabar apa-apa perihal Suwarni.

Kedua anak Suwarni kini telah tumbuh menjadi gadis remaja. Dita Prihatinningtyas anak pertama Suwarni yang diasuh mbak Yayuk di Madiun sudah 2 tahun tamat SMA. Sedangkan Regita anak kedua Suwarni yang hidup dan besar di Kediri saat ini sudah masuk di kelas 1 SMA. Baik Dita maupun Regita sama-sama mengharap kabar dan kepulangan ibunda. Sewajarnya sebagai seorang anak, mereka menginginkan pelukan erat kasih sayang seorang bunda yang hingga saat ini belum pernah mereka rasakan, terutama bagi Regita.

Di Usianya yang semakin renta, Parti yang kini hidup seorang diri menempati sebuah bangunan sederhana yang menumpang diatas lahan negara juga memiliki harapan yang sama. Sebagai ibu, tentu kabar baik anak semata wayangnya akan menjadi pelipur lara yang khasiatnya melebihi obat apapun.

Dari pinggiran areal persawahan perbukitan hutan jati kawasan RT 15 RW 4 Dusun Lingkungan Doragan, Desa Munggut, Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur, melalui Apakabar+, keluarga besar Suwarni berharap semoga dengan diangkatnya tulisan ini, Suwarni yang telah 13 tahun tidak diketahui dimana rimbanya bisa diketemukan dan kembali di tengah tengah keluarga di Madiun.

 

SONY DSC
Parti Ibunda Suwarni

 

 

 

 

Parti Ibunda Suwarni :

“Seprono seprene kowe kok ora ono kabare to nduukk Tiwookk. Ngelingono anakmu to, ngelingono mbokmu. Uripe neng Mediun kiy koyo ngene, mbendino ayang-ayangen kowe terus wook. Sawangen piye mbokmu, anakmu mbendino nek golek pangan, rungokno piye nelongsone atine mbokmu, atine anakmu mbendino sampe kuru isone mung ayang ayangen kowe wook.

Anakmu saiki wis gede. Sing Dita uripe ngenger uwong amergo aku ora kuat nyekolahne. Tapi ya syukur Alhamdulilah anakmu sing Dita iso keturutan kelakon sekolah sampe lulus SMA.

Kelakuanmu iku gawe mbokmu tong tongen nganti saiki. Wingenane Dita pernah nembung pamitan aku arep kerjo nang Hong Kong, nanging aku langsung ora ngidini. Aku ngomong yen Dita arep kerjo menyang Hong Kong, aku njaluk ditukokne obat tikus disek tak mombene ben aku mati.

Mulio top nduk, mulio. Dadi uwong iku pikirane ojo cekak ngunu kuwi. Dadi uwong iku pikirane sing dowo. Kabeh kiy dipretungne sing dowo, ben ora mbesuk getun mburi.

Nek misale aku sewaktu-waktu mati, kowe opo ora getun muleh wis ora nemoni aku maneh ? Kowe opo ora mesakne Dita banjur arep urip karo sopo nek aku mati ? Aku kiy wis tuwek nduk, ngelingono to, naliko aku nduwe anak kowe kuwi umurku wis tuwek, nek saiki umurmu wis 39, umurku saiki wis 70 luweh.

 

 

Dita Prihatinningtyas
Dita Prihatinningtyas

Dita Prihatinningtyas Putri Pertama Suwarni :

Ibu, segeralah pulang. Aku sangat sedih hidup seperti ini. Aku belum pernah bisa mengingat wajah, suara dan bentuknya ibu itu seperti apa. Apa ibu tidak ingin melihat aku ?

Dita sekarang sudah besar, alhamdulilah bu Yayuk tetangga kita berkenan mengasuh, membiayai dan membesarkan Dita sebagaimana anak beliau sendiri sampai sekarang Dita bisa menyenyam pendidikan hingga jenjang SMA. Dita sekarang sudah kerja.

Kepana ibu kok memilih tidak pernah pulang ? Atau kenapa kok ibu memilih tidak pernah memberi kabar ?

Ketiadaan kabar ibu ini sampai membuat nenek trauma. Saat Dita ingin pergi kerja ke Hong Kong, nenek menolak keras, nenek sangat khawatir nanti Dita akan hilang seperti ibu sedangkan bagi nenek, Dita adalah satu-satunya orang yang menjadi sandaran hidup nenek selama ini. Pulanglah bu, beri kami semua kebahagiaan dan ketenangan batin. Bukan dengan materi, tapi dengan kehadiran dan sikap ibu pada kami.

 

Mbak Yayuk
Mbak Yayuk

Mbak Yayuk, Ibu Asuh Dita anak Suwarni :

Wok, piye to kabarmu itu sebenarnya ? Kok sejak tahun 2003 kamu nelpon ke rumahku sampe sekarang plas tidak pernah lagi ada kabarnya ? Padahal tetangga yang sama-sama kerja di Hong Kong beberapa tahun yang lalu pernah bertemu kamu di Hong Kong tapi kamu berlari menghindar saat mereka menegurmu. Kenapa wok ? Apa kamu dapat masalah ?

Alhamdulilah anakmu sekarang sudah besar, sudah bekerja, bahkan mungkin saja sebentar lagi dia juga akan berpikir akan berumah tangga. Karena anakmu itu perempuan, otomatis dia harus patuh dan akan ikut suaminya. Tolong pikirkan ya Wok nasibnya mbok Parti ibumu. Mbok parti umurnya semakin hari semakin tua membuatnya sulit untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri sehari-hari. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner