Penyet ria

CILACAP – Nurlaela (32) BMI Hong Kong asal RT 04 RW 03 Dusun Salebu Barat Desa Salebu Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang kabar meninggalnya sempat mengejutkan lantaran tidak terdengar ada kabar sakit yang beredar sebelumnya, jenazahnya telah dimakamkan di kampung halamannya Majenang Cilacap pada Rabu (22/11) kemarin setelah keluarga mendapat kabar pada 6 November kemarin.

Berdasarkan data rekam medik dalam surat pengantar yang menyertai peti jenazah almarhumah, diketahui almarhumah meninggal dunia karena menderita vertigo.

Dikutip dari Radar Banhyumas, Maria Dwi Kartin, Direktur Utama PT Mitra Sarana Internasional, PPTKIS yang memberangkatkan almarhumah ke Hong Kong pada Oktober silam membenarkan temuan tersebut.

“Diagnosa yang muncul adalah vertigo. Nurlaela sudah melaporkan keluhan kesehatan sejak 22 Oktober lalu. Hal ini juga diperkuat oleh keterangan salah satu tetangga Nurlaela yang mengetahui almarhumah sudah mengeluhkan sakit saat cuti pada ramadan lalu. Namun tetangga tidak mengetahui secara pasti penyakit apa yang diidap oleh Nurlaela.” terangnya.

“Waktu cuti pas puasa kemarin juga katanya sakit. Tapi tidak tahu sakit apa,” kata Pujianto, salah satu tetangga Nurlaela. Dia sendiri tidak pernah menanyakan penyakit itu kepada Nurlaela ataupun keluarganya di Desa Salebu. Hingga kemudian dia mendapat kabar dari keluarga kalau Nurlaela dilaporkan meninggal dunia di Hongkong pada 6 November.

“Tahu-tahu dapat kabar meninggal. Keluarga pada kaget,” ujarnya.

Menurut Puji, sebelum berangkat Nurlaela pernah berniat untuk memberangkatkan ibunya ke tanah suci. Bahkan dia berjanji keberangkatannya ke Hongkong merupakan yang terakhir kali hingga habis masa kerja untuk kemudian menetap di tanah air. Sebab dia sudah memilik satu orang putra.

“Ibunya pernah cerita kalau Nurlaela sebelum berangkat mau nyari uang agar ibunya berangkat haji,” ungkap Puji.

Selama ini, Nurlaela telah memberikan banyak perubahan pada keluarganya ditanah air. Termasuk memperbaiki rumah agar lebih layak. Selain itu, dia juga banyak membantu ibunya yang sudah sejak lama hidup sendiri. Demikian juga dengan anggota keluarganya. Sebelum bekerja di Hongkong selama 5 tahun, Nurlaela pernah menjadi BMI di dua negara lain. Pertama kali berangkat di bekerja di Singapura untuk beberapa tahun. Lalu dilanjutkan hijrah ke Singapura dengan profesi yang sama.

“Sebelumnya pernah di Malaysia dan Singapura,” ujar Amron Sidik, adik Nurlaela. [Asa/har-Radar Banyumas]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner