Prime banner

Setelah dilakukan serangkaian penyelidikan mendalam, ada beberapa fakta yang terungkap. Hasil pemeriksaan psikologis terhadap pelaku dari rumah sakit menyatakan, pelaku termasuk kategori indovidu dengan fungsi kognitif tidak stabil lantaran dampak dari kecelakaan lalulintas yang dia alami 15 tahun silam.

Fakta kedua, pelapor yang awalnya tidak ingin masalah tersebut berkepanjangan, akhirnya memutuskan untuk melaporkan kasus penganiayaan yang menimpanya dengan bukti rekaman video yang viral beredar di sosial media. Pelapor, seorang pekerja migran Indonesia berusia 24 tahun yang bekerja di sebuah pabrik elektronik.

Debat Tentang Hijab, Seorang Pria Menampar PMI Di Halte Bis

Fakta ketiga, berdasarkan penuturan saksi di TKP, kondisi terlapor yang mengalami gangguan kognitif menampakkan perilaku dan ekspresi tidak sewajarnya. Perilaku motorik dan ekspresi tidak sewajarnya ini, membuat PMI yang melaporkan kasus pemukulan tersebut mengomentari pelaku dengan sebutan “orang gila”.

Pelaku yang mendengar ucapan tersebut dan mengetahui bahwa sebutan tersebut diarahkan kepada dirinya tersinggung. Pelaku mempertanyakan akhlaq korban. Karena saat ditanya akhlaq korban mengaku tidak mengerti apa itu akhlaq, akhirnya pelaku bertanya agama korban apa. Setelah korban menjawab muslim, pelaku tambah naik pitam karena sebagai seorang muslim, PMI yang menjadi korban tersebut oleh pelaku dianggap akhlaqnya tidak terpuji.

Perang mulut tersebut akhirnya melebar ke korban yang mengaku muslim namun tidak mengenakan jilbab. Saat pelaku bertanya kenapa menyebut gila dan tidak memakai jilbab, korban menjawab itu hak saya. Jawaban inilah yang memicu kemarahan pelaku hingga aksi pemukulan terjadi.

Ada 3 orang saksi yang memberikan, dua orang PMI yang sedang berada di tempat tersebut, serta seorang warga Malaysia yang juga berada di tempat tersebut saat peristiwa berlangsung.

Pria Yang Menampar PMI Tak Berjilbab Dilaporkan Polisi

S, seorang saksi yang juga sesama PMI menyampaikan kepada Muhammad I, Citizen Journalis ApakabarOnline.com di Penang Malaysia, sebenarnya akar masalahnya pada ucapan korban.

“Mbaknya itu kalau ngomong tidak dijaga dan tidak dikira-kira. Sudah jelas orang penampilannya kusut dan ekspresi wajahnya terlihat tidak wajar, kok ya sempat-sempatnya dikomentari gila. Biarpun begitu dia kan juga punya perasaan. Pasti tersinggunglah kalau kondisinya sudah seperti itu, disebut gila lagi” tutur S

“Kalau memang sudah menduga pria tersebut gila, kenapa masih mengucapkan sebutan tersebut dengan suara dan jarak yang tertangkap oleh telinga pria yang disebutnya ? Apa gak sama-sama gilanya kalau begini ?” pungkas S.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Kepala Polisi Daerah Seberang Perai Tengah (SPT), ACP Nik Ros Azhan Nik Abdul Hamid, menyatakan membenarkan pelaporan tersebut. Selanjutnya, Nik bahkan menyatakan telah melakukan penyelidikan sebelum laporan dibuat. Hingga, saat laporan dibuat, pihaknya mengaku bisa dengan cepat dan mudah menindaklanjuti laporan tersebut pada hari yang sama.[Asa/Net]

Simak video saat kejadian :

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner