Prime banner

LAI CHI KOK – Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) Taiwan bernama Yani Rasta (46) tahun asal Indramayu saat ini sedang dirawat di Princess Margaret Hospital, 6 floor/D sejak  Kamis (15/02) minggu kemarin dikarenakan menderita stroke dan harus menjalani perawatan.

Kronologi terlantarnya Yani yang menderita stroke di Hong Kong bermula saat pria kelahiran tahun 1971 yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di Taiwan tersebut tiba-tiba mengalami sakit stroke mendadak saat berada di dalam kapal tempat ia bekerja. Dua minggu yang lalu tepatnya malam minggu pukul 00.00 sedang ke toilet, ketika mau bangun dari duduknya, kaki sebelah kiri tidak bisa di gerakkan. Akhirnya teman-teman ABK yang lain membantu membopong Yani ke Deck atas. Yani mengatakan bahwa boss yang punya perusahaan tempat ia bekerja tidak bertanggung jawab atas hak-hak yang harus di berikan  kepada Yani, walaupun Yani mengalami musibah seperti ini. Bahkan Yani tidak pernah dikunjungi selama sakit, tidak pernah dibawa ke rumah sakit, semua biaya pengobatan ditanggung oleh Yani sendiri.

Selama dua minggu lamanya Yani membiayai hidupnya sendiri dan tetap tinggal di kapal, bukan di rumah sakit atau di penampungan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Taiwan Yani terpaksa menjual rokok agar bisa membiayai pengobatannya sendiri. Akhirnya dibelikan tiket oleh bos perusahaan tempatnya bekerja dan dipulangkan menggunakan maskapai Cathay Dragon dari Taiwan ke Indonesia yang transit di Hong Kong (HK).

Saat akan terbang, di Bandara Taiwan, Yani bertemu teman sesama PMI yang satu jurusan, laki-laki, sebut saja namanya Agus berasal dari Cilacap. Mengetahui kondisi Yani, yang membutuhkan bantuan orang lain untuk mendorong kursi roda, maka pihak imigrasi airport Taiwan menyarankan Agus untuk menemani Yani. Bahkan sesampai di bandara Hong Kong pun saat Yani di tahan di imigrasi karena kondisi yani yang sedang sakit, Agus pun tetap harus menemani Yani. Kedua PMI tersebut akhirnya di bawa ke Princess Margaret Hospital. Kedua PMI ini tidak tahu harus menghubungi siapa, karena terkendala bahasa.

Selama di rumah sakit menunggui Yani, Agus terpaksa tidur di kursi rumah sakit selama beberapa hari tanpa jaket, selimut, karena belum ada yang mengetahui keberadaan mereka, Agus setiap hari berharap semoga bisa bertemu dengan orang Indonesia. Ia juga mengatakan sempat kedinginan kemarin.

Yani menceritakan bahwa pulang ini tanpa membawa bekal apa-apa, bahkan uang pun tidak membawa karena tidak di gaji oleh bos tempatnya bekerja, tabungan selama 7 bulan ia bekerja juga tidak diberikan, padahal selama bekerja ada potongan untuk tabungan.

Dengan berlinangan air mata Yani menceritakan kepada Jurnalis ApakabarOnline.com dan Wulan dari Jogja Club Peduli, Minggu (18/02) malam, bahwa bosnya sangat kejam dan tegaan, karena saat ini, Yani masa habis potongannya selama 7 bulan telah selesai sesuai perjanjian, namun pihak perusahaan tidak memenuhi kewajibannya.  Yani mempunyai 5 orang anak, yang masih membutuhkan biaya, namun kondisi yani yang seperti ini tidak bisa melanjutkan perjuangannya bekerja mencari nafkah, bahkan dipulangkan tanpa gaji dan pesangon.

Hari ini Wulan dari Jogja Club Peduli memberikan bantuan kepada Agus untuk tempat tinggal selama di HK juga mencarikan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah Yani dan hak-haknya.

Bagi pembaca yang merasa hatinya terketuk dengan musibah yang di alami Yani, dan ingin menyisihkan rejekinya bisa menghubungi, Wulan (Jogja Club Peduli) 95117484. [Emma]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner