Untungnya Menggunung, Budidaya Lombok Tak Bikin Sumadi Kapok

Prime Banner

WONOGIRI – ”Awalnya saya hanya melihat tanaman lombok milik tetangga pembeli material bangunan di toko bangunan tempat saya bekerja. Beberapa kali saya kirim ke pelanggan tersebut. Karena penasaran, saya nanya-nanya ke pemilik tanaman lombok itu. Dalam hati saya, lombok ditanam di pekarangan kok luar biasa, hasilnya bisa nutup uang belanja harian,” kenang Sumadi (44), alumni pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia, saat berbincang dengan Apakabar Plus di rumahnya.

Sepulang dari Negeri Jiran pada 2007, Sumadi mula-mula pernah mencoba peruntungan dengan membuka usaha peternakan ayam petelur. Namun, lantaran faktor stabilitas harga pakan dan harga jual yang tak sebanding dalam waktu beberapa bulan, usaha tersebut akhirnya harus dipindah tangankan. Tujuannya, agar kerugian tidak amblas terlalu dalam.

Dari situ, Sumadi lalu memutuskan kembali ke tempat ia bekerja sebelum merantau ke Malaysia. Yakni, sebuah toko bahan bangunan. Bedanya, oleh si pemilik toko, Sumadi kali ini dipercaya menjadi kepala gudang di samping sebagai sopir.

Posisi sebagai driver toko bahan bangunan, membuat Sumadi kerap bertemu dengan berbagai jenis profesi dan latar belakang banyak orang. Dari pertemuan itulah, Sumadi menemukan salah seorang yang melakukan budidaya tanaman holtikultura jenis lombok. Dalam pandangan Sumadi, cara budidayanya tidak seperti kebanyakan petani dalam bertani, namun hasilnya luar biasa.

Terinspirasi oleh apa yang ia lihat, warga desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, ini pun serius ingin meniru. Ia pun mulai menanam lombok dalam wadah karung bekas. Media tanamnya adalah pecahan batu bata yang tidak lagi berguna, selain sebagai material urug. Dengan komposisi media tanam 1 berbanding 1, perpaduan pecahan batu bata, arang sekam, tanah, serbuk semen merah (batu bata atau genteng yang dihancurkan) serta pupuk organik pabrikan (petroganik), Sumadi mula-mula menanam lombok pada 20 karung yang ia taruh di pekarangan samping rumah.

Enam bulan kemudian, lombok yang ditanam Sumadi mulai terlihat hasilnya. ”Kesuburan tanaman serta kelebatan buahnya berbeda dengan yang biasa ditanam, padahal bibitnya sama,” tuturnya. Pada panen pertama, Sumadi mendapat lombok segar masak pohon sebanyak 1,5 kilo. Jeda seminggu, pada pemanenan kedua, Sumadi mampu mendapat hasil panenan sebanyak 1,8 kilo. Dan, total selama sebulan, dari 20 tanaman lomboknya Sumadi menghasilkan panenan sebanyak 6,7 kilo. ”Waktu itu lomboknya saya jual ke pedagang keliling atau obrog. Dibeli Rp 30 ribu per kilo,” kenangnya.

Setelah tiga bulan menikmati hasil panenan, Sumadi melihat prospek ekonomis yang dihasilkan dari lombok dengan cara tanam seperti yang ia lakukan cukup bagus. Karenanya, memasuki akhir tahun pertama setelah lombok tersebut ditanam, Sumadi memutuskan menambah lagi jumlah tanaman lomboknya. ”Saya menambah 70 karung, supaya jumlahnya genap 100 karung,” katanya.

Dengan memiliki 100 karung lombok, sepanjang tahun 2014, Sumadi memiliki penghasilan rata-rata Rp 3 juta dari hasil penjualan. ”Kalau harga lombok sedang mahal, penghasilan bisa dua sampai tiga kali lipat,” terangnya.

Menyadari peluang bagus dari ikhtiar yang ia lakukan, pada 2015, setelah dua tahun menekuni usaha penanaman lombok, Sumadi akhirnya memutuskan mengundurkan diri sebagai karyawan toko bahan bangunan. ”Saya ingin fokus ke lombok,” cetusnya.

Saat itu, dengan tambahan modal yang ia miliki, Sumadi terus meningkatkan jumlah karungnya secara bertahap dengan pola yang sama. Dalam perkembangannya, Sumadi sekarang telah memiliki 1.500 karung yang seluruhnya berisi tanaman lombok. Jika semula hanya ditaruh di pekarangan samping rumah, belakangan – karena jumlah karungnya semakin banyak – areal tanah tegalan yang tidak produktif ia bersihkan untuk dijadikan kebun lombok.

Kini, dengan 1.500 karung lombok, sepanjang hari waktu Sumadi nyaris tercurah untuk mengurusi tanamannya. Karena kewalahan, Sumadi pun mempekerjakan dua karyawan yang membantunya mengurus seluruh tanaman lomboknya. ”Mengurus lombok itu ya membersihkan gulma, menambah media tanam jika susut, menyemprot hama cabuk dengan ramuan berbahan baku air kencing kelinci atau sapi, menyiram, dan memanen. Istri saya tugasnya mengurus penjualan,” tuturnya.

Dari 1.500 karung tanaman lombok, saat ini Sumadi mampu mengantongi keuntungan minimal Rp 30 juta per bulan. Jika semula pemasaran lombok hasil panenannya hanya mengandalkan tukang sayur keliling, kini pedagang besar dari beberapa kota di sekitar Wonogiri datang langsung ke kebun Sumadi untuk membeli hasil panenannya. Ia tak perlu lagi repot mengantar atau mengirim.

”Alhamdulillah, dengan lombok, saya bisa pensiun menjadi sopir. Dengan lombok pula saya bisa bekerja sesuai keinginan saya,” ungkapnya. Satu hal lagi, dari keuntungan menanam lombok, akhir tahun 2017 lalu, Sumadi mampu beribadah umrah bersama istri, kedua orangtua serta kedua mertua. [asa]

You may also like...

1 Response

  1. Kalimah says:

    Amin