Usaha Peternakan Ayam Milik Mantan PMI Hong Kong Gundah Karena Rupiah Melemah

Prime Banner

LAMONGAN – “Yang bilang rupiah melemah tidak berdampak pada harga-harga kebutuhan, itu wawasannya sempit, atau hanya ikut-ikutan apa kata teman kiri dan kanan” terang Eti Fauziyah, combatan Negeri Beton yang telah 6 tahun lamanya menjadi peternak ayam petelur di kawasan Kedungkumpul Sukorame Lamongan Jawa Timur.

“Lha wong mereka yang bilang begitu itu tidak terkait langsung dengan dampaknya. Mereka tidak menjadi apa-apa, mereka tidak mau mencari tahu akhirnya ya begitu” lanjutnya.

Kepada apakabarOnline.com, Eti mengaku usahanya menjadi gundah, lantaran rupiah melemah. Menurut pengakuannya, sebenarnya bukan hanya sekali atau dua kali saja usahanya mengalami gundah lantaran lemahnya rupiah. Selama 6 tahun menjalani beberapa kali melemahnya rupiah mempengaruhi kesehatan finansial usaha peternakan ayam petelur miliknya. Pasalnya, menurut Eti, 70% komponen pendukung usahanya ditentukan oleh kekuatan rupiah terhadap dolar. Komponen yang dia maksud adalah pakan ayam.

“Melemahnya rupiah sebenarnya sudah terasa sejak menjelang bulan puasa kemarin. Kami para peternak ayam, baik ayam potong maupun ayam petelur, sudah memprediksi lonjakan harga pakan akan terjadi. Kenaikan harga daging ayam dan harga telur jelang bulan puasa yang terus merangkak sampai sekarang, itu terjadi bukan tanpa sebab” lanjutnya.

Menurut Eti, sebelum bulan puasa, harga telur ayam di kandang berada pada posisi 16 ribu rupiah per kilo. Memasuki bulan puasa, harga telur terus merangkak naik hingga saat ini berada di posisi 21 ribu rupiah di kandang per kilogramnya.

Sebagai pelaku usaha, tentu Eti sudah hafal dengan gejala potensi gejolak. Namun, keputusan mutlak, tetaplah di tentukan oleh pasar.

Harga komponen pokok per bulan September 2018 menurut penuturan Eti telah mengalami kenaikan hingga 10-an ribu rupiah per kilonya dibanding dengan harga sebelum bulan puasa, sedangkan harga telur di di pasaran dipatok Rp. 21-an ribu rupiah di kandang per kilonya.

“Dengan posisi seperti itu, keuntungan kami sebagai peternah sudah melemah ke titik yang sangat rendah, berkurang hanya tinggal maksimum 20% saja dibanding sebelumnya” tandasnya.

Usaha peternakan ayam petelur milik Eti yang telah berjalan selama 6 tahun ini pernah pula mengalami badai krisis terpaan rupiah hingga Eti jauh di titik terlemah pada hampir 4 tahun yang lalu. Namun, berkat kreatifitas, inovasi serta kegigihan, Eti bisa bertahan hingga sekarang. Bagaimana cara Eti bertahan dan berkembang sehingga modal awal sebesar 150-an juta pada tahun 2012, saat ini telah berkembang menjadi aset peternakan sebesar lebih dari setengah miliar rupiah ? Simak penuturan Eti dalam rubrik Wirausaha yang akan kami tayangkan di Tabloid Apakabar Edisi #14 Tahun XIII yang akan terbit pada pekan depan. [Asa]

You may also like...