Prime banner

Kendal – Jamilatun (31) PMI Singapura asal  Desa Seribu PMI, RT 01 RW 03 Desa Taman Gede, Kecamatan Gemuh, Kendal Jawa Tengah baru saja menjalani tindakan medis berupa operasi ginjal di salah satu rumah sakit di Singapura. Jamilatun mendapat pelayanan medis atas biaya majikannya.

Menurut informasi yang didapat Apakabaronline.com dari keluarganya di Kendal, saat ini Jamilatun sedang melewati masa pemulihan, dan secara medis belum diperbolehkan melakukan perjalanan jauh.

Anak pasangan Asmiah dan Roswadi ini sesampainya di Kendal rencananya akan mendapatkan perawatan lanjutan di RS Dr. Karyadi Semarang sampai bekas operasi sekaligus ginjalnya kembali normal.

“Majikan anak saya bertanggung jawab. Saya lebih senang kalau bisa dirawat di Kariadi Semarang. Lebih dekat, sehingga kami bisa menengok setiap saat,” tutur Asmiah yang mengaku tidak bisa mendampingi saat anaknya berada di rumah sakit.

Menurut Asmiah, anaknya menjadi PMI di Singapura sejak tahun 2009. Pada tahun 2011, ia pulang untuk menikah lalu pada 2012 melahirkan seorang anak. Pada 2013, Jamilatun kembali menjadi PMI di Singapura. Sementara suami anaknya, Ahmad Wahid, menjadi PMI di Malaysia.

Pada tahun 2015, keduanya sempat pulang selama 2 minggu, lalu kembali ke luar negeri.

“Sebelumnya, anak saya seminggu setelah lebaran, sempat nelpon dan sakit batuk. Kalau malam sulit tidur,” aku Asmiah saat menceritakan kondisi anaknya.

Sementara itu, Kepala Desa Taman Gede Gemuh, Nur Sikoh mengaku telah memerintahkan stafnya untuk melakukan pendampingan keluarga PMI tersebut.

“Kami akan mendampingi Jamilatun, mulai proses pemulangan sampai perawatan di Kariadi,” tuturnya seperti dilansir dari kompas.com.

Nur Sikoh mengaku tidak mengetahui warganya kerja di Singapura lewat agen penyalur yang mana. Sebab, dari informasi yang diperolehnya, Jamilatun bekerja di Singapura lewat Batam.

“Kalau anaknya, ia ikut PJTKI. Tapi setelah pulang, kemudian berangkat lagi, saya tidak tahu. Tapi saya berharap majikannya benar-benar bertanggung jawab,” tambahnya.

Menurut Nur Sikoh, ada sekitar 1,000 orang warganya yang bekerja di luar negeri. Mereka tersebar di negara Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan lainnya. [Asa/Slamet]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner