Wanita Bekerja, Antara Kemandirian versus Ego yang Terluka

Prime Banner

ApakabarOnline.com – Peran perempuan lekat sebagai pengurus rumah tangga dan pendamping di balik kesuksesan laki-laki. Sementara, peran laki-laki lekat sebagai penyokong finansial keluarga. Namun, zaman mulai berubah. Perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata, yang hanya akan membebani laki-laki nantinya. Pandangan ini muncul karena perempuan seolah-olah hanya menanti penghasilan dari lelaki lalu menghabiskannya. Perempuan seakan-akan tidak bisa mengembangkan diri karena pada akhirnya harus mengikuti keputusan dan kondisi pasangannya kelak. Padahal, perempuan juga dapat berperan dalam mencari penghasilan dan mengembangkan karir atas kemampuan yang dimilikinya.

 

Perempuan sebagai Pencari Nafkah

Survei yang dilakukan Pewresearch America mengemukakan, 32% orang memandang perempuan juga memiliki peran penting sebagai penyokong finansial keluarga dan pasangan yang baik bagi suaminya. Persentase ini menunjukan adanya perubahan pandangan terhadap peran gender yang selama ini diyakini oleh masyarakat. Perubahan berupa kesempatan yang sama bagi perempuan untuk bekerja dan mengembangkan karir sekalipun telah berkeluarga. Tidak jarang bahkan, perempuan memiliki penghasilan serta pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dalam hubungan keluarga yang dijalinnya.

 

Peran Pencari Nafkah Bagi Perempuan Tidaklah Mudah

Sekalipun perempuan dapat menikmati pendidikan dan pengembangan karir yang diimpikan, tetap ada tantangan yang menanti setelahnya. Tantangan tersebut antara lain:

 

Keharmonisan Keluarga

Jumlah penghasilan perempuan yang lebih tinggi daripada laki-laki dapat berdampak pada keharmonisan keluarga. Adanya perselisihan terkait pengambilan keputusan finansial kebutuhan sehari-hari turut menjadi alasan. Perempuan akan merasa lebih kompeten dalam mencari uang dan mendominasi pengambilan keputusan. Akibatnya, laki-laki merasa direndahkan dan tidak dihargai perannya dalam hubungan keluarga.

Selain itu, risiko perselingkuhan serta perceraian  rentan terjadi dalam keluarga di mana laki-laki bergantung seutuhnya pada perempuan atau perempuan yang memiliki penghasilan lebih tinggi daripada laki-laki.

 

Bertahan Melawan Stereotip

Pandangan bahwa “laki-laki adalah pencari nafkah”, “perempuan adalah pengurus keluarga dan rumah tangga” melekat sampai sekarang. Memiliki keluarga dengan kondisi perempuan bekerja sementara laki-laki mengurus rumah menjadi sasaran empuk cibiran masyarakat bahkan keluarga besar. Perubahan peran antara perempuan dan laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang “tidak normal” di masyarakat.

Laki-laki dinilai sebagai suami yang tidak kompeten dan tidak bertanggungjawab dalam menjalani perannya. Sementara perempuan dinilai sebagai istri yang angkuh dan lupa diri karena tidak mengutamakan urusan rumah tangga. Cibiran seperti ini sulit dihindari karena peran gender antara laki-laki dan perempuan begitu adanya.

 

Menjadi Perempuan “Ideal”

Peran perempuan untuk mengurus keluarga dan rumah tangga tidak bisa dihapuskan dan bukan berarti bisa dihapuskan. Sesibuk apapun perempuan dalam pekerjaannya, ia tetap harus meluangkan waktu untuk rumah dan keluarga. Dengan demikian, perempuan dituntut menjadi perempuan yang “ideal”, yang mampu menyeimbangkan perannya dalam pekerjaan dan keluarga.

Tuntutan menjadi perempuan yang ideal turut menambah “beban mental” bagi perempuan yang bekerja. Sebuah survei yang menyatakan, perempuan mengurus rumah tangga 2 kali lebih banyak serta mengatur kegiatan anak 3 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki yang juga berperan sebagai pencari nafkah. Survei tersebut menggambarkan, beban mental lebih banyak dirasakan perempuan bekerja dibandingkan lelaki yang juga bekerja.

 

Pandangan Peran Laki-Laki dan Perempuan Berbeda

Terdapat pandangan yang berbeda bagi perempuan dan laki-laki ketika anak turut hadir dalam sebuah keluarga. Ketika kedua belah pihak sama-sama bekerja, laki-laki cenderung dituntut untuk bekerja lebih keras sementara perempuan dituntut untuk mengurangi waktu bekerja demi mengurus anak di rumah. Padahal, tidak ada jaminan bagi perempuan untuk mendapat kemudahan untuk mengurangi waktu bekerja. Laki-laki dan perempuan sama-sama bertanggungjawab untuk meluangkan waktu demi urusan anak dan keluarga.

Belum lagi, ketika kondisi keluarga memiliki perempuan yang bekerja, dengan laki-laki yang mengurus rumah. Pandangan bahwa perempuan seharusnya mengutamakan urusan rumah dan anak dibandingkan laki-laki akan berubah. Kemungkinan laki-laki untuk lebih meluangkan waktu bersama anak dan mengurangi waktu bekerjanya dibandingkan perempuan juga dapat berjalan.

 

Harga Diri Laki-Laki Terluka

Sejak kecil, laki-laki tumbuh dalam didikan untuk menjadi sosok yang kuat, berdaya saing tinggi, dan mampu menghidupi kehidupan sendiri serta keluarganya kelak. Hal ini menyebabkan, laki-laki memiliki tekanan lebih besar untuk berperan sebagai penyokong finansial keluarga dibandingkan perempuan. Dengan demikian, ketika laki-laki terlihat ‘kurang’ dibandingkan pasangannya, akan memberikan tantangan sendiri bagi dirinya.

Sebuah Journal of Personality and Social Psychology menyatakan, harga diri laki-laki dapat terluka ketika melihat kesuksesan pasangannya. Harga diri terluka karena melawan stereotip gender yang selama ini melekat pada dirinya. Laki-laki dianggap sebagai seseorang yang kuat, kompeten serta cerdas. Pekerjaan adalah salah satu contoh bukti harga diri yang dimiliki dirinya.

Ketika laki-laki memiliki pasangan dengan jenjang karir lebih tinggi dari dirinya, kesuksesan yang terjadi pada pasangannya tersebut dapat menjadi ancaman bagi dirinya. Menjadi ancaman karena “diri kecil” pada laki-laki merasa malu dan minder atas kapasitas diri yang dimiliki berada di bawah kapasitas diri pasangannya. Terlebih lagi, kesuksesan menjadi salah satu hal yang dilihat perempuan dalam memilih pasangan.

 

Sebagian Telah Menerima Perubahan

Beberapa laki-laki telah terbuka dan menerima kondisi perempuan yang memiliki kapasitas lebih tinggi dibandingkan dirinya. Kapasitas diri berupa pendidikan atau jenjang karir yang dimilikinya. Kelompok laki-laki ini seolah tidak menolak perubahan peran gender yang selama ini berlaku, lalu menerapkan di keluarganya. Laki-laki yang memilih untuk mengurus rumah tangga atau laki-laki dengan penghasilan yang lebih rendah dibanding pasangannya, dapat ditemui di lingkungan kita.

Perubahan peran gender ini menjadi refleksi atas stereotip gender yang melekat hingga sekarang. Refleksi yang menggambarkan bahwa urusan rumah tangga tidak hanya berat di perempuan saja, tetapi juga laki-laki turut berperan seimbang di dalamnya. Begitu juga dengan urusan finansial. Laki-laki tidak harus berjuang sendiri dalam mencari penghasilan, perempuan juga bisa turut mencari penghasilan.

Ketika peran gender ini berubah, perempuan secara kasat mata dilihat sebagai sosok yang lebih hebat dibandingkan laki-laki di sampingnya. Padahal, ia tetaplah seseorang yang memiliki sisi lemah dan lelah sehingga membutuhkan laki-laki untuk menguatkannya. Begitu pula sebaliknya. Sekalipun laki-laki bisa terlihat “kurang” daripada perempuan di sampingnya, ia tetaplah seseorang yang perlu dihargai dan diapresiasi atas keberadaannya. Karena sesungguhnya, dalam diri laki-laki maupun perempuan, terdapat “sosok kecil” yang menyuarakan peran gender yang telah diajarkan sejak dini. [Asa]

You may also like...