Prime banner

Dr. Paulus W. Halim, Praktisi Radiaestesi Medik dan Integrative Medicine menjelaskan, pasien penderita penyakit kanker membutuhkan pendekatan pengobatan integratif untuk memahami serta menempatkan si pasien sebagai manusia secara utuh menyeluruh atau holistik.

Pengobatan yang mengintegrasikan pengobatan medis dengan pengobatan non-medis atau yang disebut dengan komplementer seperti herbal, pembenahan nutrisi, juga penanganan emosi, peningkatan aspek spiritual dan lainsebagainyna sesuai kondisi dan kebutuhan individu, dengan menerapkan cara ini maka pasien memiliki kemungkinan lebih besar untuk terselamatkan dari penyakit yangdi deritanya.

“Pengobatan integratif bertujuan untuk membersihkan kanker hingga ke akar-akarnya dan semua upaya yang dilakukan terhadap pasien haruslah mendukung peningkatan daya imun tubuh mereka,” kata Paulus pada saat edukasi seputar kanker kepada anggota Komunitas Organik Indonesia.

Jika imun tubuh pasien meningkat maka sistem hormonal serta regenerasi sel sehat mereka akan menjadi baik sehingga harapan hidup menjadi lebih baik apabila pengobatan memperhatikan seluruh aspek.

Kanker tidak terjadi karena penyebab tunggal, oleh karena itu untuk mengatasinya pun tidak bisa hanya dengan melakukan penanganan tunggal.

“Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan integratif yang memahami pasien sebagai manusia secara holitstik (menyeluruh), baik dari medis maupun non-medis yang komplementer (melengkapi),” kata Paulus.

Beberapa risiko penyakit kanker seperti faktor genetik, faktor karsinogen, serta faktor gaya hidup. Pada dasarnya setiap manusia memiliki sel-sel kanker di dalam tubuhnya, tapi tidak semua manusia bermanives sehingga sel tersebut berkembang menjadi penyakit berbahaya.

“Dalam sejumlah kasus, pasien yang dinyatakan sembuh dari kanker kembali mengalami penyakit tersebut, baik muncul di bagian tubuh yang sama atau berpindah,” ujarnya.

WHO menyebutkan kasus baru penyakit kanker di semua negara meningkat dari 12,7 juta orang pada 2008 menjadi 14,1 juta orang pada tahun 2012, diperkirakan angka tersebut akan terus melonjak hingga 19,3 juta di tahun 2025.

Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan pada tahun 2013, prevalensi kanker yang ada di Indonesia mencapai 1,4 per 1.000 penduduk atau 347 ribu orang yang menunjukkan bahwa risiko penyakit kanker harus diwaspadai sedini mungkin serta diperlukan penanganan tepat.

 

Sumber tribunnews.com

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner