Warna-Warni Payung Pemilu di Yuen Long

Prime Banner

YUEN LONG – Suasana pemungutan suara di Yuen Long, Minggu (14/4), tak kalah semarak. Kesibukan sudah mulai terlihat sejak pagi pukul 06.00. Panitia penyelenggara pemilu beserta petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) sudah mulai tiba di lokasi Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN).

Disusul kemudian, pukul 07.00, para relawan dari kalangan pekerja migran Indonesia (PMI) juga mulai tiba di lokasi. Sebelum memulai tugas membantu pelaksanaan pemungutan suara, para relawan terlebih dahulu dikumpulkan untuk menerima pengarahan. Pengarahan yang menegaskan kembali tugas dan tanggung jawab para relawan diberikan oleh Konsul Imik Eko Putro dari KJRI dan Agung Suantika dari Mabes Polri Jakarta.

Lokasi TPSLN di Yuen Long memiliki area yang luas, sebuah lapangan terbuka yang khusus disiapkan untuk para pemilih mengantre dan berbaris sebelum masuk gedung TPS. Antrean mulai terlihat sejak pagi, mulai dari arah pintu masuk sebelah kanan, menuju tempat IT Front Desk.

Di tempat ini, semua calon pemilih wajib mendaftar ulang dan mengkonfirmasi kembali sebelum masuk ke ruang TPS. Di lokasi TPS Yuen Long tersedia delapan ruang TPS. Masing-masing empat TPS di dalam gedung, yakni: TPS 23, 24, 25, 26, dan di sebelah kanan gedung, yakni: TPS 27, 28, 29, dan 30.

Pukul 9.00, calon pemilih sudah bisa masuk ke ruang TPS dengan menunjukkan formulir C6, ID HK, dan paspor. Bagi yang sudah terdaftar, mereka akan mendapatkan formulir DPTLN untuk mendapatkan surat suara. Sedangkan bagi yang namanya tidak masuk DPTLN, terkena ketentuan DPKLN. Artinya, masuk dalam Daftar Pemilih Khusus Luar Negeri, di mana mereka baru dilayani untuk nyoblos pada pukul 17.00 sore, atau selambatnya satu jam sebelum penutupan TPS pada pukul 19.00.

Masalahnya, seperti Apakabar Plus saksikan di lapangan, banyak calon pemilih yang tidak mengerti perbedaan DPTLN dan DPKLN. Umi dari Yuen Long, misalnya, adalah salah satu calon pemilih yang mendapatkan formulir DPKLN. Ia sudah mengantre sejak siang, namun ternyata harus kembali pukul 17.00. Padahal, hari itu ia tidak libur. Umi mengaku hanya minta izin sebentar kepada nenek yang dijaganya.

Umi lantas berusaha meminta keringanan kepada petugas untuk didahulukan. Selain tidak libur, ia beralasan, nenek yang dijaganya sudah berumur 99 tahun. Tidak mungkin ditinggal terlalu lama sendirian di rumah. ”Tolonglah saya, Mbak. Saya takut nenek jatuh karena umurnya sudah 99 tahun,” pintanya.

Umi beruntung. Petugas mau membantu dengan mendahulukan masuk ruangan TPS. Dispensasi untuk nyoblos duluan juga diberikan kepada calon pemilih yang membawa anak asuh yang masih kecil.

Sulit dimungkiri, karena mayoritas pemilih di Hong Kong adalah PMI, pelaksanaan pemungutan suara tentu tidak semudah di Indonesia. Banyak kendala dan kesulitan untuk bisa memberikan hak suara sebagai warga negara Indonesia. Calon pemilih harus mengantongi izin majikan dulu. Ada yang hanya diberi waktu satu jam untuk mencoblos, lalu harus pulang kerja. Padahal, antrean sudah mengular panjang.

Ada pula PMI yang bekerja di sebuah restoran. Ia hanya beroleh izin keluar pada jam makan siang. Sialnya, formulir yang ia dapat adalah DPKLN, yang mengharuskan ia kembali pukul 17.00. Ujung-ujungnya, ia memutuskan golput dengan menunjukkan mimik wajah kecewa.

Lain lagi cerita Mina, juga dari Yuen Long. Ia pun memutuskan golput karena takut pulang kemalaman dan takut di-interminit majikan. Belum lagi, tidak sedikit calon pemilih yang tidak bisa menunjukkan paspor asli, karena ditahan oleh agen atau majikan.

Proses pemungutan suara di Yuen Long sempat terhalang sejenak. Itu terjadi lantaran terkendala jaringan internet, yang diperlukan untuk melakukan verifikasi data pemilih. Akibatnya, antrean di luar semakin memanjang, sementara di dalam ruang TPS jumlah pemilih sudah jauh berkurang. Situasi tersebut membuat para petugas pontang-panting. Berusaha memastikan semua hal segera berjalan lancar kembali.

Masalah kembali muncul ketika, siang hingga petang, hujan mengguyur lokasi di sekitar TPS. Namun, WNI yang sedang mengantre tak patah semangat. Sebagian dari mereka langsung mengeluarkan payung, sembari meneriakkan yel-yel, menunjukkan antusiasme mereka untuk memberikan hak suara sebagai WNI.

Kondisi basah kuyup juga dirasakan oleh petugas, panitia maupun relawan. Namun, semangat mereka pun tidak surut. Mereka tetap bekerja melayani para pemilih, seraya memastikan pemilu berlangsung lancar. Ditingkah oleh warna-warni payung di halaman depan TPS, proses pemungutan suara pun terus berlangsung.

Dengan sigap dan cekatan, petugas dan relawan juga ikut membantu mengatur jalanan di sekitar TPS, agar kemacetan bisa teratasi dan berjalan lancar. Semua barisan antrean pun bergeser tanpa menunggu waktu yang terlalu lama. Puncaknya, tepat pukul 19.00, pintu masuk antrean ditutup oleh KPPS, disaksikan oleh polisi setempat, petugas dan relawan. [emma]

You may also like...