WR Soepratman Dengan Mahakarya Indonesia Raya

Prime Banner

 

JAKARTA – Sebagai pencipta lagu Indonesia Raya yang hingga kini terus mengumandang di seantero negeri, Wage Rudolf Soepratman kecil ternyata sempat mengalami guncangan psikologis saat ditinggal meninggal Siti Senen, ibu kandungnya. Saat itu, usia Soepratman baru 9 tahun. Pria semata wayang dari delapan bersaudara ini berubah menjadi pemurung. Untungnya, melalui tangan dingin William Van Eldick sang kakak ipar, jalan Soepratman kembali terbuka.

Soepratman merupakan anak kesayangan ibunya setelah dua saudara laki-lakinya, Slamet dan Rebo, meninggal dunia. Pria kelahiran 1903 ini pun tumbuh menjadi anak manja. Bahkan Soepratman pernah mogok sekolah hanya karena tidak diantar kakaknya.

Sang Ibu kerap gusar saat Soepratman belum juga kelihatan batang hidungnya di rumah. Siti tak jarang menyusulnya jika mendapatkan Soepratman bermain jauh dari rumah. Sikap berlebihan sang Ibu ini membuat Soepratman justru menjadi anak pembangkang.

Kesehatan Siti Senen mulai turun setelah melahirkan anak kesembilan, Aminah, hingga akhirnya menutup mata. Dua tahun setelah kematian Siti Senin, Jumeno Senen Kartodikromo, sang ayah, kembali menikah dengan seorang perempuan yang akrab dipanggil Uyek pada tahun 1914.

Uyek sendiri merupakan janda empat anak. Keempatnya adalah Deli Sekar, Daliyem, Sukijo, dan Urip Suparjo. Sayangnya, meski perilaku ibu tirinya itu tak seperti dalam dongeng yang dikenal kejam, namun Soepratman tetap merasa kesepian.

 

Biola dan Dansa

Babak baru dimulai saat Soepratman memutuskan angkat kaki dari Cimahi, Bandung. Soepratman memilih tinggal bersama Rukiyem, kakak kandungnya yang ikut suaminya William Van Eldick bertugas di Ujung Pandang.

Hijrahnya Soepratman ini mengubah segalanya. Soepratman bukan sekadar bisa memulihkan guncangan psikologisnya, melainkan tumbuh dan berkembang sebagai seniman. Soepratman menjadi pria yang pandai bermain biola hingga menorehkan maha karya lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kepiawaiannya menggesek biola dan pandai membaca not balok ini tak terlepas dari didikan Van Eldick.

Dalam buku yang ditulis oleh Soebagijo I.N yang berjudul Tragedi Kehidupan Seorang Komponis: Biografi Wage Rudolf Soepratman menceritakan bagaimana perjalanan WR Soepratman sedari kecil, dewasa hingga akhir hayatnya. Pada buku yang terbit tahun 1985 ini, Soebagijo mengatakan, Soepratman pernah hidup sebagai pemuda yang berfoya-foya dengan statusnya sebagai pemain biola. Uang yang dihasilkan dari penampilannya bermain biola itu dihabiskan bersama gadis Indo-Belanda kenalannya.

Penampilan perdana Soepratman dengan biolanya terjadi di tangsi atau barak. Soepratman menunjukkan kebolehannya dalam memainkan alat musik biola sembari diiringi dansa oleh para pemuda.

Aksinya itu membuat nama Soepratman dikenal orang. Sejak itulah dirinya banyak wara-wiri dari panggung ke panggung menghibur dengan biolanya. Tak ingin cepat puas, Soepratman menyempurnakan keahliannya dengan belajar dansa. Jadi, saat itu Soepratman terkenal dengan pemuda yang pandai bermusik dan berdansa.

Dari situ, ia hidup bergelimangan harta sebagai seniman. Soepratman mulai fokus menjadikan bermain biola sebagai jalan hidupnya. Dengan kemampuannya bermain musik, Supratman sempat mendirikan grup band beraliran jazz, dengan mengusung Jazz band, dan Black and White di Makassar di bawah binaan William M Van Eldik hingga tahun 1924.

 

Nama Panggung

Popularitas Soepratman di panggung seni semakin berkibar. Kepandaian Soepratman dalam bidang seni ini menjadikan dirinya idola gadis-gadis Indo-Belanda. Dimata para gadis-gadis itu, Soepratman merupakan sosok yang tampan dan berbakat dalam seni.

Kepopulerannya saat itu membuat Soepratman mendapatkan undangan untuk mengisi acara musik di berbagai tempat. Puncaknya, mana kala saat peringatan hari lahir Rati Wilhelmina yang bertepatan pada tanggal 31 Agustus. Tanggal tersebut diperingati oleh seluruh warga Hindia-Belanda.

Soepratman, tampil memukau di Kamar Bolah, yakni gedung pertemuan masyarakat Belanda. Sejak saat itu, ia banyak mendapatkan tawaran mengisi acara musik.

Bukan hanya bermain musik, Soepratman mendapatkan tawaran terlibat dalam pertunjukan sandiwara. Aksi panggung Soepratman banyak menimbulkan decak kagum penonton. Apalagi saat dirinya memerankan tokoh Rudolf. Nama panggung ini kemudian membuat ia dikenal dengan panggilan Rudolf. Alhasil, Soepratman yang bernama asli Wage Soepratman kemudian menjadi Wage Rudolf Soepratman.

Cerita berbeda disebutkan oleh Bambang Sulatro dalam buku Biografi WR Supratman (1985). Ia menyebutkan nama Rudolf yang tersemat sebelum Supratman itu merupakan pemberian dari kakak iparnya. Bukan tanpa alasan, Eldick menghibahkan nama Rudolf ke adik iparnya itu karena ingin memasukkan ke jenjang pendidikan ELS (Europees Lagere School), sekolah elite Belanda. Agar bisa diterima di sekoah ELS, nama Rudolf itu digunakan untuk menjelaskan adanya hubungan keluarga dengan kakak ipar.

Hanya saja, kegiatan sebagai anak band bersama Jazz Band tidak lama. Soepratman meninggalkan panggung seni menuju panggung politik. Meski di tengah-tengah fase itu, Soepratman sempat mengabdi sebagai guru di Sekolah Desa dengan modal Ijzazah Klein Ambtenaars Examen (KAE). Saat itu, mendapatkan ijazah tersebut sama saja dengan memiliki ijazah Hollands Inlandse School (HIS) atau sekolah rakyat yang diperuntukkan untuk belajar bahasa Belanda.

Soepratman pun melepaskan statusnya sebagai guru dan beralih bekerja di kantor Advokat Schulten. Kakak iparnya memperkenalkannya dengan Tuan Schulten. Di sini lah awal mula Soepratman senang dengan dunia jurnalistik. Bekerja di kantor Tuan Schulten sangat menyenangkan baginya, karena ada sejumlah bacaan koran dan majalah, seperti media China dan lokal.

Kegemarannya membaca koran membuat ia paham dengan situasi pergolakan di dunia dan masalah kebangsaan. Pemahaman soal kebangsaannya semakin matang setelah sering berdiskusi dengan Tuan Schulten, yang merupakan simpatisan partai National Indische Partij.

Dari Tuan Schulten, Soepratman belajar banyak perihal makna keberadaannya di tanah air, yakni bukan orang Belanda dan Indo Belanda, tetapi orang Indonesia. Soepratman memiliki pandangan baru setelah berkenalan dengan Seevliet, seorang sosialis pendiri Indische Sociaal Democratische Vereeniging(ISDV).

 

Panggung Politik

Diskusi dan perkenalan dengan orang politik membuat Soepratman banting stir dari seniman menjadi politisi. Menurut Soebagijo, sejak saat itu, perlahan hidup Soepratman berubah, dari panggung dansa ke politik. Soepratman mulai giat mengunjungi rapat-rapat organisasi dan perkumpulan lainnya.

Aktivitas barunya ini sempat ditolak sang kakak yang sejak awal tak setuju adiknya terlibat dalam gerakan-gerakan yang menjurus ke dalam kegiatan politik. Namun, penolakan ini tak membuat Soepratman mundur.

Justru, Soepratman makin semangat dengan mengambil keputusan pindah rumah ke kakak perempuannya, Giyem Supratinah. Alasannya sederhana, Bero Santoso Kasansengari, suami kakaknya itu merupakan anggota Koninklijik Nederlandsch-Indische Legal (KNIL) atau tantara kerajaan Hindia Belanda.

Perpindahan rumah kedua kalinya itu jualah yang membuka jalan Soepratman sebagai wartawan. Kenalannya mengajaknya bekerja di surat kabar Kaoem Moeda, sekaligus menapaki karier sebagai jurnalis. Soepratman merasa lebih cocok sebagai wartawan meski tak banyak menghasilkan uang. Baginya profesi ini dianggapnya bebas mengutarakan pendapat.

Pada tahun 1925, ia pindah ke media Kaoem Kita yang kemudian memutuskan hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, Soepratman bergabung dengan Algemene Pers en Nieuws Agentschap (Alpena) yang dirintis oleh Parada Harahap.

Profesi wartawan ini membuat Soepratman paham dengan dunia sesungguhnya. Ia merasakan, pemimpin nasional saling menjatuhkan meski dalam pidatonya menyerukan persatuan. Ia pun melihat kesamaan pandangan tentang nasionalisme dari pertengkaran itu. Dari para pemimpin nasionalis juga ia belajar akan seruan untuk semangat perjuangan, semangat mengabdi kepada ibu pertiwi dan semangat kemerdekaan.

Selepas dari Alpena, Soepratman bergabung dengan koran Sin Po dan Keng Po. Di sana, banyak tulisan Soepratman yang dimuat. Seorang jurnalis terkenal saat itu Saeroen mengajak Soepratman menerbitkan buku setelah membaca tulisan-tulisan cerpennya.

 

Kritik Sosial

Berkat bujukan rekannya itu, Soepratman termotivasi untuk menulis hingga lahir novel berjudul Perawan desa, yang bercerita tentang kritik sosial. Novel tersebut menceritakan tentang gadis desa yang menjadi korban kolonialisme. Gadis itu dikisahkan hidup dalam sistem kapitalis imperialis yang memeras rakyat.

Soepratman begitu berharap banyak dengan penerbitan buku ini. Bahkan dirinya sendiri berencana turun langsung memasarkan bukunya di Kongres Pemuda II tahun 1928. Akan tetapi, setelah buku tersebut terbit, polisi justru melarang bukunya beredar.

Soepratman terpukul. Terlebih, ia sudah mengeluarkan uang 25 gulden untuk mencetak bukunya. Hal ini membuatnya kian menyadari betapa kejamnya kolonialisme dan kapitalisme.

Kejadian itupun membuatnya sadar akan pentingnya kemerdekaan Indonesia. Tak larut dalam kekesalannya, Soepratman pun bersiap menyambut kongres pemuda II tahun 1928. Kongres ini menjadi titik momentum lahirnya maha karya lagu kebangsaan Indonesia yang dibuat oleh Soepratman.

Sebagai wartawan, Soepratman mengenal Ketua Panitia Kongres yakni Sugondo Joyopuspito. Keduanya sangat akrab sehingga Soepratman mendapatkan informasi bahan-bahan yang akan dibicarakan dalam kongres sebelum acara dimulai.

Menariknya, Sugondo serta kawan-kawannya mengenal Soepratman sebagai seorang komponis. Salah satu lagu yang mereka tahu yakni Dari Barat Sampai Ke Timur. Lagu tersebut mengisahkan tentang keinginan bebas dari kekejaman pemerintahan kolonial yang membatasi kegiatan rakyat yang melakukan pergerakan kemerdekaan.

Asal tahu saja, keseriusannya menjadi komponis begitu tergugah setelah ia membaca salah satu artikel di Fadjar Asia, media yang dipimpin Haji Agus Salim. Di artikel yang sebelumnya sudah tayang di majalah Timboel ini tertulis “mana ada komponis bangsa kita yang mampu mencipta lagu kebangsaan Indonesia yang dapat menggugah semangat rakyat?”

“Ya memang hingga sekarang masih belum ada komponis Indonesia yang berhasil memberi lagu kebangsaan kepada pergerakan nasional. Bukankah itu suatu tantangan?” bisik Soepratman pada dirinya sendiri.

Semangatnya semakin terbakar saat Sukarno dalam salah satu pidatonya saat menjadi Ketua PNI menyebut-nyebut soal lagu kebangsaan. Mulailah Soepratman fokus menciptakan lagu untuk bangsa Indonesia. Setelah merampungkan liriknya, ia pun mulai menyurati panitia kongres. Ia meminta kepada panitia agar bisa menampilkan karyanya di kongres.

“Seandainya lagi itu tidak menjadi lagu kebangsaan atau setidak-tidaknya menjadi lagu pergerakan, menjadi lagu untuk menyemarakkan jalannya kongres pun, memadailah sudah!” demikian yang tertulis dalam suratnya.

Panitia pun memperkenankannya untuk memainkan hasil karyanya. Meski akhirnya hanya melodi lagu Indonesia Raya menggunakan biola yang bisa diperdengarkan. Karena saat itu pemerintah kolonial benar-benar membatasi kegiatan yang terkait dengan kemerdekaan. Penampilannya menuai decak kagum para peserta kongres. Sejak saat itulah, lagu Indonesia Raya populer di masyarakat. Namanya mulai banyak diperbincangkan di media-media.

Malangnya, pada tahun 1934 Soepratman terdeteksi mengidap tumor atau kanker paru-paru. Soepratman juga sempat ditangkap polisi karena lagunya berjudul Matahari Terbit. Lagu tersebut terkait dengan gerakan ekspansionis dan bendera Jepang, meski akhirnya ia dibebaskan dari penjara.

Sayang, sang pencipta lagu kebangsaan ini belum sempat menyanyikan lagunya di hari kemerdekaan Indonesia.  Tujuh tahun sebelum Hari Kemerdekaan, tepatnya 17 Agustus 1938, Soepratman meninggal di usianya yang masih muda, 35 tahun.

Dalam peringatan 25 tahun lagu Indonesia Raya atau pada 28 Oktober 1953, pemerintah akhirnya menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional. Negara pun menetapkan tanggal lahir Soepratman, 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. [Dana Pratiwi, dari berbagai sumber]

You may also like...