July 22, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Aku Bukan Pelacur

2 min read

Aku sangat menyukai dunia maya. Tanpa dia, dunia nyataku serasa sepi, mamring. Setiap saat aku selalu meng-update status di facebook, line, whatsap dan BBM. Menyenangkan. Hingga aku merasa antara dunia nyata dan mayaku saling mengadu domba dan saling menebar bahagia.

Aku bersyukur dikaruniai wajah cantik dan tidak gemuk. Dengan daya tarik yang kumiliki, aku bisa sesuka hati memposting segala foto cantik yang alami. Bukan hasil editan kamera cantik ala 360.

Nah, dari keseringan meng-upload foto menggairahkan itu, aku kerap dianggap pelacur oleh sebagian pengguna media sosial. Sampai-sampai, ada yang menawariku untuk melakukan pernikahan online. Ah, aku kan masih suka nikah ala kampung Gedangan-Malang sana.

”Aurat itu ditutup, Mar. Bukan diumbar dan diobral seperti itu.” Begitu nasihat seorang ukhti via inbok. Aku terima dengan emon lope-lope. Jangan biasakan marah saat dikritik pedas, Kawan… Aku yakin, kritik seperti apa pun merupakan gizi kita dalam menjalani kehidupan.

”Terima kasih, Mbak. Semoga saya segera dapat hidayah dan bertobat,” jawabku dengan emon tersipu. Yakin dech, di sana ukhti itu pasti tersenyum-senyum membaca balasan kecehku ini.

”Semoga segera, ya? Karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput,” tulisnya lagi.

Lalu, saat hati sudah berniat bertobat musiman. Iyup, kebetulan sebentar lagi Ramadhan, jadi porsi upload foto harus lebih sopan dan tidak mengandung decak air liur para pencari cinta maya.

”Mbak, tarifnya berapa per jam?” Tiba-tiba sebuah pertanyaan datang dari inbok, menggetarkan jantung dan hati plus tanganku.

”Maksudnya?” tanyaku heran.

”Saya suka pose Mbak yang di atas jembatan itu,” tambahnya sambil menunjukkan sebuah foto. Ya, Tuhan… Itu fotoku saat liburan di daerah Wong Tai Sin. Di situ aku terlihat cantik, dan wilayah intimku diberi sticker oleh orang itu. Sebut saja namanya Andre. Ia menginginkan hal lain dengan sticker, sambil berkata, ”Kamu Elegan.”

”Lalu…” Balasku menggantung.

”Ah, masak gitu saja nggak paham. Berapa nich per jamnya? Atau per hari? Saya berani bayar berapa pun, Mbak. Jangan khawatir.”

”Hei, Bung… Aku bukan pelacur atau cewek panggilan. Tidak ada tarif per jam, pun per hari. Kamu salah orang.”

”Masak sich... Kamu terlihat seperti wanita Dolly, tahu?!”

”Terima kasih, Mas. Mungkin memang sudah saatnya saya bertobat. Terima kasih sekali lagi telah mengirimkan hidayah buat aku.”

Sejak kejadian itu, semua foto seksiku di segala akun aku hapus. Horor kan kalau ada yang nawar aku lagi? Bisa dicincang habis aku sama Bapak. Meski belum berjilbab, aku selalu berusaha menjalankan ibadah yang lima waktu di rantau ini. Karena, menurutku, ibadah itu tidak hanya dilihat dari kalian berkerudung rapat saja. Namun, juga dari kecantikan hati dan keluhuran budi.

 

(Dituturkan Maryamah kepada Anna Ilham dari Apakabar Plus)

 

Advertisement
Advertisement