December 6, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Arnoldus : “Lebih Baik Jadi Petani, Daripada Jadi TKI”

2 min read
-

KUPANG – Sebuah pemikiran dan seruan yang cukup radikal. Bagaimana tidak, ditengah tingginya minat warga NTT menjadi BMI, Arnoldus justru menyerukan lebih baik menjadi petani di kampung sendiri ketimbang menjadi BMI di luar negeri. Tentu hal ini bukan tanpa alasan.

Tingginya kematian BMI asal NTT di luar negeri,  serta semakin meningkatnya angka BMI ilegal dari daerah ini menjadi keprihatinan tersendiri. Resiko keselamatan yang dipertaruhkan, seringkali tidak sebanding dengan hasil yang dibawa pulang.

Dilansir dari kompas.com, Arnoldus, melakukan aksi nyata atas ajakan dan pemikirannya tersebut dengan membentuk sebuah kelompok tani di jantung kantong BMI kawasan Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuan membentuk kelompok tani, sebagai upaya untuk mencegah pemuda dan pemudi di wilayah itu untuk bekerja di luar negeri.

Pada lahan seluas lebih dari satu hektar, Arnoldus bersama tetangga dan kerabatnya yang tergabung dalam satu kelompok, menanam 20 jenis tanaman dan 28 varietas.

“Kami mulai pembersihan lahan mulai bulan April selanjutnya pengolahan lahan di bulan Mei, kemudian di Bulan Juni kami mulai membuat bedengan dan persemaian dan akhir juni kami mulai tanam cabai keriting, tomat, kol dan sejumlah sayuran lainnya. Saat ini kami siap untuk panen,”kata Arnoldus kepada Kompas.com, Rabu (11/10/2017).

Menurut Arnoldus, anggota kelompoknya berjumlah 16 orang. Namun saat bekerja, mereka akan dibantu oleh pemuda dan juga para pelajar yang ada di desa mereka.

“Dengan adanya pekerjaan ini kami mengharapkan agar anak anak jangan lagi jadi TKI dan TKW ke Malaysia karena sumber daya alam di sini sudah cukup. Lebih baik jadi petani sukses di kampung, daripada jadi TKI di Malaysia,” tegas Arnoldus.

Arnoldus mengaku, dengan hasil pertanian yang bagus, sudah sangat membantu perekonomian warga dan dirinya bisa menyekolahkan anaknya.

“Kami juga sangat terbantu dengan adanya bimbingan dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS). Kami berharap hasil pertanian kami ini bisa diekspor keluar NTT, “paparnya. [Asa/SMB-Kompas.com]

Advertisement
Advertisement