November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Derita Sri Rabitah, PMI Yang Dicuri Ginjalnya : Polda NTB Siap Menangani Setelah Menerima Laporan Dari Bupati

2 min read
-

Lombok Utara – Indikasi adanya perdagangan orang (human trafficking) yang menimpa Sri Rabitah membuat Bupati Lombok Utara, Dr H Najmul Akhyar menjadi pelapor langsung mendatangi Polda NTB. Bersama tim advokasi #saverabitah, Najmul Akhyar melaporkan kasus tersebut dan diterima Ditreskrimum Polda NTB, Selasa (11/4) pagi tadi. Setumpuk dokumen yang menjadi bukti dugaan perdagaan orang dibawa rombongan. Menanggapi laporan tersebut, Direskrimum Polda NTB, Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan siap menuntaskan kasus yang dialami Sri Rabitah. Dia akan memproses laporan tersebut dengan berkoordinasi dengan sejumlah pihak.

“Langkah awal kami, mendalami kasus ini. Berkoordinasi dengan pihak pihak terkait,” ujarnya menjawab pertanyaan awak media, Rabu (12/04).

Soal indikasi adanya pemalsuan dokumen oleh instansi terkait akan ditindaklanjuti. Pasalnya ada beberapa dokumen Sri Rabitah yang diduga dipalsukan. Dokumen tersebut seperti KK, KTP, termasuk  usia yang dipalsukan, sehingga memenuhi syarat ke luar negeri. “Termasuk dokumen kesehatan itu semua harus kita dalami. Sebab dokumen ini bisa asli dari instansi resmi, bisa juga dokumen palsu. Ini kita selidiki lebih lanjut,” jelasnya.

Sebelumnya, kasus tersebut sempat jalan di tempat. Pasalnya, laporan pertama yang dilaporkan pada Polda NTB adalah dugaan kehilangan organ tubuh. Namun setelah dilakukan cek pada RSUP NTB, hasilnya organ tubuh Sri Rabitah masih ada. Sehingga polisi bergantung pada hasil pemeriksaan tim medis. “Poinnya, organnya ada. Soal asli atau ditukar, kita akan dalami. Tapi sejauh ini (dikira), organnya hilang, sementara terjawab ada,” jelasnya.

beberapa waktu yang lalu, Rabitah pernah membeberkan kronologi penderitaaannya dari pengalamannya selama bekerja di Qatar pada tahun 2014 silam.

Saat bekerja di Qatar inilah, ginjal sebelah kanan milik Sri diduga diambil melalui jalan operasi. Sejak saat itu, kondisi kesehatan Sri terus menurun. Dia tidak kuat bekerja, bahkan kerap mengalami kencing darah, batuk darah, hingga keluar darah dari hidung.

Tiga tahun berselang, kondisi kesehatan Sri kian memburuk. Awalnya, Sri tidak mengetahui salah satu ginjalnya hilang. Hingga pada 21 Februari 2017 lalu, Sri melakukan cek kesehatan dan rontgen di RSUD Provinsi NTB.

Hasilnya sungguh mengejutkan, dokter mengatakan, Sri hanya memiliki satu ginjal. Sementara itu, ginjal sebelah kanan Sri tidak tampak dalam foto rontgen.

“Kalau dia minta ke saya, mungkin saya ikhlaskan. Akan tetapi, ini diambil tanpa sepengetahuan saya. Operasi itu dijalani tanpa izin dari orangtua. Tanpa ada tanda tangan dari saya juga,” kata Sri.

Sementara koordinator tim advokasi Rabitah, Muhammad Shaleh menyebutkan, ada tiga poin dalam dokumen laporan.  Pertama, berhubungan dengan kependudukan, kedua terkait dengan penempatan, kemudian terkait proses operasi illegal.

Secara lebih spesifik, terdapat lima indikasi pelanggaran dalam proses perekrutan Rabitah. Proses tersebut yakni pengurusan dokumen di instansi cacatan sipil. “Banyak bukti didapatkan ada masalah di penempatan layanan dokumen korban ditingkat kabupaten. Ada juga ada soal juga pada pembuatan paspor,” jelasnya. Indikasi keempat, pemindahan negara tujuan. Kelima, soal dugaan ada operasi malpraktek tanpa persetujuan Sri Rabitah di rumah sakit Doha Qatar. Lima komponen tersebut menjadi laporan utama yang dilaporkan tim Rabitah. [Asa/ZR/KS]

 

Advertisement
Advertisement