May 15, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Family Therapy Institute (FTI) : Jadikan Pembantu Sebagai Bagian Keluarga

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

Singapura – Sebuah lembaga layanan psikologi yang didirikan sekaligus dijalankan oleh Persatuan Pemudi Islam Singapura (PPIS), yaitu Family Therapy Institute (FTI), melakukan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan hubungan kerja antara pekerja rumah tangga dengan majikannya.

Langkah yang dilakukan oleh lembaga yang lebih terkenal sebagai lembaga yang menangani persoalan disharmoni rumah tangga ini adalah dengan mengedukasi dan memberi penyadaran kepada setiap majikan, akan arti penting seorang pekerja rumah tangga, bagaimana berperilaku terhadap pekerja rumah tangga, serta hal-hal lain yang terkait.

bh_20161129_nfppis1_2618929

Upaya yang dilakukan oleh FTI ini merupakan mandat yang mereka terima dari Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura pada pertengahan bulan November silam. Dalam misi ini, yang menjadi sasaran tentu saja keluarga yang memperkerjakan pekerja rumah tangga, utamanya pekerja rumah tangga asing yang selama ini oleh pemerintah dan pengamat di Singapura dipandang paling rentan mengalami kegagalan beradaptasi.

Menurut Direktur Eksekutif FTI, Encik Mohd Ali Mahmood, di Singapura per tahun 2015 ada lebih dari 230.000 pekerjaa rumah tangga asing. Sudah bisa dipastikan, di tahun 2016, jumlahnya mengalami kenaikan. Program Family counseling untuk rumah tangga yang memperkerjakaan pekerja rumah tangga ini akan mulai berjalan efektif pada Januari 2017.

Diharapkan, dengan dijalankannya program ini, berbagai persoalan yang menyangkut profesi pekerja rumah tangga, utamanya pekerja rumah tangga asing bisa ditekan untuk dicarikan solusi. Kondisi Singapura yang tumbuh dan berkembang menjadi kota metropolis, oleh Encik Mohd Ali diakui berkontribusi mengganggu human relationship dari sudut pandang psikologi.

“Tuntutan hidup, tekanan dan semakin mahalnya biaya hidup, beresiko meningkatkan stres bagi penduduk Singapura. Hal ini secara psikologis bisa mengganggu harmoni seseorang baik dalam lingkungan sosialnya, llingkungan kerjanya, dan terlebih lagi, lingkungan keluarganya” terang doktor bidang psikologi alumni Toronto University ini.

“Kondisi yang tidak ramah secara psikologis, berpotensi mengganggu proses beradaptasi bagi warga Singapura, maupun bagi pendatang asing yang sedang beradaptasi di Singapura. Sering terjadi apersepsi, sering terjadi disorientasi kognitif, yang diakibatkan oleh tingginya tingkat stres” pungkas Encik. [AA Syifa’i SA/ Aini]

Advertisement
Advertisement