April 23, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Gagal Seleksi Masuk Perguruan Tinggi, Aku Memilih Menjadi PMI

3 min read

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri.

Kegagalan seringkali membuatmu ingin musnah saja dari bumi ini, tak ingin muncul ke publik apalagi bertutur sapa dengan teman yang berhasil. Pertanyaan-pertanyaan yang kadang bersifat sensitif selalu menyinggung hati kecil mu yang terkadang itu adalah sebuah bentuk perhatian dari temanmu.

Kuliah di mana?

Ambil Fakultas apa?

Semester berapa?

Terkadang kita merasa cemburu dengan nasib orang lain.

Teringat perjuanganku kala itu, aku gagal SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri) dua kali berturut-turut belum lagi dengan jalur masuk yang lain, SNMPTN, seleksi mandiri, dan lain-lain.

Kegagalan yang pertama mungkin karena kurangnya persiapan dalam belajar. Tetapi setelah kegagalan itu aku tidak putus asa, kupersiapkan lagi untuk ikut SBMPTN untuk yang kedua kalinya.

Satu tahun ku lewati dengan materi-materi SBMPTN yang sebagian besar adalah materi SMA sedangkan aku adalah anak SMK, tapi tak apalah asal ada niat pasti bisa. Selain belajar waktuku kubagi dengan mencari uang untuk bekal kuliah juga, meski kadang terasa lelah tapi semua tidak sebanding dengan semangat ku. Pokoknya harus bisa masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) mengingat ekonomi keluarga yang tidak akan cukup jika harus masuk PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Ujian di depan mata, akhirnya setelah menanti cukup lama, kembali aku berperang melawan soal-soal SBMPTN yang menurutku sulit. Hari pengumuman pun tiba, kolom merah di depan monitor membuat hatiku remuk seketika, bayangan memakai toga hancur sudah. Di situlah aku down di tingkat terbawah.

Bengkak sudah mataku dua hari berlalu dengan keterpurukan, mengingat di antara teman-temanku akulah orang yang paling semangat untuk kuliah sementara sekarang di antara mereka aku lah orang yang masih tidak jelas arah dan tujuannya.

Hari demi hari berlalu. Kesedihan tak akan usai jika dilalui dengan keterpurukan. Aku mencoba menghibur diri, mengikuti berbagai komunitas sosial membuatku mengerti akan pentingnya hidup. Kini bertemu teman-teman aku sudah tidak malu lagi. Aku bekerja dan punya berbagai hal positif yang bisa kulakukan.

Terlalu lama di rumah memudarkan pertanyaan,

Kapan kuliah?

berganti menjadi pertanyaan,

Kapan nikah?

Pertanyaan yang gampang tapi sulit untuk dijawab.

Sebetulnya mau tidak mau semua orang pasti malu jika ditanya akan hal itu. Perjalanan masih panjang. Aku belum mempedulikan akan hal itu, masih bahagia menggapai mimpi, bahagia meski kegagalan yang selalu menghampiri, toh jodoh sudah ada yang atur, kan?

Kegagalan yang membuatku bertahan, terkadang aku bertanya-tanya.

Apakah Tuhan Maha Adil?

Tetapi seiring hatiku mampu mengikhlaskan segalanya, pertanyaan,

Adil tidaknya Tuhan? berganti menjadi pernyataan,

Adil tidaknya sesuatu dinilai dari ikhlas tidaknya menerima.

Perjalananku belum usai, tahun berikutnya aku mengambil bimbingan bahasa Korea. Menjadi PMI (pekerja migran Indonesia) atau TKW (tenaga kerja wanita) bukanlah cita-citaku, aku yakin tidak ada yang bercita cita seperti itu juga, tetapi dengan cara itulah aku bisa berusaha mencapai mimpiku, mimpi ayah dan ibuku.

Satu visi meskipun berbeda misi, mencari batu loncatan bukanlah ide yang buruk. Akhirnya setelah satu tahun belajar bahasa yang tak mudah d pahami aku dinyatakan lulus dalam tahap satu (seleksi tertulis) dan tahap dua (tes kemampuan).

Semua dapat tercapai karena adanya kata Ikhlas. Ikhlas menerima, ikhlas menjalankan, ikhlas berusaha.

Aku telah melakukan sebisa dan semampuku sisanya kupasrahkan pada yang kuasa, insyaallah akan lebih baik.

Karena memang hidup tidak sesuai ekspektasi, jalani saja apa yang ada di depan dan lakukan sebaik mungkin.

Hidup bukan hanya tentang hal-hal duniawi, melainkan hidup dari siapa? Untuk apa kita hidup? Dan kepada siapa kita kembali?.

So, apapun keadaanmu saat ini syukuri dan ikhlaskan.

Insyaallah sebentar lagi berangkat ke Korea Selatan untuk bekerja di pabrik dan doakan saja bisa menimba ilmu lagi di sana. Bisa pakai toga dengan senyum bahagia.

Pertanyaan menakutkan selanjutnya bukanlah tentang,

Kapan kuliah? atau Kapan nikah?

Tetapi berganti menjadi,

Kapan terbang? [Umi/Vmale]

Advertisement
Advertisement