November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

JBMI DAN GEBYAR KEMERDEKAAN

2 min read
-

CAUSEWAY BAY HONG KONG – Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia sudah menjadi tradisi yang merakyat, tidak hanya di Indonesia saja, bahkan di luar negeri tidak kalah meriah dalam menyambut hari kemenangan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) pada Minggu (06/08),  menggelar gebyar budaya migran dengan berbagai lomba dan penampilan kesenian dari organisasi yang turut berpartisipasi dalam acara ini.

Beraneka ragam stand dan posko baik dari posko kesehatan, ketrampilan, ketenagakerjaan, kesenian serta berbagai lomba hadir  meramaikan tradisi yang sudah tidak asing lagi bagi rakyat Indonesia. Acara yang digelar di lapangan rumput Victoria park ini sebagai lanjutan dari pesta rakyat yang telah diadakan pada 16 Juli kemarin. Lomba membuat craft dan membuat sambal nusantara melengkapi pertunjukan ini.

Mengutip pernyataan Maesaroh ketua Asosiasi tenaga Kerja Indonesia (ATKI),  acara ini tujuannya untuk menjalin persatuan dari beberapa organisasi PMI di Hong Kong. Dalam kesempatan ini Mae (sapaan akrab Maesaroh) juga membahas tentang potongan agen yang menyalahi aturan masih banyak terjadi, sehingga dalam gebyar budaya ini juga di selipkan pengetahuan tentang ketenagakerjaan, agar teman – teman yang hadir bisa langsung berkonsultasi jika mempunyai masalah, dan yang belum mengerti bisa memahami peraturan.

Eni Lestari dari International Migran Alliace (IMA) menambahkan, walaupun sering diadakan sosialisasi ketenagakerjaan, tapi masih banyak masalah yang menyangkut pekerja migran Indonesia (PMI), karena PMI selalu berganti-ganti yang datang ke HK, sehingga masalah baru juga akan selalu ada. Dengan adanya kegiatan ini setidaknya teman PMI tidak hanya bisa meminta tolong, tapi justru bisa melihat bahwa banyak kelompok yang bisa membuat perubahan, dan ini yang terpenting.

Banyak teman PMI yang mengetahui hukum ketenagakerjaan dari media sosmed, tapi tidak banyak yang mengetahui tentang keorganisasian, karena hak tanpa organisasi akan percuma, organisasi lebih familier dalam membantu permasalahan PMI. Seringnya diadakan sosialisasi juga akan semakin banyak PMI yang mengerti bukan hanya haknya, tapi juga tahu bagaimana memperjuangkannya, karena di HK kita punya kesempatan melakukan pengorganisiran terbuka yang tidak sama dengan negara lain dan ini harus dimanfaatkan, ungkap Eni.

Tak kalah menariknya, Sringatin dari Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) mengatakan bahwa acara ini kegiatan positif dan sangat spesial guna mengangkat budaya Indonesia sambil bersosialisasi tentang ketenagakerjaan.

“ Rencana kedepan akan membahas kenaikan gaji dan jam istirahat, ini untuk program yang di HK serta membahas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan pelaksanaan UU no 39 untuk program pembahasan di Indonesia.”  tambahnya.

Sringatin juga mengatakan bahwa tanggal 20/8  akan mendatangkan tamu dari Komnas (Komisi Nasional) perempuan, dan akan sharing tentang perlindungan buruh migran dan keluarga dalam UU tahun 1990, dan ingin mengetahui apa kaitannya dengan konferensi Internasional juga UU no 39 itu sendiri dan BPJS.” pungkasnya.

Stand Enrich organisasi yang bergerak dalam bidang keuangan turut memeriahkan panggung budaya ini. Di bidang kesenian Joyo Setyo Budoyo – Jaranan sente rewe yang diketuai Galih juga ikut melestarikan budaya Indonesia dengan menampilkan tarian reog dan jaranan di lapangan rumput Victoria park. (*)

 Pewarta                  : Emma Vey                                                                                                                  Editor                     : AA Syifai SA

Advertisement
Advertisement