August 1, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Lakukan Penelusuran Jejak Dian Ke Cirebon, Ini Hasilnya

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

CIREBON – Berbekal secarik alamat yang tercantum pada KTP atas nama Dian Yulia Novi, koresponden Apakabaronline.com melakukan penelusuran ke alamat tersebut.  Begitu memasuki kawasan Desa Bakung Lor, tidak sulit menemukan alamat dalam KTP terduga “calon pengantin” Dian Yulia Novi, lantaran santernya pemberitaan media dalam negeri, membuat seisi warga kampung Bakung Lor mengetahui kejadian ini.

Saat berkunjung ke Kantor Kepala Desa Bakung Lor, kebenaran identitas dalam KTP tersebut dinyatakan valid oleh pemerintah desa. Sesuai dengan data di kantor desa, Dian merupakan anak pertama dari pasangan AS (50) dan DYT (48). Namun, aparat desa menyarankan untuk tidak usah bertamu ke rumah kedua orang tua Dian, apalagi menemui mereka. Saran pemerintah desa ini mempertimbangkan kondisi kesehatan kedua orang tua Dian yang telah beberapa tahun terakhir ini menderita sakit stroke.

Pihak pemerintah desa Bakung Lor kaalipertama mengetahui kejadian yang melibatkan warganya ini dari seorang anggota kepolisian sektor Klangengan yang menanyakan tempat tinggal Dian di Bakung Lor. Meski demikian, menyadari bisa membahayakan keselamatan jiwa orang tua Diaan yaang sakit, pihak pemerintah desa tidak memberitahu yang sesungguhnya kepada mereka. Pihak keluarga hanya diberi tahu jika Dian terkena razia yustisi.

Terkait dengan status Dian yang oleh Mabes Polri disebut sebagai mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI),  Watma, Kepala Desa Bakung Lor membenarkan hal tersebut.

“Dia datang ke balai desa untuk ngurus-ngurus administrasi berangkat menjadi TKW ke Taiwan pada tahun 2012. Tapi berangkat atau enggaknya, terus jadinya ke negara mana, saya juga tidak tahu, bisa saja, gagal ke Taiwan, kemudian berganti tujuan ke Singapura.” Terang Watma.

Berdasarkan keterangan salah satu kerabat Dian yang enggan di ungkap identitasnya, Sebelum ke luar negeri, Dian bekerja di Bandung, berjualan ikan. Kemudian, tahun 2011, Diaan pulang ke Cirebon untuk merawat ayahnya setelah diberitahu kondisi ayahnya yang sakit. Sejak saat itulah, kondisi perekonomian keluarga Dian terus mengalami keterpurukan. Biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan ayahnya semakin besar, tidak seimbang dengan pemasukan yang semakin lama semakin mengecil.

“Saat itulah, tidak lama kemudian, Dian memutuskan untuk berangkat kerja ke luar. Tidak ada yang bisa melarang, sebab Dian posisinya sebagaai tulang punggung keluarga” papar kerabat Dian.

Sebagaimana hyang dituturkan kepala desa dan beberapa warga yang ditemui, Diaan di kalangan Masyarakat Bakung Lor dikenal sebagai sosok yang baik. Ramah dan sopan dalam bergaul. Bahkan, masyarakat juga melihat, diantara saudara-saudaranya, Dian adalah sosok yang paling peduli dan perhatian terhadap keluarganya, terutama kedua orang tuanya.

“Setahu kami, Dian memang dikenal baik oleh warga dan sering sekali membantu orang tuannya. Tapi kami tidak tahu penyebabnya apa, tiba-tiba dia (Dian, red) ikut dalam jaringan teroris dan ditangkap polisi. Sulit rasanya kami untuk percaya.” aku Watma penuh keprihatinan.

Didampingi oleh kepala desa, kerabat Dian berharap khususnya kepada Dian, jika memang telah melakukan kesalahan, ya diakui saja supaya mudah proses selanjutnya. Tapi jika memang benar-benar tidak melakukan kesalahan, ya harus tegas menolak semua tuduhan.

“Harapan kami, kasus ini jangan sampai seperti kasus yang menimpa Siyono. Terkesan dipaksakan dan muncul banyak keganjilan.” Pungkas kerabat Dian. [Asa/OAJ]

Artikel Terkait :

Densus 88 : Dian, Eks PMI, Terduga Teroris Yang Siap Ledakkan Bom Di Istana

Dian Menuliskan Surat Wasiat

Advertisement
Advertisement