December 5, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sebatangkara, Mbah Samitun Hidup Dengan 3 Ekor Kambingnya

4 min read
-

Ponorogo – Tak sulit untuk mencari jejaknya, lantaran masyarakat sekitar sangat mengenalinya. Seorang nenek berusia senja yang setiap hari membawa gundukan rumput berjalan di pinggir Jalan Raya Ponorogo-Solo via Wonogiri, tepatnya di hutan Badegan. Meski renta, nenek-nenek itu berjalan dengan penuh kepastian hingga sampai ke rumahnya di RT 001/RW 003, Dusun Brangkal, Desa Biting, Kecamatan Badegan, Ponorogo dimana desa tersebut merupakan salah satu kantong pekerja migran Ponorogo.

Nenek bernama Samitun (86 tahun), ini tinggal bersama tiga ekor kambing kesayangannya yang diberi nama Blegon, Keploh, dan Gembrot. Ia bersama tiga kambingnya di rumah yang sangat sederhana di belakang rumah keponakannya di Dusun Brangkal.

Rumah yang ditempati Samitun berukuran sekitar 10 meter X 6 meter dengan dinding berupa anyaman bambu yang terlihat sudah usang. Di dalam rumah, terdapat dua ekor kambing dan satu kambing ditempatkan di luar rumah. Rumah tersebut tidak ada daun pintunya, hanya anyaman bambu yang dipasang untuk menutup sebagian pintu dan menahan saat kambingnya hendak keluar rumah.

Di dalam rumah itu, nyaris seluruh ruangan dipenuhi dengan kotoran kambing dan aroma di dalam rumahnya pun jauh dari kata wangi. Kotor, lembap, bau tak sedap, itulah yang menjadi gambaran di rumah yang ditempati Samitun bersama tiga ekor kambingnya.

Rumah itu juga tidak bersekat sama sekali, jadi satu ruangan menjadi tempat tidur, tempat untuk tiga ekor kambing, tempat memasak, dan tempat makan.

Sehari-hari, Samitun tidur di ranjang yang berukuran sekitar 1,5 meter X 0,5 meter di rumah itu. Ranjangnya pun tidak dilengkapi dengan kasur. Ranjang hanya diselimuti karung beras dan di atasnya juga terdapat kotoran kambing yang tercecer. Saat hendak tidur, Samitun harus membersihkannya terlebih dahulu.

Tidak ada perabotan rumah tangga seperti orang pada umumnya, seperti rak piring, almari, kursi dan meja, dan lainnya. Semuanya dibuat Samitun secara sederhana. Untuk tempat menyimpan pakaian, ia hanya menyediakan karung beras bekas untuk menyimpan pakainnya.

Samitun menceritakan telah bertahun-tahun tinggal di rumah tersebut yang merupakan rumah milik orang tuanya. Dia tinggal bersama tiga ekor kambing, yang dianggapnya sebagai anak sendiri.

Dia mengatakan suaminya telah meninggal puluhan tahun lalu dan dari pernikahan itu tidak dikaruniai seorang anak pun. Untuk mengisi hari-harinya, ia ditemani oleh tiga ekor kambing itu.

“Blegon, induk dari Keploh dan Gembrot sudah menemani saya dua tahun lalu. Sedangkan Keploh dan Gembrot baru lahir Lebaran tahun 2016. Kambing tersebut saya dapat awalnya dari orang menyuruh saya untuk memelihara kambingnya, kemudian kambing itu beranak dan anaknya diberikan kepada saya,” ujar nenek yang dimsa mudanya pernah bekerja sebagai karyawan swasta di Surabaya ini.

Dia mengaku sangat menyayangi ketiga kambing itu, bahkan apa yang ia makan juga harus dimakan oleh ketiga kambing itu. Ketiga kambing itu juga terlihat menuruti perkataan Samitun.

Saat itu, Samitun memanggil Keploh dan Blegon dan hendak memberi mereka makanan berupa singkong rebus. Setelah beberapa kali namanya disebut, kedua kambing itu langsung lari ke arah Samitun. Samitun pun langsung memberi mereka singkong rebus.

Saat kambing tersebut dirasa menganggu aktivitasnya, biasanya Samitun langsung menegur dan kambing-kambing itu pun akan menyingkir.

“Saya memberi mereka nama supaya lebih mudah memanggilnya. Kalau tidak diberi nama saya kesulitan memanggilnya,” kata dia.

Setiap hari, Samitun memberi makan tiga kambingnya itu sebanyak tiga kali yaitu sarapan, makan siang, dan makan sore. Untuk itu, setiap hari ia harus mencari rumput di hutan.

Tidak ingin menyusahkan orang lain

Samitun mengaku banyak saudara dan tetangganya yang menawarinya untuk pindah dan hidup bersama mereka. Namun, ia menolak karena tidak ingin merepotkan orang lain. Ia lebih memilih hidup sendiri meski serba pas-pasan. Ia pun tak pernah meminta-minta kepada orang lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sepanjang hayat dan fisiknya kuat, nenek Samitun terus bekerja dengan mencari kayu dan memelihara kambing untuk memutar roda kehidupannya. Kegigihan dan keuletannya bekerja meski hidup serba pas-pasan menjadikan nenek Samitun jarang sakit. Ia pun tak pernah mengeluh. Ia selalu bersyukur karena masih diberi umur panjang dan kesehatan.

“Kalau sakit paling hanya pusing saja,” kata Samitun.

Sementara itu, salah satu tetangga yang masih memiliki hubungan kekerabatan, Misiran (49) yang tinggal berdekatan dengan Samitun mengakui kakak kandung ibunya itu seorang pekerja keras, ulet dan pantang menyerah. Tak hanya itu, Samitun juga tak pernah menggantungkan dan meminta bantuan kepada orang lain selama hidup sendiri.

“Beliau itu seorang pekerja keras sejak masih muda sampai sekarang,” kata Misiran.

Menurut Misiran, keluarganya berulang kali menawari agar Samitun mau tinggal serumah dengan ibunya, istri dan anaknya. Namun Samitun lebih memilih hidup bersama kambing-kambing peliharannya. Namun saat sakit, Samitun baru mau tinggal dengan keluarganya.

“Kalau sudah sehat, Mbah Samitun kembali lagi dengan aktifitas dan memilih tinggal bersama kambingnya,” kata Misiran.

Misiran mengaku heran meski hidup dan tinggal bersama kambing, Samitun jarang sakit. Usai bangun pagi, Samitun mengumpulkan kotoran kambingnya lalu pergi ke hutan mencari rumput dan kayu.

Hasil ranting kayu yang dikumpulkan di hutan lalu dijual untuk membeli bahan makanan. Sedangkan kotoran kambing dikumpul di karung lalu dijual kepada petani tembakau.

“Saya akui Mbah Samitun naluri dagangnya luar biasa hingga bisa membuatnya tetap bertahan hidup sendirian sampai sekarang,” kata Misiran.

Untuk kambing peliharaan Samitun, Misiran pernah menawarkan kandang kosong yang berada disamping rumahnya. Namun Samitun menolaknya. Samitun juga menolak saat ia menawari dibuat sekat pembatas tempat tidur dengan kambing peliharannya. Dalihnya, Samitun khawatir kambing-kambingnya akan lepas bila tidak dekat dengan dirinya.

Soal makanan, Misiran juga membenarkan bila Samitun sering memberikan makanan manusia seperti gorengan, ubi rebus dan pisang rebus kepada kambing peliharannya.

Advertisement
Advertisement