June 19, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

SEORANG IBU DI HONG KONG DENGAN DUA ANAK KULIAH DI KAIRO

5 min read

”Saya masih ingat betul, sewaktu Ibu mau berangkat ke Hong Kong tahun 1997, Ibu bilang pada kami: ’Ibu mau pergi kerja supaya dapat uang, karena Ibu ingin kalian sekolah tinggi, jadi orang pintar, agar hidup kalian nanti enak.’ Dan, entah kenapa, kalimat Ibu tersebut terbayang terus setiap hari,” kenang Muhammad Adib, saat menerima kedatangan Apakabar Plus di rumahnya Jalan Mundu VII Kavling 12 Kelurahan Selokaton, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Adib adalah anak sulung Taryatin, pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong asal Desa Malangan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Perjalanan panjang telah dilewati Taryatin sejak 1997, atau setahun setelah ia menjanda selepas kepergian suaminya menghadap Sang Khalik.

Adib menuturkan, tekad utama sang ibu mendulang dolar ke Hong Kong tak lain demi masa depan kedua anaknya. Ia dan adiknya, Arinatul Aini atau Rina. Mereka ditinggal ibunya saat Adib, anak pertama, berusia 9 tahun dan Rina adiknya masih berusia 3 tahun. Keduanya dititipkan di bawah pengasuhan kakek dan neneknya.

”Zaman itu berat banget. Sebagai anak, di usia saya dan Rina yang masih kanak-kanak, tentu secara psikis sangat memerlukan kehadiran langsung figur ibu, setelah menjadi anak yatim,” terang Adib. ”Awal-awal ditinggal Ibu ke Hong Kong, saya merasa seperti tidak ada yang melindungi, meski Simbah sepenuhnya berusaha memenuhi segala kebutuhan psikis kami. Hal itu berlangsung beberapa tahun, sampai saya pernah sekali tidak naik kelas,” lanjutnya.

Adib mengaku, berkat kekuatan dari ucapan Taryatin saat berpamitan, keberanian dan semangat Adib pun tumbuh ketika ia mesti mengulang pelajaran di kelas 4 SD. Semangat Adib juga selalu ia tularkan kepada Rina, yang waktu itu menjelang masuk TK. ”Alhamdulillah, kami bisa bangkit. Prestasi di sekolah mulai bisa kami raih, hingga jenjang perguruan tinggi,” tuturnya.

Berkat prestasi belajarnya, Adib yang setamat SD fokus melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo hingga lulus jenjang SLTA, kemudian melanjutkan pendidikan di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berhasil lulus dengan predikat memuaskan. Setamat dari IAIN, Adib berkesempatan mendapat beasiswa ke Kairo – Mesir untuk melanjutkan S2.

Sepulang dari Mesir dan mendapat gelar seperti yang dimiliki Ustad Abdul Somad, Adib mengabdikan diri menjadi tenaga pendidik di sebuah perguruan tinggi di kawasan Surakarta. Kini, Adib yang baru saja dikaruniai anak pertama, telah menempati rumah hasil keringatnya sendiri. Ia juga sedang mempersiapkan diri untuk kembali bersaing mendapatkan beasiswa, agar niatnya melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral bisa tercapai.

Bagaimana dengan Rina? Meskipun berbeda jurusan, jalur akademik yang ia lalui sama dengan jalur yang pernah dilewati kakaknya. Bedanya, Rina menjejakkan kaki ke Kairo sejak ia lulus dari Pesantren Gontor Putri, yang berlokasi di kawasan perbatasan Ngawi – Sragen.

Kini, kedua alumnus pesantren bentukan Trimurti (KH Zarkasyi, KH Ahmad Sahal, dan KH Fanani) tersebut telah berhasil mewujudkan doa dan mimpi indah Taryatin 21 tahun silam. Tentu, berkat dorongan semangat darinya pula, kedua anaknya bisa menjadi orang pintar dan sekolah setinggi-tingginya.

 

Terinspirasi Dorongan Sang Ibu

Kepada Apakabar Plus, melalui sambungan telepon dari Kairo, Rina mengaku terinspirasi pula oleh dorongan ibunya, di samping kakaknya Adib, setiap mengawali proses belajar. ”Sepeninggal Simbah, saya punya dua panutan. Pertama adalah Ibu, yang bagaimana pun telah mati-matian memperjuangkan masa depan kami. Kedua Mas Adib, yang setiap saat selalu memastikan saya dalam kondisi tidak tertinggal pelajaran dan terus berkembang,” aku Rina.

Terkait dengan status mereka sebagai anak seorang PMI/TKW, keduanya mengaku banyak teman yang tak percaya kalau ibunya bekerja di Hong Kong sejak 1997. ”Semasa di Gontor, saya cerita ke teman-teman, kalau saya anak seorang TKW Hong Kong. Respons mereka biasa-biasa saja, lha wong bukan cuma santri, ada juga ustadz di sana yang belakangan saya tahu anak TKW Hong Kong. Jadi, status anak TKW di Gontor bukan hal aneh, apalagi miring,” tutur Adib.

Baru setelah Adib masuk kuliah di IAIN Jogja, pandangan aneh mulai bermunculan saat mengetahui ia anak seorang TKW. Bukan cuma teman sesama mahasiswa, dosen walinya pun heran. Apalagi saat Adib berangkat ke Kairo, ia adalah satu-satunya anak TKW yang kuliah ke Mesir di angkatannya.

”Karena itu, saya bangga menjadi anak TKW. Bangga menjadi anak Ibu. Meskipun Ibu mengaku sebagai orang bodoh yang tidak ingin anaknya menjadi bodoh, justru pengakuan tersebut sangat mencerminkan kalau Ibu tidak sedang menjadi orang bodoh,” tegas Adib.

Senada dengan Adib, terkait dengan status mereka sebagai anak PMI, Rina pun merasakan hal yang sama. Sebab, meski berbeda lokasi, pesantren tempat Rina dibesut menjadi manusia berkarakter selama enam tahun, adalah pesantren yang sama dengan tempat Adib menuntut ilmu, Gontor Putri.

”Kalau saya, belum pernah merasakan kuliah di Indonesia. Setamat dari Gontor, usai mengabdi, saya langsung mendapat jalur beasiswa ke Kairo. Lulusan Gontor di sini memang banyak banget, tapi sepertinya hanya saya yang berlatarbelakang anak TKW. Dan, ini juga dianggap aneh di mata teman-teman sesama mahasiswa. Bukan hanya mahasiswa asal Indonesia, tapi juga yang berasal dari Malaysia dan Singapura. Mereka heran mengetahui saya anak TKW,” terang Rina

Ketika Apakabar Plus mengonfirmasi Taryatin, ihwal bagaimana dan tips apa yang ia terapkan selama 21 tahun mendidik anaknya secara jarak jauh? Taryatin mengaku tidak punya tips istimewa. ”Saya ini kan orang bodoh yang nekat bekerja ke Hong Kong, supaya bisa membiayai kedua anak saya agar tidak menjadi orang bodoh seperti saya. Itu niat utama sejak awal. Lalu, kalau urusan pelajaran sekolah, ya saya hanya bisa nanya mereka: sekolahnya bagaimana, apa yang tidak bisa, dan kenapa kok tidak bisa? Hanya nanya-nanya saja. Sebab, kalau mau mengajari, saya juga tidak bisa,” cetusnya.

Hal terpenting kedua, menurut Taryatin, adalah memilihkan sekolah buat anak-anaknya. Sebab, ia meyakini, di tengah besarnya godaan lantaran berjauhan dengan orangtua, sekolahan – dengan segala yang ada – juga punya andil besar dalam membentuk karakter seorang anak. ”Dua tahun pertama Adib masuk Gontor, saya itu sedih banget melihat kondisi anak saya. Badannya kurus kerempeng, kayak penthol korek jres. Persis. Kepalanya gundul dan tetap besar,” kenangnya.

Taryatin mengaku sempat terkoyak semangatnya melihat kondisi Adib. Bahkan, tidak sekadar menemui ustadz pembina, Taryatin sampai menemui kiai pengasuh, KH Hasan Sahal, untuk curhat atas kondisi Adib yang membuatnya dilematis. ”Kiai Hasan menjawab dengan guyonan, ’Kuru-kuru nek waras, kuru-kuru nek pinter, kuru-kuru tapi sehat. Lha wong saya juga sama kurusnya dengan putra Ibu,’ sambil terkekeh-kekeh gitu,” lanjutnya.

Akhirnya, setelah diberi pencerahan oleh KH Hasan, Taryatin menjadi semakin termotivasi dan semakin yakin. Apalagi, Pak Kiai menunjukkan kepadanya tentang prestasi akademik Adib selama dua tahun pertama di Gontor, di atas rata-rata teman-temannya.

Taryatin mengaku, hampir seluruh hasil kerjanya selama di Hong Kong, saat kedua anaknya menapaki pendidikan SD dan pesantren, sengaja ia prioritaskan untuk membiayai mereka. Namun, setelah melanjutkan kuliah ke Mesir, Taryatin sudah tidak pernah lagi mengirimkan uang untuk keduanya.

Baru empat tahun terakhir dari 21 tahun masa kerjanya di Hong Kong, Taryatin bisa menyisihkan gaji untuk investasi hari tua dan mewujudkan niatnya untuk pergi ke Tanah Suci, naik haji dari Hong Kong. ”Doakan ya, semoga Allah mempermudah jalan buat saya,” pungkas  perempuan yang saat ini telah berusia 56 tahun. [AA Syifai SA]

 

Advertisement
Advertisement