June 23, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Setelah 7 Bulan Tertahan, Jenazah PMI Asal Cilacap Tiba Di Kampung Halaman

2 min read

CILACAP– “Janjinya proses pemulangan 20 hari tapi tidak kunjung dipulangkan. Kemudian setelah itu saya  laporkan ke mana-mana, sudah ke DPRD, pihak Kemenlu, KBRI dan Agen yang ada di sana bahkan ke Polda. Dari perusahaan yang ada di sana bilangnya nggak usah dipulangkan katanya ribet, tapi dari pihak keluarga ngotot harus dipulangkan, kondisinya seperti apapun,” ujar Mujiati (31) istri Eko Parwoto saat mengawali percakapan dengan awak media di rumahnya.

Jenazah Eko Parwoto seorang pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan yang terkatung-katung selama tujuh bulan, akhirnya tiba di rumah duka di Kelurahan Donan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Kedatangan almarhum Eko disambut isak tangis keluarga.

Eko Parwoto dikabarkan meninggal saat bekerja sebagai anak buah kapal (abk) saat mencari ikan di lautan lepas pada Oktober 2017. Dia tidak segera dipulangkan karena posisi kapal sedang berlayar dan jauh dari daratan. Untuk mengawetkannya, awak kapal akhirnya menyimpan jenazah Eko di lemari pendingin.

Setelah melalui proses autopsi, almarhum ternyata meninggal dunia karena serangan jantung saat menangkap ikan. Menurut perwakilan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), Imam Burhanudin, jenazah baru bisa dipulangkan ke kampung halamannya setelah pihaknya, Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), berkoordinasi mengurus semua dokumen kepulangan almarhum Eko.

“Alhamdulillah proses pengeluaran selama satu bulan akhirnya keluar. Gaji sudah selesai tinggal asuransi dan santunan dari agensi di Taiwan,” kata, Imam Burhanudin, Minggu (27/5/2018) malam.

Sang istri Mujiati (31) mengatakan, bahwa suaminya bekerja di Taiwan sejak 9 November 2016. Sebagai anak buah kapal (ABK) penangkap ikan di laut lepas. Dia mendapatkan kabar duka dari perusahaan yang memberangkatkan, bahwa suaminya meninggal.

Sesuai dengan keterangan beberapa rekan kerja yang juga dari Cilacap, Eko meninggal secara mendadak ketika bekerja di sana. “Saya dapat kabar dari PT yang memberangkatkan bahwa suami saya meninggal. Kalau meninggalnya karena apa, bilangnya si sakit,” ujarnya.

Namun anehnya ketika rekan-rekan kerja sudah pulang ke Indonesia, jenazah Eko belum dipulangkan ke kampung halamannya. Pihak keluarga kemudian meminta pertanggungjawaban perusahaan yang berlokasi di Pemalang tersebut. Tetapi dari beberapa kali usahanya tetap tidak ada kepastian.

Keluarga sendiri sebenarnya sudah mengikhlaskan bahwa Eko meninggal saat bekerja. Namun jasad korban harus dipulangkan dan kasusnya juga harus terungkap. “Ya sudah ikhlas cuma kok pengurusannya seperti ini, jadi kasihan jenazahnya kayak diombang-ambingkan gitu,” katanya.

Dikatakan, mendapat kabar pemulangannya itu karena terus kontak dengan pihak KBRI yang ada di sana.  “Setelah jenazah pulang akhirnya lega sudah dimakamkan juga. Tapi saya akan tetap tuntut PT-nya itu, ibaratnya sudah bilanya paling nggak satu bulan namun delapan bulan baru dipulangkan. Sudah bikin keluarga sakit hati, orangtua juga jadi drop karena mikirin anak,” ujarnya.

Sementara itu, pihak keluarga hanya bisa pasrah dan bersyukur jenazah Eko bisa dipulangkan. Rencananya almarhum akan dikebumikan di pemakaman umum di desanya pada hari ini, Senin (28/5/2018). [Heri/Andrian]

Advertisement
Advertisement