May 17, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Suara Gemuruh Bukit di Dayakan, Tingkatkan Jumlah Warga Di Pengungsian

2 min read

Ponorogo – Suasana panik kian terlihat saat Apakabar memasuki Desa Dayakan. Terutama di seputaran SDN 2 Dayakan yang menjadi sentral pos pengungsian. Di Kantor desa, tampak sibuk aktifitas beberapa petugas BVMBG, BPBD, Basarnas, serta Kepolisian. Mereka yang tergabung dalam tim penanganan bencana tanah merekah di Dayakan sedang bekerja melakukan pemantauan pada setiap perkembangan.

Hasilnya ? Status siaga resmi dikeluarkan. Potensi ancaman longsor makin meningkat di wilayah Ponorogo. Tanah retak disertai bunyi gemuruh di Desa Dayakan Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo  menyebabkan jumlah pengungsi bertambah.

“Jika pada awalnya pengungsi dari Dusun Watuagung Desa Dayakan  berjumlah 249, saat ini bertambah menjadi 341 jiwa menyusul adalah dentuman suara  gemuruh  sangat keras sebanyak 21 kali pada Senin (10/4/2017). Lebar tanah yang retak mencapai sekitar panjang 300 meter, lebar 40 centimeter dan kedalaman 3 meter di Watuagung,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya.

Ia menambahkan, warga terdampak sebanyak 91 orang yang berlokasi di Dukuh Kliur RT. 8  yang berada langsung di bawah Dusun Watuagung ikut mengungsi sehingga keseluruhan  pengungsi berjumlah 341 orang. Sebanyak 22 unit rumah rusak dari total 69 unit rumah yang terdampak sehingga penghuninya dikosongkan seluruhnya.

Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di rumahnya dan di sekitar daerah terlarang untuk mengantisipasi kemungkinan longsor.

“Seluruh pengungsi ditempatkan 2 tenda pengungsi, SD 2 Dayakan  dan rumah penduduk yang ditunjuk sebagai tempat pengungsian yakni rumah Mariman, Sriyono, Nyaman, Mujoko, Siman, Giyanto. BPBD Ponorogo telah mendirikan Posko di Balai Desa Dayakan. Pemantauan dan koordinasi dilakukan bersama dengan Muspika dan Perangkat Desa,” bebernya.

BPBD bersama TNI, Polri, Tagana, PMI, SKPD, relawan dan masyarakat memberikan bantuan logistik, tenda, tikar, selimut, terpal, kebutuhan air bersih, MCK dan lainnya. BMKG Tretes Malang telah memasang seismograf untuk mendeteksi gempa dan getaran tanah.

Kebutuhan mendesak adalah kebutuhan keperluan balita, keperluan mandi, pakaian layak pakai, pelayanan kesehatan, sanitasi dan lainnya.

“Masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaannya mengingat potensi longsor masih tinggi di wilayah Ponorogo. Hujan berintensitas tinggi masih berpeluang hingga awal Mei. Kondisi tanah sudah jenuh air. Apalagi kondisi batuan sudah banyak yang mengalami pelapukan sehingga mudah longsor,” tutupnya. [Asa/KMP]

Advertisement
Advertisement