May 10, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sumini, Apa Salah Kami ?

8 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

“Aku itu tidak punya suami, kalau ada yang bilang aku punya suami, itu paling paling niatnya hanya ingin merecoki hidupku saja” masih aku simpan kalimat dalam sebuah pesan pendek yang difoward kepadaku dari  Sumini istriku kepada temannya yang sampai kepadaku.

Jika saja aku mengungkit masa lalu, sebenarnya luka akibat tanya yang belum terjawab itu masih terasa. Belum sampai luka itu terhapuskan, kini ditambahi lagi sayatan baru yang menambah akut.  Bagaimana tidak, saat aku menikah dengan Sumini, sebulan kemudian saat diperiksakan ke dokter aku mendapati Sumini istriku telah hamil 3 bulan. Artinya saat akad nikah dilangsungkan, sebenarnya Sumini telah hamil 2 bulan. Sedangkan aku sebelum menikah sama sekali tidak pernah menjamah tubuhnya.

Menyadari telah terjadi sesuatu yang tidak beres, sepulang dari dokter aku menanyakan kejelasan keterangan dokter tersebut pada Sumini sembari membuka amplop yang berisi foto usg dan buku kehamilan. Namun dia tidak mengatakan sesuatu. Hanya tangis dan air mata yang menjadi jawabannya. Aku yang dalam posisi serba salah menjadi kesulitan untuk mengambil sikap. Sumini sampai beberapa hari tidak mau menanggapi pertanyaanku selain diam dan menangis setiap kali aku tanya.

Sebagai pasangan baru yang sebelumnya sama-sama berstatus perjaka dan perawan, tentu ini merupakan cobaan berat di awal rumah tangga kami saat itu. Sempat terbersit dalam diriku untuk mengakhiri saja pernikahan tersebut lantaran istriku menyembunyikan kehamilannya dengan orang lain saat akad nikah dilangsungkan. Namun disisi lain, bagaimana kekecewaan keluarga besarku dan keluarga besar istriku nantinya jika perceraian harus terjadi. Sedangkan aku tahu, mertua laki-laki istriku kondisinya sedang sakit-sakitan. Komplikasi antara jantung, stroke dan kencing manis. Aku membayangkan bagaimana mertuaku jika mengetahui kondisi anak perempuannya telah hamil dengan orang lain saat menikah denganku kemudian aku menceraikannya. Pemikiran seperti itulah yang membuatku mengurungkan niat untuk menceraikan istriku.

Seminggu setelah dari dokter, saat aku mencoba berbicara empat mata, untuk meminta kejujurannya,  istriku menyampaikan kepadaku kalau aku tidak bisa menerima dia dan bayi itu, dia meminta aku untuk menceraikan saja. Hanya itu saja jawabannya. Dia tetap tidak mau mengakui siapa laki-laki yang telah menanam benih dalam rahimnya. Padahal, beberapa kali yakinkan pada istriku bahwa aku hanya ingin mengetahui siapa laki-laki itu, bukan berniat akan menceraikannya apalagi berniat akan melakukan gugatan pertanggung jawaban pada laki-laki itu.

Namun setelah aku memohon petunjuk pada Allah SWT, akhirnya aku ikhlas menerima apa adanya kondisi Sumini sekaligus bayi yang dalam kandungannya yang sebenarnya bukan anakku. Meski dalam hatiku masih menyimpan pertanyaan, dan terasa berat serta mengganggu setiapkali muncul ke permukaan alam kesadaranku, aku bertekad harus bisa menjaga keutuhan rumah tanggaku. Sebab, dalam keyakinanku, setiap oraang itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Dan disissi lain, mempertahankan keutuhan rumaah tangga itu lebih berat daripada memulai mencari pasangan untuk membaangun sebuah rumah tangga.

Setiap bulan, kami rutin melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Aku yang saat itu secara finansial mampu mencukupi kebutuhan, meskipun tidak memiliki pekerjaan tetap, bersyykur sekali bisa menjamin segala keperluan kehamilan istriku. Begitu juga dengan persiapan menjelang persalinan. Satu persatu properti yang diperlukan mulai kami beli dan kumpulkan.

Saat hari persalinan telah tiba, kebahagiaan sangat aku rasakan. Aku yang telah melupakan bahwa bayi yang lahir tersebut merupakan benih orang lain bisa menerima dengan ikhlas dan bahagia kelahiran bayi perempuan tersebut yang lahir dengan proses normal. Pun demikian dengan kedua mertuaku dan kedua orang tuaku. Kehadiran cucu perempuan yang telah ditunggu-tunggu ini merupakan cucu perempuan pertama bagi mertuaku dan cucu pertama bagi kedua orang tuaku.

Namun kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah bayi perempuan tersebut dibawa pulang, gosip dari tetangga kiri dan kanan mulai terdengar. Mengenaai bayi perempuan yang lahir di bulan kesembilan usia kehamilan namun di bulan ketujuh usia perkawinan.  Dan tentu hal tersebut sangat tidak mengenakkan. Kedua mertuaku tidak merasa dipusingkan dengan kabar tersebut. Naamun tidak demikian dengan kedua orang tuaku. Mereka yang memiliki pandangan beragama lebih kuat, memandang jika benar gosi[p tersebut, berarti aku dan istriku telah melakukan zina sebelum kami menikah.

Tak tahan mendengar gosip yang kian meruncing, kedua orang tuaku secara pribadi menanyai aku dan istriku perihal gosip tersebut. Sebelum istriku sempat menjawab, aku mendahului menyatakan kepada kedua orang tuaku bahwa gosip tersebut benar dan bayi perempuan ini adalah anak kami. Mendengar kalimatku, seketika istriku menangis terisak-isak sembari memeluk kedua kakiku. Sedangkan kedua orang tuaku, terutama bapakku mereaksi kalimatku dengan kalimat murka. “kamu harus menikah lagi segera, sebab pernikahan yang kemarin tidak syah. Kamu harus menikah lagi supaya kalian tidak zina dan rumah tangga kalian diberkahi Allah SWT”

Aku mengiyakan kalimat bapakku sembari meminta ampunan pada kedua orang tuaku. Tak lama kemudian mereka  pergi meninggalkan kami. Istriku menangis meminta ampunanku, karena perbuatannya, membuat aku harus berbohong kepada kedua orang tuaku. Dan tentu kalimat yang meluncur dalam pernyataanku sama sekali tidak pernah diduga oleh istriku sebelumnya.

Setelah segala sesuatunya telah siap, termasuk memberi pengertian kepada kedua mertua kami, akhirnya kami dinikahkan kembali. Ijab kabul dilangsungkan lagi, demi keabsahan rumah tangga kami. Meskipun prosesi tersebut hanya intern diketahui oleh keluarga inti masing-masing kami, namun setelah pengulangan ijab kabul, aku merasa menjadi lebih tenang.

            Sebagai rumah tangga baru, tentu wajar jika kemapanan baik dari segi ekonomi maupun dari segi lainnya masih pada tahapan merintis. Dalam kondisi ddemikian, aku istri dan anakku tinggal menumpang di rumah kedua orang tuaku. Karena belum memiliki pekerjaan tetap, aku seringkali tidak pulang sampai beberapa hari lantaran disibukkan mencari uang sampai ke luar daerah. Pada saat itu aku sering diajak oleh temanku untuk berjualan barang antik. Setiap aku pulang, aku selalu membawa rupiah yang lumayan dan selalu aku serahkan pada istriku seluruhnya.

Namun pemandangan ganjil mulai aku rasakan. Setiap kali aku pulang, seringkali aku tidak mendapati istri dan anakku di rumah. Istriku hampir selalu pulang ke rumaah kedua orang tuanya setiapkali aku pergi ke luar kota. Suasana ini tentu menjadi tidak mengenakkan baik aku maupun kedua orang tuaku. Sampai suatu saat, aku menanyai istriku tentang kebiasaan tersebut, istriku menjawab kepingin punya tempat tinggal sendiri meskipun ngontrak.

Tentu hal ini tidak mudah bagiku sebab aku adalah seorang anak tunggal. Sejak awal kedua orang tuaku mewanti-wanti aku agar kelak jika berumah tangga tinggal di rumah saja. Menemani mereka sampai akhir hayatnya. Jika tidak demikian kondisinya, tentu sudah sejak dulu-dulu aku pergi merantau keluar daerah. Bahkan, saat lulus SMA pun kedua orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk kuliah jauh keluar kota. Terpaksa aku menempuh bangku pendidikan tinggi di sebuah PTS di kotaku.

Suatu hari istriku mengutarakan niatnya untuk kembali bekerja keluar negeri dengan tujuan mencari modal untuk membangun rumah di sebelah rumah kedua orang tuaku. Setelah akue meminta pertimbangan kedua orang tuaku, akbhirnya keluarga menyetujui keinginan istriku meskipun sempat alot karena dianggap mencari hal yang tidak perlu dicari. Proses keberangkatanpun dimulai. Melalui jasa sebuah PPTKIS, tiga bulan berselang, genap saat usia anak kami 11 bulan, istriku terbang ke Hong Kong.

Bulan kedua istriku bekerja di Hong Kong, aku mendapat informasi sebuah lowongan pekerjaan di sebuah bank milik swasta. Aku mencoba memasukkan lamaran, dan sebulan kemudian aku mendapat panggilan hingga akhirnya aku dinyatakan diterima bekerja di bank tersebut. Aku ditempatkan di sebuah cabang pembantu di sebuah kecamatan pelosok di kabupaten tempat aku bekerja.

Sebagaai karyawan baru, tentu gaji bulananku tidak sebesar pendapatanku saat aku ikut berbisnis barang antik. Namun meski demikian, aku memiliki penghasilan tetap, jaminan kesehatan, jaminan hari tua serta jaminan perumahan dan anak istri. Kabar gembira ini aku sampaikan pada istriku yang waktu itu tepat memasuki bulan dimana dia telah habis masa potongan gajinya. Aku sampaikan bahwa aku telah menjadi karyawan tetap dengan gaji tetap meskipun kecil. Aku juga menyampaikan pada istriku unttuk menyimpan saja di rekening semua gaji dia karena semua kebutuhan di rumah bisa dipenuhi dengan pendapatanku. Istriku mengiyakan, dan karena hal tersebut, sejak saat itu September 2008 sampai sekarang istriku tidak pernah mengirimkan gajinya padaku suaminya.

Dalam setiap komunikasi, aku juga menyampaikan bahwa aku juga mulai mencicil material bahan bangunan dari gajiku yang bisa aku sisihkan. Dan aku mengharap pada istriku, agar nanti setelah dua ttahun di Hong Kong, sebaiknya pulang saja ke ruumah. Insyaallah dengan rizki yang Allah berikan sudah cukup untuk menjalani hidup sesuai dengan cita-cita. Istriku mengiyakan, kemudian dia sempat memberi kabar di akhir tahun kedua dia bekerja mengenai rencana kepulangan dia. Istriku berencana pulang di bulan Desember 2010. Hal itu dia kabarkan padaku pada November 2010. Sebulan sebelum rencana kepulangan.

Namun, beberapa saat kemudian setelah komunikasi tersebut, aku menanyakan tentang tanggal kedatangan dan maskapai yang dinaiki, istriku sudah tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan saat bulan Desember telah habis, memasuki Januari 2011, nomer istriku malah sudah tidak digunakan lagi. Gelisahku semakin menjadi-jadi. Aku mencari tahu kepada kedua mertuaku, namun keluarga istriku tidak satupun yang mengetahui.

Setiap ada tetangga istriku maupun tettanggaku yang pulang dari Hong Kong, selalu aku tanyai perihal istriku. Namun tak satupun dari mereka yang mengetahui keberradaan istriku. Aku mencoba bertanya ke PPTKIS yang memberangkatkan istriku untuk mencari tahu, namun jawaban mereka istriku telah pindah agen sejak November 2010, dan hal tersebut meengakibatkan terputusnya akses data PPTKIS tersebut dengan istriku sebab agen yang baru bukanlah agen ang berjaringan dengan PPTKIS yang memberangkatkan istriku.

Suatu hari, sekitar September 2014, hampir dua tahun setelah kabar istriku tak kuketahui, tiba-tiba salah seorang tetanggaku melalui temannya ada yang mengetahui jejak istriku di Hong Kong. Tetanggaku tersebut memfoward sebuah pesan ppendek dari istriku kepada temannya yang berteman dengan tetanggaku tersebut yang isinya “Aku itu tidak punya suami, kalau ada yang bilang aku punya suami, itu paling paling niatnya hanya ingin merecoki hidupku saja” .

Kemudian aku diberi nomer Whatsapp Istriku. Setelah aku masukkan kedalam daftar pertemanan, kemudian aku menghubungi dia, sembari mengirimkan fotoku, foto anak kami, foto mertuaku dan foto foto suasana di kamppung halaman. Namun istriku justru malah memblokir nomerku. Saat aku membuat akun whatsapp baru dengan nomer yyang lain, ternyata nomer istriku terakhir kali online adalah sesaat setelah aku mengirimi dia foto dan pesan pendek. Istriku telah berganti nomer, begitu kesimpulanku dan kesimpulan temanku.

Aku masih belum menyerah, aku sampaikan perihal tidak aktifnya nomer istriku pada tetangaku dan langsung disampaikan kepada temannya. Namun baik tetanggaku maupun teman tetanggaku juga mengalami hal yang sama dengan aku. Mereka tidak mengetahui nomer istriku yang baru. Bahkan hingga saat ini, saat cerita ini aku tuturkan kepada Apakabaronline.com

8 tahun telah berlalu, tak juga kutemukan jawabannya kenapa Sumini istriku tega berlaku demikian kepadaku. Jika aku memiliki kesalahan, kenapa dia tidak terbuka menunjukkan apa salahku, namun jika dia kesandung masalah, kenapa tidak juga menceritakannya kepadaku. Kini, Karina putri kami telah berusia 9 tahun. Telah duduk di bangku SD, mulai bisa membaca yang bukan sekedar aksara saja. Kini, janjiku untuk mencicil mewujudkan rumah impian istriku telah hampir semppurna terwujud. Material bangunan telah cukup aku kumpulkaan.  Mulai dari batu untuk pondasi, besi untuk kerangka cor, batu koral untuk cor, pasir bangunan, batu bata dan genteng. Tinggal pengerjaan dan finishingnya saja yang belum kesampaian.

Sumini, jika kamu membaca curahan hatiku ini, tolonglah jangan menggantung aku dan anak kita seperti ini. Beri kami kejelasan supaya segala sesuatunya terang benderang. Jangan sampai memberi sesuatu yang nanti berpotensi mengakibatkan penyesalan. Alhamdulilah saat ini aku telah mulai mandiri dengan pekerjaanku di sebuah bank swasta. Hubungi kami Sum, atau pulanglah !!!  [seperti dituturkan Edi Rohmad kepada Asa dari Apakabar]

Advertisement
Advertisement