May 18, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tangis Histeris dan Hujan Air Mata Sambut Datangnya Jenazah Pahlawan Devisa Yang Jadi Harapan Keluarga

2 min read

SRAGEN –  Tangis histeris keluarga dan kerabat seketika pecah saat ambulans pembawa jenazah Wami Windasih, BMI yang bekerja di Penang Malaysia ini tiba di rumah duka, Dukuh Kandangsapi RT 9, Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Sragen, pagi tadi (27/10). Ayah Almarhumah yang selama ini sakit-sakitan, tampak tersengal sengal tak kuasa menahan kesedihan. Ibunya pingsan dan baru sadar usai jenazah disholatkan.

Begini Ungkapan Keluarga Titik Katinengsih, BMI Madiun Yang Menjadi Korban Meninggal Dalam Kecelakaan Maut Di Penang Malaysia

Ratusan pelayat, tumpah ruah tak ingin ketinggalan kesempatan memberikan penghirmatan terakhir untuk almarhumah. Dari jerit tangis keluargalah, terungkap kisah, ternyata, tujuan utama yang pertama kaali ingin diraih Wami pergi ke Malaysia adalah untuk mencari biaya pengobatan ayahnya. Sekian tahun lamanya, Wagiyono menderita sakit paru-paru, hingga membuatnya tak lagi bisa mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Keadaan ini memaksa Suparmi sang ibunda untuk membanting tulang menggantikan posisi Wagiyono sebagai kepala keluarga.

Pandu, Kepala desa Kandangsapi membenarkan ungkapan tersebut.

“Bapaknya, Wagiyono (44) memang sudah lama sakit-sakitan. Kalau enggak salah paru-paru. Nah Mbak Winda (almarhumah) itu ke Malaysia itu jane juga untuk mbantu nyari uang buat biaya pengobatan bapaknya. Nggak tahunya, Allah berkehendak lain, ” ujarnya usai mendampingi keluarga almarhumah melakukan serah terima jenazah.

Pandu menuturkan cita-cita mulia Winda memang belum kesampaian karena baru sebulan bekerja di Malaysia. Dia berangkat 29 September lalu dan belum sempat berkirim uang hasil jerih payahnya ke keluarga.

Tragedi Subuh Berdarah, Renggut Nyawa 7 BMI

“Kehidupan keluarganya memang tidak mampu. Ibunya hanya jualan cilok bapaknya buruh tani tapi kondisinya sakit-sakitan. Mbak Winda itu jadi TKW karepe juga ingin merubah ekonomi keluarga agar tidak miskin lagi. Dia selama ini menjadi tulang punggung keluarga, ” urai Pandu.

 

Almarhumah Melarang Ibunya Kerja Ke Luar Negeri

Sasmita, rekan seangkatan almarhumah di SMKN Jenar mengaku pernah dicurhati almarhumah waktu mau kenaikan kelas 3 SMK. Almarhumah bercerita bahwa ibunya akan kerja keluar negeri, tapi almarhumah menolak keras.

“Wami itu melarang ibunyajadi TKW. Dia tidak tega, takut ibunya disiksa diluar negeri. Makanya, dia waktu itu pernah cerita ke saya, biar aku saja sas yang kerja jadi TKW, biar aku saja yang menantang resiko. Jangan sampai ibuku yang pergi, kasihan, aku tidak tega” tutur Sas.

“Saya sama sekali tidak menduga, kata-kata dia ‘biar aku saja yang menantang resiko, jangan ibuku’ kok sekarang kenyataannya seperti ini” pungkas Sas diantara isak tangisnya.  [Asa/War]

Advertisement
Advertisement