December 5, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tertipu Lelaki “Ganteng” (01)

4 min read
-

Karena terlena, kesadaran dan akal sehatku tidak bisa membedakan mana ketulusan dan mana tipu daya. Hingga dua kali sebagian hasil keringatku terkuras sia-sia. Keduanya terbalut tampilan yang bukan saja bersahaja. Tapi juga dilengkapi dengan tutur kata yang memikat, tampang rupawan yang menghanyutkan.

Keberangkatanku ke Hong Kong merupakan upaya yang aku pilih sebagai respon dari kegagalanku berumah tangga. Sebagai langkah yang aku lakukan untuk menjawab berbagai ejekan kemiskinan yang dialamatkan keluarga mantan suamiku padaku dan pada keluargaku. Meskipun kasat mata aku dan suamiku bercerai lantaran hadirnya orang ketiga, suamiku menikah lagi dengan seorang perempuan yang secara materi berasal dari keluarga yang kaya, namun sebenarnya hal mendasar yang aku rasakan sejak pertama kami berhubungan serius hingga mengawali membina rumah tangga, keluarga suamiku tidak bisa menerima aku dengan kemiskinanku dan kemiskinan keluargaku.

Beruntung dari pernikahanku tidak dikaruniai anak. Hingga membuat aku lebih merasa bebas untuk bekerja tanpa harus membagi perhatian. Terhitung sejak Maret 2008, diusiaku yang ke 23 hingga sekarang aku masih bekerja di Hong Kong. Tiga tahun pertama aku bisa benar-benar fokus mengumpulkan materi. Renovasi rumah, membeli kendaraan, membeli beberapa bidang tanah berhasil aku capai. Sejak tahun ketiga, penghasilanku di Hong Kong melonjak bisa mencapai tiga kali lipat dari dua tahun pertama. Bahkan terkadang lebih. Sebab, disamping menerima gaji bulanan dari majikanku, aku memiliki usaha online berjualan pakaian, aksesoris dan kosmetik.

Hingga saat memasuki tahun keempat aku bekerja di Hong Kong, setelah renovasi rumah selesai, alhamdulilah aku berhasil memberangkatkan kedua orang tuaku menunaikan ibadah umroh ke tanah suci. Selanjutnya, secara materi, aku berhasil mewujudkan impian memiliki mobil SUV yang terpajang di garasi rumah. Sejak saat itu, kedua orang tuaku tak perlu lagi bekerja menggarap ladang tetangga. Sebab, dari ladang pertanian yang berhasil aku beli, justru malah memerlukan tenaga kerja tambahan dalam menjalankannya.

Sedangkan untuk ibuku, aku berhasil memodali tempat usaha berikut aset lainnya sehingga terwujudlah sebuah toko kelontong. Dari kesibukan ibu menjalankan toko kelontong ini, tak perlu lagi ibu mengayuh sepeda mengelilingi beberapa desa menjajakan dagangan sayuran mentah. Ibu cukup duduk manis di rumah saja saat melayani pembeli, meskipun rutinitas ke pasar untuk berkulakan dagangan tetap harus dilakukan.

Dalam kondisi yang demikian, cobaan kembali menghampiri aku dan keluargaku di kampung halaman. Perubahan secara finansial yang berhasil kami wujudkan, ternyata menyisakan fitnah kejam. Ada sekelompok orang di kampungku yang sengaja menghembuskan suara miring mengenai keberhasilanku. Beberapa mereka memfitnah kami memelihara pesugihan hingga kami bisa mendapatkan kekayan seperti itu dalam waktu hanya beberapa tahun saja. Dan ada juga suara fitnah yang menyebutku sebagai gundik dari orang asing sehingga di Hong Kong aku mendapat penghasilan lebih.

Namun aku bersyukur, menyikapi suara miring dari fitnah tersebut, kedua orang tuaku justru menjauhi sikap amarah yang membabi buta. Bapak dan ibu tak henti-hentinya menyuruh aku untuk tetap bersabar, bekerja dan beribadah lebih tekun. Bapak mengingatkan, bahwa kejadian tersebut merupakan cobaan.

Bapak juga mengingatkaan, mungkin saja dari setumpuk materi yang telah berhasil aku kumpulkan, ada hak fakir miskin yang belum aku sampaikan. Dan bapak berusaha membangun pemahaman yang logis, dengan menganalisa pola pikir kebanyakan warga desa di kampung halaman. Adalah sebuah kewajaran jika materi yang nampak seperti itu berrhasil di dapat dalam tempo waktu beberapa tahun saja, sedangkan lazimnya warga desa lain yang juga bekerja ke Hong Kong belum bisa mencaapainya. Bapak menegaskan, aku harus bisa memahami bahwa sebagian besar warga desa tidak mengetahui bahwa bekerja di Hong Kong itu selain mendapat gaji, juga bisa mencari penghasilan tambahan yang halal. Dan alhamdulilah, aku berangsur-angsur merasa tenang.

Saat aku merasa, pencapaianku secara materi cukup bisa meredakan sakit hatiku atas hinaan mantan suami dan keluarganya, memasuki tahun kelima, aku berpikir mencari pendamping hidup yang salah satu kriterianya tentu harus diatas mantan suamiku. Terutama dari sisi kecerdasan, wawasan, pendidikan dan perilakunya. Mulailah aku menebar jala asmara melalui jaringan yang aku tergabung didalamnya. Memang tidak ekstrim seperti halnya dalam rubrik kontak jodoh, namun secara perlahan, aku berusaha untuk mengenali lebih jauh beberapa kandidat yang aku temukan. Hanya mengenali saja, bukan mengejar kemudian menawarkan diri.

Dari ihtiyar tersebut, bertemulah aku dengan seorang pria yang saat itu terlihat sesuai dengan kriteriaku. Sebut saja namanya Andika. Di laman media sosialnya, terpampang foto-foto kegiatan sosial di pelosok-pelosok desa. Hampir dalam setiap postingannyaa, selalu menggunakan kalimat-kalimat yang menggambarkan kapasitas intelektual bagus. Demikian juga dengan konten yang dia posting, selalu memiliki makna yang bukan sekedar haha hihi.

Kedekatanku dengan Andika membuat aku merasa tidak bisa terpisahkan lagi. Setiap saat komunikasi selalu terjalin melalui saluran whatsapp dan facebook. Dan lama kelamaan, Andika menyatakan menerima aku apa adanya meskipun kondisiku seorang janda, untuk serius melangkah pada hubungan yang lebih lanjut yaitu berumah tangga.

Dalam setiap berkomunikasi, memang tidak melulu selalu membahas recehan-recehan picisan seperti layaknya remaja yang sedang berpacaran. Aku dengan Andika seringkali membahas kegiatan-kegiataan sosial yang dia lakukan, hingga obrolan-obrolan peluang usaha di kampung halaman. Dari obrolan tersebut, disamping sebuah gudang yang aku sewa di Hong Kong untuk menyimpan barang dagangan, kami menyepakati membeli sebuah rumah dengan cara patungan, yang nantinya rumah tersebut dijadikan gudang penampung barang dagangan onlineku. Andika menyatakan diri akan melibatkan dalam usaha tersebut.

Setelah melewati proses diskusi yang cukup panjang, kami menyepakati membeli sebuah unit rumah pada sebuah perumahan di kawasan Waru Sidoarjo seharga 350 juta. Masing-masing kami mengeluarkan uang sebesar Rp. 50 juta untuk mendapatkan 100 juta sebagai uang muka. Sisanya yang 250 juta dibayar dengan mengangsur setiap bulan. Keuntungan usaha berdagang online, kami sepakati sebagian digunakan untuk membayar angsuran rumah tersebut selama 5 tahun kedepan dengan besar angsuran 5 jutaan per bulan.

Sampai dengan borok Andika tercium aromanya, tidak pernah sekalipun Andika berbuat curang dalam ikatan bisnis yang kami jalankan. Sportifitas dan keterbukaan dalam hal keuangan membuatku menaruh kepercayaan penuh padanya. Namun ikatan tersebut harus ternodai dengan datangnya kabar yang membuka kenyataan, ternyata Andika telah memiliki anak dan istri. Bersambung [seperti dituturkan W kepada Asa dari Apakabaronline.com]

Advertisement
Advertisement