May 9, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tertipu Lelaki “Ganteng” (02)

4 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

sambungan dari bagian 1

Sebenarnya, sejak beberapa bulan sebelum borok itu terungkap, keganjilanku hanya terwakili oleh sebuah pertanyaan yang terpendam. Tidak pernah ada kesempatan untuk menyatakan. Lantaran sehari-hari, setiap saat, komunikasi kami selalu disibukkan dengan pekerjaan. Hingga saat itu, melahirkan dugaan, Andika tidak pernah lagi membicarakan romantisme hubungan kami lantaran seluruh waktu dan keempatannya telah tersandra rutinitas usaha yang kami jalankan bersama.

Namun, suatu saat, ketika aku melihat situasi sedang tidak terlalu sibuk, aku berinisiatif membuka obrolan romantika hubungan kami. Aku mengajaknya berandai-andai perihal masa depan, perihal rumah tangga yang kami rencanakan, perihal rasa selalu ingin bersama. Namun Andika menanggapinya selalu dingin. Berbeda sekali jika topik yang kami bicarakan perihal pengembangan dan ide-ide kreatif untuk perkembangan usaha kami, Andika selalu berapi-api.

Usaha yang kami jalankan bersama memang kian berkembang. Progres perolehan profitnya kian meningkat. Laba bersih yang bisa kami nikmati bisa menembus angka rata-rata 10 juta rupiah setiap bulan. Dari yang sebelumnya saat awal merintis hanya pada kisaran ratusan ribu rupiah saja.

Serapat-rapatnya bangkai disimpan, pelan tapi pasti bau busuknya akan tercium juga. Setelah setahun kerjasama kami berjalan, jati diri Andika yang sesungguhnya terbongkar. Tanpa sengaja, ada seorang perempuan yang menghubungi aku yang mengaku sebagaai istri Andika. Perempuan tersebut juga melampirkan foto pernikahan, foto buku nikah, dan foto kartu keluarga dimana nama Andika tercantum sebagai kepala keluarga.

Aku baru sadar, aku akan menghadapi masalah rumit dari terungkapnya jati diri itu. Perasaan sakit hati telah dibohongi selama hampir 2 tahun lamanya, padahal aku sudah terlanjur jatuh cinta. Belum lagi, status usaha yang kami jalankan, asetnya merupakan keringat kami berdua.

Setelah merasa siap untuk menyampaikan, akhirnya aku mengklarifikasi kebenaran hal tersebut kepada Andika. Dan diluar dugaanku, seketika dengan nada bicara yang tenang, Andika membenarkan data tersebut. Sekaligus dia meminta maaf selama ini tidak terbuka. Kemudian andika meembeberkan panjang lebar mengenai hubungannya dengan istrinya yang tidak harmonis lantaran perbedaan cara pandang.

Aku menangkap kesan, ternyata selama 5 tahun berumah tangga dan telah dikaruniai 1 orang anak laki-laki, Andika kian hari kian tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Hubungan dia dengan istrinya bertahan lantaran menjaga perasaan dan hubungan baik beberapa pihak. Kemudian diakhir pembicaraannya, Andika menyerahkan sepenuhnya kepada aku mengenai kelanjutan hubungan kami.

Aku tidak bisa memberikan jawaban saat itu. Sebenarnya, jika mengikuti nalar sehatku, semestinya aku memutuskan hubungan dengan Andika saat itu juga. Namun entah kenapa, aku merasa tidak mampu melakukannya. Aku juga merasa tidak rela Andika disia-siakan istrinya, meskipun aku secara hukum tidak memiliki ikatan apapun dengan Andika.

Konflik batin kian mengganggu pikiranku. Pun demikian dengan Andika. Usaha yang kami bangun bersama terkena imbasnya. Progresnya menjadi jalan di tempat. Aku merasa kehilangan semangat untuk seperti sebelumnya menjalankan usaha tersebut. Begitu juga dengan Andika, tidak pernah lagi melakukan inovasi-inovasi seperti sebelum-sebelumnya saat menghadapi masalah usaha.

Hingga pada suatu hari, saat waktu cuti liburanku telah tiba, dengan terpaksa dan dengan menahan perasaan sekuat tenaga, aku harus bertemu Andika untuk menyelesaikan usaha kami berdua sebagaimana yang telah kami sepakati sebelum aku terbang.

Aku bertemu Andika di Bandara Juanda. Aku tidak meminta dan memberitahu siapapun kepulanganku selain Andika. Tidak banyak kata yang terucap saat bertemu di Bandara juanda. Segera kami menuju ke rumah yang kami beli berdua untuk melihat dan membicarakan kelanjutannya.

Sesampai rumah tersebut, Andika langsung menyerahkan satu map berisi dokumen kepemilikan rumah, berikut bukti pembayaran angsuran. Satu persatu dokumen tersebut aku lihat dan baca. Dan dokumen tersebut seluruhnya dokumen yang valid.

“Mulai saat ini, rumah dan seluruh aset usaha yang pernah kita jalankan berdua, sepenuhnya menjadi milikmu. Aku tidak akan meminta sepeserpun. Setelah ini, ayo kita bersama-sama menghadap notaris untuk menguatkan omonganku, sekaligus memulai proses balik nama rumah ini”

Kalimat yang tanpa aku duga sama sekali tersebut terucap dengan serius. Sembari menatap dalam-dalam mataku, Andika mengulurkan tangan kanannya mengajak aku untuk berangkat ke kantor notaris. Aku merespon ucapan Andika dengan penolakan. Aku tetap pada keinginanku untuk membagi dua nilai dari aset tersebut. Namun Andika bersikeras tetap menolak tawaranku. Hingga lama-kelamaan, akupun bertanya, apa alaasan Andika dengan keputusannya.

Dengan raut muka serius, setelah menghirup nafas dalam-dalam, Andika mengatakan, hanya itu yang bisa Andika lakukan untuk cintanya kepadaku, menebus semua kesalahannya padaku. Karena itulah Andika tetap memaksakan kehendaknya. Sedangkan aku menyadari, jika aku menerima kemauan Andika, maka akan menjadi beban dalam hidupku selamanya.

Selama dua hari satu malam kami berdua bertahan di rumah tersebut. Puncaknya, air mata tak mampu lagi kami bendung. Saat kami berterusterang bukan dengan kata-kata, saat kami saling merasakan himpitan batin masing-masing, hubungan yang hanya layak dilakukan pasangan suami istri kami lakukan dengan penuh perasaan.

Dan sampai saat ini, usaha bersama yang kami bangun telah berhenti, Andika hidup dengan anaknya, sebab istrinya pergi meninggalkan mereka bersama laki-laki lain. Rumah tangga Andika dalam proses menunggu putusan hakim pengadilan Agama. Sedangkan aku, terpuruk dengan perasaan dan beban mentalku, sejak pertemuan kami itu, sejak keterusterangan Andika tentang status rumah itu.

Sejujurnya, dalam hatiku, aku tetaap memendam rasa cintaku pada Andika, namun nalar dan egoku, menahan aku untuk mengekspresikannya. Selesai [seperti dituturkan W kepada Asa dari apakabaronline.com]

Advertisement
Advertisement