Prime banner

Halaman media sosial, saat ini mulai memperlihatkan dijadikan sebagai media untuk memamerkan organ erotisme individu baik secara sengaja maupun tidak. Fenomena ini hampir terjadi di seluruh belahan bumi. Perilaku erotis yang beredar tanpa batas dan penyaring, seringkali membawa dampak buruk bagi banyak orang. Pun demikian halnya dengan yang terjadi pada Sri Utami, PMI Hong Kong asal kota santri Kediri ini.

baca : Perilaku Kebablasan Sri Utami, Tuai Kontroversi

Salah seorang psikolog, Faturrahman Amrullah yang saat ini sedang menyelesaikan program Doktoralnya di sebuah universitas ternama di Eropa memberikan tanggapan dalam perspektifnya sebagai seorang ilmuwan psikologi mengenai perilaku Sri Utami. Kepada Apakabaronline, Fatur, yang telah menganalisa beberapa konten yang diunggah oleh akun facebook Sri Utami Juminten, menyebutkan bahwa Sri Utami diduga mengidap kelainan seksual.

“Ciri perilaku yang ditampakkan ooleh SU, terindikasi kuat bahwa yang bersangkutan menderita penyimpangan seksual yaitu Sexual Ekshibionism” terang Fatur.

Menurut Fatur, Eksibisionis berasal dari kata exhibition yang artinya pameran, memamerkan atau mempertontonkan alat kelamin. Eksibisionis adalah dorongan fantasi sexual yang mendesak dan terus-menerus dengan memamerkan bagian genitalnya kepada orang lain. Dorongan tersebut bertujuan untuk menakuti, mengejutkan atau untuk dikagumi. Eksibisionisme adalah prefensi tinggi dan berulang untuk mendapatkan kepuasan seksual kepada orang yang tidak dikenal yang tidak menginginkannya kadang kepada seorang anak. Gangguan ini umumnya berawal di masa remaja dan berlanjut hingga dewasa. Eksibisionis dapat terjadi pada pria maupun wanita. Pada pria, penderita menemukan kepuasaan saat melihat perempuan terkejut melihat genitalnya. Sedangkan pada wanita, penderita menemukan kepuasan melihat pria terangsang saat melihat alat kelamin, payudara atau pantatnya. Beberapa eksibisionis ditangkap atas kejahatan lain yang melibatkan kontak dengan korbannya. Eksibionis melakukan masturbasi ketika berfantasi atu ketika benar-benar memamerkannya. Eksibisionisme dapat dikategorikan sebagai paraphilia yang tergolong aneh tapi tidak langka.

“Penyebab eksibisionis diduga karena perkembangan psikologis yang tak sempurna semasa anak-anak. Di mana saat itu si penderita mengalami perasaan rendah diri, tidak aman serta memiliki ibu yang dominan dan sangat protektif. Karena itu, penderita tidak bisa berinteraksi dengan lawan jenisnya. Pengalaman masa kecil tersebut dapat berkontribusi besar terhadap rendahnya tingkat keterampilan sosial dan harga diri, rasa kesepian dan terbatasnya hubungan intim. Perilaku eksibisionis masuk kategori penyimpangan kejiwaan dalam hal seksual bila memamerkan organ seks untuk kepentingan pribadi. Mereka yang suka pamer organ seks lebih pas dimasukkan dalam kategori narcism, yang istilah merupakan orang yang suka memuja diri sendiri. Mereka merasa dirinya menjadi pusat perhatian sehingga tampilannya selalu mengundang perhatian.Umumnya pengidap eksibisionis rata-rata sudah menikah namun memiliki hubungan seksual yang tidak memuaskan dengan pasangannya.” paparnya.

Menurut Fatur, kasus seperti yang diderita Sri Utami masih bisa disembuhkan. Salah satunya dengan pendekatan Terapi Kognitif. Terapi kognitif sering digunakan untuk mengubah pandangan yang terdistorsi pada individu dengan parafilia. Diberikan pula pelatihan empati agar individu memahami pengaruh perilaku mereka terhadap orang lain. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner