Prime banner

Proses penyelidikan yang dilakukan oleh Kepolisian Republik Indonesia atas insiden tenggelamnya kapal pengangkut PMI Ilegal dari Malaysia dengan tujuan Batam Kepri pada Rabu (1/11) kemarin membuka tabir persengkongkolan hitam.

Penyidik dari Polda Kepri yang menangani kasus tersebut menduga, ada keterlibatan ketua Gerakan Anti Trafficking, Syamsul Rumangkang yang tertangkap basah menerima setoran uang atas jasa dia  mengirimkan PMI ilegal melalui jaringannya.

Kepada awak media, Kapolda Kepri, Brigjen Pol Sam Budigusdian, memaparkan kepada awak media, ihwal terungkapnya kejahaataan yang dilaakukaan oleh Syamsul Rumangkang ini saat salah satu anak buahnya yang berinisial AL tertangkap basah di depan sebuah minimarket kawasan Botania Batam beberapa waktu yang lalu.

Ketika penyidik hendak mengembangkan pengakuan AL, Syamsul Rumangkang yang dihubungi melalui telepon justru menghindar, kemudian melarikan diri. Hingga kini, status Syamsul Rumangkang telah dinyatakan sebagai tersangka dan masuk dalam daftar pencarian orang. Kapolda Kepri sudah memerintahkan pada jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum untuk mencari keberadaan SR dan menangkapnya.

Syamsul Rumangkang Ketua GAT (Lingkaraan Merah) foto : Dokumentasi GAT
Syamsul Rumangkang Ketua GAT (Lingkaraan Merah)  foto : Dokumentasi GAT

“Kami lagi mencari keberadaan SR. Modusnya kalau ada pengiriman TKI ilegal tidak melalui dia, dia sibuk melaporkan hal tersebut. Namun kalau melalui dia, dia diam saja,” jelas Sam.

Berdasarkan bukti-bukti dan keterangaan saksi, Kapolda Kepri memastikan, Syamsul Rumangkang, memanfaatkan LSM Gerakan Anti Trafficking yang bergerak dalam memerangi Anti Trafficking sebagai kedok melakukan bisnis PMI ilegal.

“Kalau adaa TKI ilegal yang dikirim tidak melalui dia (Syamsul Rumangkang), dia akan berteriak-teriak dan melaporkan ke kami. Tapi kalau dikirim melalui dia, dan menyetorkan sejumlah uang ke dia, dia akan diam saja” pungkas Sam.

Pengakuan Mantan Pegiat LSM PMI

Koresponden Apakabaronline.com di Malaysia, Ilham Muhammad Noor, mendapatkan pengakuan eksklusif dari seorang mantan pegiat LSM pekerja migran yang berinisial BS. Selama kurang lebih 5 tahun, BS aktif di sebuah LSM yang bergerak dalam bidang advokasi untuk pekerja migran di pulau Jawa. Berikut kutipan wawancara dengan BS :

AKOL : Sejak kapan anda aktif di LSM PMI ?

BS : Antara tahun 2007 sampai 2013, sepulang saya bekerja dari luar negeri.

AKOL : Bagaimana komentar anda terkait dengan terbongkarnya kejahatan yang dilakukan oleh saudara Syamsul Rumangkang, ketua GAT ?

BS : Dibilang kaget ya kaget, dibilang tidak kaget ya juga. Sebenarnya, salah satu yang membuat saya keluar dari LSM tempat saya beraktifitas dulu, salah satunya juga hal seperti ini. Sebab, yang saya temui, bekerja di LSM itu bukan murni mengabdi lho, tapi mencari hidup.

AKOL : Maksudnya ?

BS : Saya tidak menyebut semua LSM seperti yang saya maksud, tapi beberapa LSM yang pernah saya lihat, persis seperti yang saya maksud. Orang-orang yang beraktifitas disana, menggantungkan hidupnya dari LSM tersebut. Jadi, aneh kan kalau dalam AD ART mereka menyebut sebagai lembaga nirlaba, tapi faktanya mencari uang dari kegiatannya ?

AKOL : Kongkretnya bagaimana ?  

BS : Seperti saya dan mantan teman-teman saya di LSM temppat saya bergabung dulu, tidak punya pekerjaan. Sehari-hari ya hanya ngurusi LSM. Mencari informasi mengenai masalah-masalah TKI, lalu, ketika data sudah didapat, dibuatlah proposal, lalu dicarikan dana pendampingan. Atau, rajin rajin menengok anggaran pemerintah baik daerah maupun pusat, kapan keluarnya, berapa besarnya, lalu, kita buat proposal kegiatan seperti pemberdayaan TKI, pemberdayaan ekonomi mantan TKI dan lain-lain. Semuanya itu hanya sebatas proyek proposal saja, begitu kegiatan usai diselenggarakan, tidak pernah ada kepedulian apakah kegiatan tersebut bermanfaat, berlanjut atau mandeg. Yang penting, kegiatan sudah diselenggarakan, laporan keuangan sudah dilakukan, dan jatah honor-honor yang bekerja sudah dicairkan.

Atau, kalau tidak begitu, kita jualan kasus. Dengan mengakrabi PJTKI, dekat dengan dinas dinas terkait. Jadi, keakraban dan kedekatan ini menjadi nilai jual yang mendatangkan uang.

AKOL : Dari paparan anda, apa relevansinya dengan peristiwa yang melibatkan saudara SR ?

BS : Jelas sekali to, ternyata LSM yang di gerakkan oleh SR, saya duga juga tidak jaug beda dengan banyak LSM pencari uang lainnya. Malah itu tadi pak kapolda Kepri bilang, kalau setor uang, dia (SR) diam, kalau tidak setor uang, dia akan berteriak dan melaporkan. Jadi, nawaitunya itu lho yang saya tidak sepakat, nawaitunya mencari uang untuk kehidupan sehari-hari. Sebab, diluar aktifitas di LSM, tidak punya sumber pendapatan tetap, bahkan malah ada yang tidak punya sama sekali sumber pendapatan lain selain dari aktifitasnya di LSM tersebut.

AKOL : selain yang dilakukan oleh GAT, apakah anda juga mengetahui ada LSM lain yang melakukan hal serupa ?

BS : yang berkaitan dengan TKI Malaysia, ada. Saya tahu itu, saya pernah mendengar pengakuan, malah beberapa diantaranya saya mengenali aktifisnya. Tapi saya tidak akan menyebutkan, sebab seperti ini hal yang sensitif. Aktifis LSM itu orang-orang yang pinter dengan pasal-pasal, nanti kalau saya ngomong, kemudian saya dimeja hijaukan gimana ?

AKOL : Apa pesan anda untuk pembaca Apakabaronline.com terkait dengan kejadian yang dilakukan oleh ketua GAT ?

BS : Setidaknya, kita semua, terutama TKI, harus hati-hati dan selektif ketika memerlukan jasa pendampingan lembaga. Sebab tidak semua lembaga itu bersih. Dan kita sebagai masyarakat sipil, tentu kecil kemungkinan mengetahui mana yang bersih dan mana yang kotor. [Asa/Ilham]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner