Prime banner

YOGYAKARTA  – Pagi itu, sabtu pertama di bulan Febuari 2018 Agus Sugiarto tampak sibuk merapihkan kursi plastik yang baru diturunkan dari truk. Meski mentari masih bersembunyi dibalik awan mendung yang menggantung di atas Dusun Garongan, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY namun ayah dua orang anak itu sangat bersemangat. Tak sedikit pun rasa kantuk atau lelah yang terlihat di wajahnya kendati semalam ia baru bisa beristirahat jelang dini hari. Selain menjajarkan bangku, ia juga mesti wara-wiri menggordinasi belasan temannya yang tengah merapihkan panggung. Hari itu Agus dipercaya ketempatan menjadi tuan rumah penyelenggaran Jambore Keluarga Migran Indonesia. Menjelang siang giliran rumah warga yang dijadikan home stay digedor oleh Agus.

“Ayo semua peserta berkumpul di lapangan. saya absen dulu ya, setelah itu teman-teman bisa dirikan tenda di sini,” ucap Agus dihadapan seribu peserta Jambore.

Bagi mantan pekerja migran seperti Agus, tak pernah terbayang olehnya bisa menyelenggarakan acara berskala nasional di kampung halamannya. Kepada Swara Cinta pria kelahiran Sleman  41 tahun silam itu mengenang kisah hidupnya yang sarat problematika. Sebagai pemuda lulusan SMA tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa ia dapat. Untuk meneruskan kuliah pun Agus tak mampu karena kondisi ekonomi keluarga sedang mampet akibat krisis moneter tahun 1998.

“Akhirnya saya kepincut jadi TKI saat lihat Suryono, kakak saya pulang dari Jepang. Beliau habis kerja di pabrik Jepang,” ungkap Agus yang pernah mendaftar jadi polisi dan angkatan darat tapi gagal.

Berbekal informasi dari sang kakak, Agus mendaftarkan diri ke Disnaker DIY. Usai mengikuti tes seleksi akhirnya Agus berhasil mendarat di Negeri Sakura pada tahun 1999. Di sana Agus ditempatkan di Kota Yokohama sebegai migran di sebuah pabrik pengolahan logam dengan intensif 150 ribu Yen. Namun semuannya tak berjalan mulus, akibat persitwa 11 September pabrik yang mempekerjakan Agus bangkrut.

Akhir tahun 2001 Agus kembali ke Tanah Air dan diarahkan untuk bekerja di sebuah pabrik di Cikarang, Jawa Barat. Sempat bertahan lima bulan, Agus memilih pulang ke Sleman dan berinisiatif mendirikan  kampung wisata.

“Tapi (kampung wisata) itu tidak berjalan maksimal karena saya diterima kerja outsourcing PLN sebagai petugas yang cek meteran,” Ujar anak bungsu dari empat bersaudara itu.

Lagi-lagi jerih payah Agus mencari rejeki kandas. Selama 10 tahun mengabdikan dirinya menjadi karyawan outsourcing di perusahaan listrik negara, ia tiba-tiba dipecat secara sepihak setelah kantor mengetahui bahwa Agus hendak bertemu menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi guna menyuarakan haknya sebagai tenaga outsourcing.

“Saya tiba-tiba dipecat dengan alasan kontrak tidak diperpanjang,” tutur Agus yang saat itu menyandang ketua serikat buruh DIY.

Kembali menganggur tak membuat Agus patah arang. Di tengah keterpurukan ia mencoba mendaftar sebagai staf pembantu DPRD DIY. Di sela-sela pekerjaan barunya Agus mendapat suport dari Huda Tri Yudiana anggota dewan setempat, beliau menyarankan supaya Agus menghidupkan kembali Kampung Wisata yang dulu pernah ia rintis. Bersama tiga orang temannya, dengan modal semangat Agus memberanikan diri membentuk kelompok Desa Wisata Garongan pada tahun 2013.

“Modal saya hanya uang yang terkumpul dari kegiatan wisata pandang erupsi merapi sebelumnya. Uang itu saya buat dirikan empat MCK. Desa wisatanya pun hanya berkonsep camping ground saja,” Ujar Agus yang kini telah menjadi Ketua Pengelola Desa Wisata Garongan.

Melihat prospek yang cerah, Agus kembali memberanikan diri meminjam perodalan dari PNPM Mandiri tahun 2014. Setelah cair Rp 110 juta, kawasan wisata seluas 9 ribu meter persegi itu lantas berbenah diri. Dengan peritungan yang rinci, Agus dirikan pendopo utama, gazebo, melengkapi fasilitas outbond dan menambah jumah MCK. Uang tersebut juga Agus belanjakan 60 buah tenda camping dan peralatan lain.

Dengan konsep promosi ke sekolah-sekolah, secara pelan tapi pasti jumlah pengunjung Desa Wisata kian meningkat. Sadar akan peluang bisnis yang menjanjikan, secara bergeriliya Agus lakukan edukasi terhadap warga sekitar Desa guna menggali potensi wisata. Agus mengakui, awalnya tak mudah mengubah pola pikir masyarakat yang telah terbiasa bertani.

“Wisata itu tidak hanya laut, lihat monyet atau mesti ada candinya. Tetapi dengan potensi desa yang ada kita bisa gali peluang wisatanya. Kebetulan di sini banyak pohon salak pondoh, ini kami kemas jadi wisata menarik. Kami juga ajak warga desa agar rumahnya bisa dijadikan home stay,” jelas Agus yang kini telah memiliki 15 anak buah dimana sebegaian besar diantaranya mantan TKI.

Berkat promosi dan sistem kelola yang menarik, sepanjang 2017 lalu jumlah wisatawan yang bertandang ke Desa Wisata Garongan menyentuh angka 11 ribu orang dengan pemasukan Rp 570 juta. Omset tersebut diluar konsumsi yang memberdayakan ibu-ibu PKK sejumlah 37 orang. Ke depan Agus berharap agar Desa Wisatanya dapat berkembang dengan basis wisata lingkungan berorientasi pendidikan alam. Di luar itu Agus juga ingin agar Desa Wisatanya dapat memberikan manfaat yang semakin luas kepada penduduk Desa.

“Kalau diingat-ingat orang sabar itu akan menemukan jalannya. Tahun 2008 saya ingin ketemu menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tapi tidak kesampaian dan sekarang beliau akan datang ke sini untuk mengisi acara Jambore Keluarga Migran Indonesia. Saya ingin berjabat tangan dengan beliau,” ucap Agus. [Jun Aditya]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner