• Uncategorized

Aku Korban Berburu Dolar [02]

Prime Banner

sambungan dari bagian 1 

Kedekatanku dengan kedua anak majikanku pelan-pelan mulai mempengaruhi gaya hidup keseharianku. Dari ajakan  merekalah aku pertama kali mengenal rokok dan alkohol. Beruntungnya, budget untuk memenuhi gaya hidupku tidak sampai menguras gaji bulananku sebab kebutuhan rokok dan alkohol selalu aku dapatkan dari kedua anak majikanku. Pun demikian juga dengan waktu saat aku menikmatinya, selalu kami bertiga bersama-sama.

Kebiasaan kami bertiga ini lama-kelamaan tercium oleh majikanku. Bahkan, pada suatu malam, tanpa kami sadari, majikan perempuanku memergoki kami bertiga sedang berpesta alkohol dan rokok di ruangaan yang sama. Kejadian tersebut, sontak membuat aku diberhentikan bekerja malam itu juga. Meski kedua anak majikanku tidak merelakan aku pergi dari rumah itu, namun apalah dayaa, aku menyadari kesalahanku, dan akupun dengan legowo pergi meninggalkan rumah majikanku setelah sebelumnya aku pernah selama 7 bulan bekerja dan tinggal bersama mereka.

Aku pulang ke kampung halaman pada keesokan harinya dengan diantar oleh sopir majikanku. Tidak banyak yang kami obrolkan sepanjang perjalanan, selain jawabanku atas pertanyaan sopir kenapa aku melakukan semua itu. Setelah 3 jam menempuh perjalanan, sampailah aku di halaman rumahku. Sopirpun ikut turun membantu aku menurunkan barang-barangku.

Saat mengobrol di dalam rumah, tiba-tiba sopir memberi aku saran, agar aku meninggalkan kebiasaan merokok dan minum alkohol, mumpung belum terlalu jauh kecanduan. Kedua, aku disarankan untuk memikirkan kemungkinan bekerja ke luar negeri agar penghasilan yang aku dapatkan mampu untuk memenuhi kebutuhan adikku agar bisa tuntas sekolahnya dan kelak menjadi manusia yang bermartabat dengan pendidikan dan pekerjaannya, serta bisa menjadi modal untuk masa depanku sendiri agar memiliki pondasi yang kuat.

Seminggu aku memikirkan saran dari sopir mantan majikanku, tertarik aku untuk mencobanya. Disamping itu, tetangga di kampungku banyak juga yang bekerja ke luar negeri. Memang, sebelumnya aku merasa trauma untuk pergi bekerja ke luar negeri lantaran pengalaman getir kedua orang tuaku. Namun, saat aku menimbang-bimbang, tidak semua yang bekerja ke luar negeri selalu berakhir buruk. Kedua orang tuaku hanyalah potret sebagian kecil saja mereka yang gagal.

Akupun mempersiapkan diri, sembari aku memperbaiki perilakuku yang selama aku bekerja di rumah mantan majikanku menjadi semakin jauh dari Allah. Beberapa kali aku melakukan sholat istikharah untuk mendapatkan ketetapan dan kemantaban hati. Entah kenapa, Hong Kong menjadi pilihanku. Entah kenapa, tiba-tiba terbayang ibu. Tekadku semakin bulat, aku mempersiapkan diri bekerja ke Hong Kong sambil siapa tahu aku bisa mencari ibuku.

Usiaku yang masih belasan tidak menjadi soal, setelah aku berkonsultasi dengan seorang petugas lapangan sebuah PPTKIS di kampungku. “semua bisa diatur” begitulah komentarnya memastikan aku bisa berangkat ke Hong Kong. Bahkan, petugas lapangan tersebut bersedia mempersiapkan semua persyaratan administratif yang diperlukan. Aku tahu jadi saja katanya.

Tepat sebulan usai aku meninggalkan rumah majikanku, aku berpamitan kepada adikku, kepada keluarga yang mengasuh adikku untuk bekerja ke Hong Kong. Meski mereka berat melepaskan aku, namun mereka juga merasa tidak punya pilihan dengan masa depanku. Mereka mendoakan sambil mewanti-wanti aku untuk selalu bisa menjaga diri, fokus dengan tujuan utama yaitu bekerja, serta jangan sampai jauh dari Allah.

Deraai air mataku tak sanggup ku tahan. Kedua orang tuaku saja tidak pernah menasehati aku sepeduli itu. Sedangkan ini hanya tetangga yang tidak ada hubungan darah, memberi aku nasehat yang terasa menyentuh sekali. Tak lupa sebelum berangkat, aku banyak-banyak memberi pesan kepada adikku agar taat dengan arahan dari keluarga tetangga tersebut, sambil aku menyemangati, nanti hasil kerjaku pertama kali akan aku gunakan untuk menyekolahkan sampai setinggi-tingginya, sampai mampu mandiri.

Proses di PPTKIS berjalan dengan lancar selama 3 bulan. Sesampai aku di Hong Kong, aku bekerja pada sebuah keluaarga yang berpforesi sebagai guru dan petugas imigrasi. Mereka baik sekali menerimaku. Meski sering aku berbuat salah dalaam bekerja terutama di bulan-bulan pertama, namun mereka dengan sabarr mengajari aku sampai aku benar-benar bisa. Disamping aku mengerjakan pekerjaan rumah, aku juga bertugas mengantar dan menjemput 2 anak majikanku berangkat dan pulang sekolah.

Setelah setahun aku bekerja di keluarga tersebut, terpaksa aku bercerita tentang latar belakang keluargaku lantaran tiba-tiba saat kami bercengkerama di rumah, keluarga majikanku menanyakan latar belakangku. Akupun terbuka apa adanya. Bahkan aku juga menceritakan sempat terbersit niatku untuk mencari ibuku yang terakhir kali berpamitan pergi bekerja ke Hong Kong namun sejak saat itu hingga aku bercerita pada majikanku, tidak pernah sekalipun aku mendengar kabarnya.

Keluarga majikanku merespon keinginanku bertemu ibu dengan menawarkan bantuan. Majikan perempuanku yang bekerja di imigrasi mengatakan mungkin bisa membantu asal data pendukungnya jelas. Aku yang sama sekali tidak memegang data bahkan foto sekalipun dari ibuku, akhirnya memutar otak, dan meminta adikku di kampung halaman untuk mengirimkan foto berikut dokumen tentang ibu sedetail-detailnya.

Sebulan kemudian, aku menemukan jawaban, ternyata ibuku masih berada di Hong Kong. Namun, hal yang membuat aku sedih, ibuku telah berstatus sebagai refuge paper alias paperan. Oleh majikan perempuanku, aku akan diantar ke sebuah tempat kumuh, dimana di tempat tersebut ibuku tinggal. Namun sebelum berangkat, majikan perempuanku memberitahu aku banyak hal tentang kondisi ibuku agar aku tidak terkejut.

Sempat aku menggagalkan rencanaku bertemu ibu pada hari yang telah kami sepakati lantaran majikanku menceritakan kondisi ibuku yang telah memiliki dua anak dari hasil hubungan gelapnya dengan pria dengan status sama (paperan) keturunan Pakistan. Hatiku bagaikan tersayat mendengar kabar tersebut.

Namun, saat aku bisa mengendalikan diri, aku tetap pada rencana semula, bertemu ibu apapun adanya dan bagaaimanapun nanti tanggapan ibu saat melihatku. Hal yang menyakitkan sekalipun sudah aku perhitungkan akan terjadi supaya aku bisa mengantisipasi menata hati dan emosi.

Sesampai di tempat yang kami tuju, ibuku kaget bukan kepalang melihat kedatanganku. Usai mematikan rokoknya, usai menyingkirkan gelas dan botol-botol minuman beralkoholnya, ibu menangis sejadi-jadinya memeluk aku erat-erat.

Sampai dengan saat aku berhasil mengentaskan adikku menyelesaikan pendidikan kebidanan, di Hong Kong, aku tetap membagi tiga hasil kerjaku. Sepertiga untuk ibuku, sepertiga untuk adikku, dan sepertiga untuk mengisi tabunganku. Kondisi ibuku kian hari kian terpuruk. Sebab laki-laki Pakistan pasangan kumpul kebonya tidak produktif secara ekonomi. Kebiasaannya selalu memeras berapapun uang yang ada di dompet ibuku.

Semoga Allah memberi jalan keluar untukmu wahai Ibuku. Selesai [ seperti dituturkan NN kepada asa dari apakabaronline.com ]

You may also like...