Prime banner

GROBOGAN – Sulitnya komunikasi antara keluarga pekerja migran yang di kampung halaman dengan si pekerja migran di negara penempatan, rawan menimbulkan beragam permasalahan. Berpangkal dari salah paham, ketidak tahuan, keterlambatan mengetahui informasi dan lain sebagainya, masalah yang kecil hingga fatal, tak jarang menjadi kenyataan. Sulitnya komunikasi di era sekarang ini, seringkali disebabkan oleh buruknya sinyal baik GSM, Radio, maupun Internet disebuah kawasan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Grobogan berikut ini.

Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah dan melihat anak-anak muda laki-laki maupun perempuan bergantian memanjat pohon sambil memainkan ponsel, berarti Anda sudah berada di Desa Keongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Sejatinya, mereka sedang mencari sinyal seluler.

Meski berada di desa, para generasi millenial itu mencoba bergaul melalui media sosial. Mereka memanjat pohon bergantian untuk mencari sinyal seluler agar bisa berinteraksi dengan teman maupun sanak famili. Tak harus media sosial, hanya telepon dan layanan pesan singkat (sms) warga sudah bahagia.

Koneksi Internet Di Indonesia Terlemot Di Asia Pasifik

Menurut Fiyan, salah satu remaja warga Keongan, sinyal seluler di kampungnya memang susah sinyal. Kondisi geografis desa itu berada di cekungan pegunungan Kendeng Selatan. Untuk mencapai desa itu harus melewati hutan lebat.

“Kalau mau telepon atau sms, harus jalan muter-muter dulu mencari sinyal,” kata Fiyan, Kamis (21/12/2017)

Fiyan kesehariannya bekerja sebagai penggembala kambing. Ia tak memiliki keinginan muluk untuk bisa memanfaatkan jaringan internet kecepatan tinggi. Baginya, bisa telepon atau mengirim pesan singkat kepada teman atau saudara yang bekerja di perantauan, sudah merupakan kebahagiaan.

“Desa sini dan sekitarnya, mungkin ada kalau lima ribu jiwa. Semua bernasib sama. Susah berkomunikasi karena tak ada sinyal,” kata Fiyan.

Kesulitan berkomunikasi itu ternyata tak berlaku bagi anak-anak dan remaja penggembala kambing. Dia menceritakan, untuk berkomunikasi, warga desa sering menitip pesan kepada para penggembala kambing.

“Bukan kami lebih pintar dalam hal tekologi, namun karena anak-anak penggembala kambing sering jalan ke bukit. Anak-anak tinggal memanjat pohon tidak terlalu tinggi untuk bisa mendapatkan sinyal,” kata Fiyan.

Setiap hari, anak-anak itu menggembalakan kambingnya dan anak-anak penggembala kambing itu menemui banyak sekali ranting pohon jati. Mereka tak berani mengambilnya, karena untuk sekadar memanfaatkan ranting-ranting itu sebagai kayu bakar saja mereka dipastikan akan berurusan dengan hukum. Hal ini karena tindakan tersebut termasuk perbuatan illegal logging.

 

Namun, keinginannya untuk mempermudah komunikasi sangat kuat. Fiyan dan beberapa anak penggembala kambing mulai mengumpulkan kayu-kayu dari dahan jati yang berserakan. Mereka kemudian membangun sebuah “tower” setinggi tujuh meter.

“Dalam perjalanan menggembalakan kambing, kami punguti dahan-dahan jati yang berserakan. Berat, tapi kami ingin bisa bertelepon dan sms dengan mudah,” kata Fiyan.

Tower bikinan penggembala kambing yang terbuat dari kayu ini, tentu tak seperti tower BTS (Base Transmision Station). Yang dimaksud tower atau menara itu hanyalah semacam tangga dengan bentuk menara, dan untuk memfungsikannya dengan cara dipanjat. Anak-anak kampung itu juga tak menguasai teknologi membangun BTS apalagi dengan sinyal 4G berkecepatan tinggi. Ya, tower itu hanya digunakan dengan dipanjat, agar ponsel mendapat tempat yang lebih tinggi dan mudah mendapatkan sinyal.

“Di tower kami biasanya sambil duduk-duduk atau tiduran. Karena tidak besar dan terbangun dari kayu, kami harus bergantian memanjat ketika ingin telepon atau SMS,” kata Fiyan sambil tertawa ketika menyebut kata tower.

Dengan adanya tower itu, warga dan para penggembala kambing tak perlu jalan berkilo meter ke atas bukit dan memanjat pohon. Mereka yang akan telepon atau berkirim pesan singkat tinggal memanjat tower itu. Tower tujuh meter itu dikerjakan selama tiga hari dengan sukarela oleh tiga anak penggembala kambing.

“Jadi banyak yang memanfaatkan. Bukan hanya para penggembala kambing, namun warga yang lain juga lebih mudah mencari sinyal seluler, terutama yang memiliki keluarga di luar kota atau jadi TKI/TKW,” kata Fiyan.

Ternyata, di desa ini, ada ratusan warganya yang bekerja menjadi PMI di berbagai negara penempatan.  [Asa/Wahyu]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner