Prime banner

Tahun 2007, di Gedung Peninsula Plaza Hong Kong, terjadi ledakan dahsyat dengan korban hampir 100 orang meninggal dan luka parah. Menurut kepolisian, ledakan dilakukan dengan sengaja atau bom bunuh diri. Kebetulan, yang melakukan bom bunuh diri itu seorang wanita dengan penutup kepala dan wajah. Sejak kejadian itu, aku tak leluasa berjilbab. Sampai suatu hari, ketika aku melintas, satpam apartemen memanggilku.

 

”Hei… Kamu lantai 42 kan? Mau ke mana pagi amat berangkatnya? Bawa apaan tuh,” sapanya dengan tatapan mata tajam, menunjuk kantong hitamku. Aku yang masih heran, tergagap dengan pertanyaan yang tidak biasa itu.

”Eh…anu, Pak. Ini…ini minuman kemas,” jawabku datar. Ia tampak tak percaya, lalu mendekatiku dan memeriksa semua isi kantong hitam itu.

”Wah, banyak amat? Mau jualan, ya? Kamu beli sendiri atau punya majikan?” cecarnya dengan sinis.

Astaghfirullah hal adzim, Pak. Minuman ini saya beli sendiri dan akan saya minum bersama teman-teman. Teman saya banyak,” jawabku berusaha tetap tenang. ”Sabar, sabar…,” bisik hatiku.

”Oh, ya? Banyak duit kamu? Asta…ngomong apa kamu tadi? Lupa ya kalau lagi ngomong sama orang Hong Kong? Apa teman-temanmu itu berkumpul untuk merakit bom?” Satpam yang dulu ramah berubah sengit setelah kejadian bom bunuh diri, tiga bulan lalu. Biasanya dia cuek saja dengan barang bawaanku saat hari libur. Hari ini dia menginterogasiku bak pesakitan. ”Duh Gusti, saya harus bagaimana?” tanya hatiku pada Yang Maha Kuasa.

”Alhamdulillah…fine. Saya punya uang karena saya bekerja. Membelanjakan sebagian upah bukan hal yang berat, Pak. Di apartemen ini saya bekerja hampir dua tahun, teman-teman saya sama. Bekerja di Hong Kong sebagai pekerja asing, menjaga anak, bayi, lansia, dan memasak. Saat berkumpul, kami makan dan minum bersama. Jadi, mana bisa kami merakit bom? Merakit bom itu butuh ilmu, sedangkan kami tidak ada waktu untuk mempelajarinya. Belajar bahasa Kantonis dan Inggris lebih utama agar kami bisa berbicara dengan semua warga Hong Kong.”

Dengan kekuatan hamdalah, aku jawab tuntas pertanyaan yang bagiku sangat diskriminatif. Di lain sisi, aku juga maklum dengan sikapnya. Mungkin dia trauma. Kulihat satpam itu langsung diam. Tangannya langsung melambai, tanda aku boleh ke luar pagar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung mengambil langkah seribu, menuju tempat berkumpul kami di Causeway Bay.

***

Embun pagi terasa sejuk saat mata nanarku melihatnya. Kejadian minggu lalu masih menghantui hari-hariku. Bagaimana tidak? Tiap hari aku juga bertemu dengan satpam itu. Saat antar-jemput anak sekolah dan belanja. Respon di hari kerja lebih baik dari hari liburku. Karena di hari kerja ia tahu aku sedang menjalankan aktivitas atas mandat majikan. Apalagi saat ia tahu aku menggandeng anak asuhku, dengan segera ia membukakan pintu untuk kami. Aku berpikir bagaimana ya caranya agar ia kembali seperti dulu, tersenyum dan ramah pada kami, para babu.

”Sekarang Pak Satpam mirip Pak Kumis, ya?” Komentar Asti tetangga apartemen. Rupanya ia juga merasakan hal yang sama. Kami sering bareng, karena anak asuhnya juga teman anak asuhku.

”Mungkin itu tuntutan kerja, As. Satpam kan harus galak?” jawabku sekenanya.

”Tapi, dulu kan tidak? Aku juga ditanya kenapa tiap Minggu berkerudung, sedangkan di hari kerja tidak?” lanjut Asti gemas. Asti memang berkerudung saat libur saja, karena majikan keberatan. Alasannya, Asti di sini bekerja. Tidak beribadah. Jadi, daripada urusan panjang mending ambil jalan tengah saja.

”Bagaimana jawabanmu?” tanyaku penasaran.

”Aku bilang, di hari Minggu aku mengaji dan shalat,” jawabnya menggantung. Kulihat ia menggigit bibir, mencoba merangkai kata.

”Lalu, bagaimana tanggapannya, As?” Aku ingin tahu.

”Selain berdoa apa, aku juga belajar membuat bom? Gitu lanjutannya, An. Apa nggak ngeri ditanya begitu. Aku kan cuma lulus SD, mana mungkin belajar kayak gituan. Aku langsung menelepon Nyonya. Aku tak peduli dia sudah bangun atau belum.” Asti menghirup napas terdalam, memberi jeda ceritanya.

”Lalu, Nyonyamu bilang apa, As…” selaku.

”Aku minta tolong pada Nyonya agar berbicara dengan satpam itu, dan tanpa banyak kata lagi aku dipersilahkan keluar. Aku tidak begitu paham apa yang dikatakan majikan dengannya. Yang penting aku bebas dari diskriminasi Ras. Emm…aku pamit dulu, sudah waktunya memasak nih… Sabar, orang sabar disayang Allah swt,” tuturnya seraya melambaikan tangan, meninggalkan aku yang masih menunggu nenek yang, kata Nyonya, akan berkunjung.

***

Enam bulan setelah masa menyesakkan dada, meski perlahan, aku lihat Pak Satpam mulai berubah. Tidak tanya ini dan itu, membiarkan aku dan teman-teman keluar masuk apartemen tanpa was-was. Aku pun menghindari membawa kantong hitam. Sepertinya, kantong hitam selalu mengingatkan sebagian warga Hong Kong pada bom bunuh diri itu. Aku masih ingat bagaimana ekspresi mereka saat aku masih sering bawa kantong ajaib itu, melotot sinis. Ada juga yang melihatku dari ujung kaki sampai kepalaku.

Aku bersyukur karena masih bisa kerja di sini. Banyak hikmah pula yang kudapat selama menjadi perantau. Kadar iman yang biasa, dengan sendirinya terjaga dengan rahmat-Nya. Seandainya aku tetap di Indonesia, mungkin aku tidak akan pernah merasakan indahnya berjuang. Ya, beribadah dan berkerudung adalah perjuangan bagi kami, para pekerja rumah tangga asing.

Sebulan lagi, insyaallah kontrak kerjaku selesai. Aku ingin mencari kerja di lain rumah. Aku yakin, di mana pun berada, selagi Allah swt dekat di dada, semua kejadian akan bermakna. Mengais rezki halal senantiasa indah dan barakah bila diiringi takwa pada Yang Maha Pemberi.

Hari ini, semua perjalanan di rantau tersemai rapi dalam angan dan tindakan. Setiap keluar rumah tidak ada lagi keraguan dan ketakutan akan pandangan sinis dari warga setempat. Oh, pangeranku sudah waktunya pulang sekolah. Aku bergegas menuju halte bus. Menunggu kendaraan itu mengantarku ke sekolahnya. Kerudungku bukan kerudung teroris. Kerudungku adalah pelindung dan penyejuk jiwaku.

”Boro-boro jadi tukang teror, nagih utang aja tidak berani alias sungkan, euy,” batinku menertawakan ketidakberanianku menagih utang pada Lia, sahabat sewaktu di PT dulu. ”Aku yakin dia akan mengembalikannya tanpa kutagih,” jawab hatiku, mantap.

 

[Dikisahkan Anisah kepada Anna Ilham dari Apakabar Plus]

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner