Prime banner

SINGAPURA – Kontes kecantikan di kalangan domestic helper sudah lazim di gelar di berbagai negara penempatan, seperti Hong Kong, Singapura, dan Taiwan. Yang menjadi peserta, tentu domestic helper yang berasal dari berbagai negara asal pengirim pekerja migran, seperti Indonesia, Vietnam, Filipina dan negara lainnya.

Sorak sorai penonton yang memberikan dukungan, gegap gempita alunan musik membahana di ruangan tempat acara dihelat, gemulai penari dan lenggak lenggok kontestan berjalan diatas catwalk, menjadi pemandangan utama dalam setiap digelarnya kontes kecantikan.

The Strairt Times, sebuah media online Internasional, beberapa waktu yang lalu mengungkap fakta mencengangkan dibalik mahkota penghargaan yang dikenakan pemenang kontes kecantikan. Media tersebut menyebut dalam tajuknya “Maids pay a good part of their wages to be ‘Cinderella’ for a day” .

Setelah dilakukan penelusuran, ternyata hal ini kali pertama terungkap dari penyesalan salah seorang kontestan asal Filipina yang bernama Jessica (33). Awalnya, dia menyesali ikut ambil bagian  dalam sebuah kontes karena dia dikejar oleh penyelenggara uang tambahan untuk menutupi tiketnya yang tidak terjual.

Tak tak hanya itu, beban biaya SGD 1.000 juga dibebankan kepada kontestan untuk biaya pertunjukaan yang digelar di hotel. Sedangkan hadiah kontes yang diumumkan panitia sebesar SGD 2.000. Saat calon pendaftar membaca brosur yang memajang angka SGD 2.000 sebagai hadiah, tentu mereka akan banyak yang tergiur sebab nilai tersebut sama dengan nilai gaji mereka selama 3 bulan. Hal ini yang menjadi magnet utama panitia menjaring peserta.

Sampai dengan pendaftar membuat komitmen untuk menjadi peserta, panitia tidak pernah memberitahukan pungutan biaya-biaya lain selain biaya pendaftaran yang nilainya hanya beberapa puluh dolar saja.

Saat pendaftar sudah membuat komitmen, pendaftar otomatis sudah terikat. Pada saat itu, panitia perlahan-lahan membebnankan seluruh biaya mulai dari biaya pertunjukan sebesar SGD 1.000, biaya kostum antara SDG 300-500, kewajiban menjual tiket penonton dengan target minimum, dimana jika target minimum tidak terpenuhi, maka peserta diwajibkan membelinya sendiri.

Kepada media, Jessica mengaku, bahwa dalam sebuah kontes kecantikan domestic worker, mahkota cinderela yang dikenakan seorang pemenang, sebenarnya sama saja dengan membeli mahkota itu sendiri dari uang pemenang. Bahkan, nilai yang dibayarkan, melampaui dari apa yang mereka terima.

Dengan didampingi oleh Transient Workers Count Too (TWC2), sebuah organisasi nirlaba yang memperjuangkan hak-hak domestic worker di Singapura, Jessica menggugat panitia untuk mengklarifikasi dan meminta pertanggungjawaban atas pembohongan publik dibalik jebakan yang mereka buat.

Beberapa penyelenggara mengatakan bahwa biaya yang mereka bayar habis untuk menyewa  tempat, peralatan untuk panggung, hadiah dan iklan.

Pernyataan panitia ini disesalkan peserta, kalau memang tidak bisa membiayai, kenapa harus membebankan seluruh biaya pada peserta, ‘apakah ini yang disebut dengan kontes kecantikan ?’ protes peserta yang kecewa. Domestic Worker terjebak harus membiayai sendiri mahkota dan gelar ratu kecantikan yang mereka sandang dari beberapa bulan gajinya.

Padahal, penyelenggara acara yang membuat Jessica membeli mahkota dan gelar Ratu Kecantikan Domestic Worker kali ini, telah berkali-kali menyelenggarakan acara serupa rutin setiap tahun sebelum-sebelumnya. Pertanyaan yang belum terjawab, apakah kontestan tahun sebelumnya juga mengalami nasib seperti Jessica ?

Begitulah fakta dibalik kontes kecantikan Domestic Worker di Singapura. Bagaimana dengan di negara penempatan lainnya ? [Asa/Straits Times]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner