Prime banner

JOHOR BAHRU – Edi Gunawan (34) pria bujangan combatan Negeri Gingseng Korea asal Karanganyar Jawa Tengah ini harus kembali menjalani hari menjadi BMI, lantaran seluruh hasil kerjanya selama beberapa tahun ludes ditelan meruginya usaha yang dia rintis di kampung halamannya.

Saat pulang dari Korea tahun 2014 silam, Gunawan mengaku memiliki tabungan sebanyak 400an juta rupiah. Semangatnya untuk berwirausaha, membuatnya menerima tawaran sebuah perusahaan produsen pakan ternak untuk merintis usaha peternakan ayam potong. Kerjasama tersebut diatas kertas, menawarkan keuntungan yang menggiurkan.

“Modal yang saya keluarkan 325 juta. Setelah berjalan 2 bulan, saya bisa memanen keuntungan rutin setiap 40 hari angkanya 34 juta.” Aku Gunawan kepada Apakabaronline.com

Dua bulan pertamapun dia jalani. Dan benar memang yang terjadi. Meskipun tidak sebesar angka dalam proposal sebesar 34 juta, dua bulan pertama dari hasil penjualan ayam potong di peternakannya, Gunawan bisa mengantongi keuntungan bersih sebesar 19 juta. Pendamping dari perusahaan pakan ternak memberi penjelasan sekaligus motivasi, bahwa pendapatan Gunawan sangat bagus untuk ukuran pemula.

“Penyuluhnya ngomong macam-macam ke saya, pokoknya intinya supaya saya tetap terus semangat menjalankan usaha” lanjutnya

Kontrak pendampingan dengan perusahaan produsen pakan ternak hanya berjalan 6 bulan pertama saja sesuai dengan perjanjian yang dia buat. Memasuki bulan ke tujuh, semua kendali, sepenuhnya ditangan Gunawan sendiri.

“Pas bulan kesepuluh itulah, saya mulai bangkrut pelan-pelan. Masalahnya, harga pakan tiba-tiba naik diluar dugaan, sedangkan harga jual ayam malah anjlog di pasaran. Selain itu, entah kenapa, ayam saya dikandang banyak yang mati sebelum waktu panen tiba. Jumlahnya pernah mencapai 70% ayam mati” kenangnya.

Kondisi tersebut, hanya mampu membuat Gunawa bertahan menjalankan usaha ayam potong sampai bulan ke 16 saja. Masuk bulan ke17, hutang usaha Gunawan semakin terasa.

“Terpaksa, bangunan dan tanah saya jual selaku-lakunya asal saya bisa ceppat bayar hutang saya. Saya rugi banyak. Modal tidak kembali, dan saat usaha berhenti, saya hitung, saya punya hutang hampir 200 juta.” Imbuhnya.

Usut-punya usut, Gunawan mengaku, saat menjalankan usaha peternakan ayam potong sebenarnya kurang dibekali pengetahuan yang luas.

“Saya hanya manut dengan penyuluh dari pabrik, tentu saja mereka mau untung, bukan rugi. Diawal-awal, kesannya mereka berbagi dan saya selalu mendapat untung. Padahal, mereka hanya mengeruk uang dari para mantan TKI agar mau membeli produk mereka saja” tambahnya.

Penyebab utama kegagalan usaha yang dijalankan Gunawan, menurut pengakuannya disamping bekal pengetahuan yang kurang, juga jaringan seprofesi yang masih lemas. Gunawan mulai mengenal program tersebut sejak masih di Korea. Tidak ada kesempatan untuk “kluyuran” melakukan anjangsana ke sesama peternak baik yang gagal maupun yang sukses, sebab, begitu datang di kampung halaman, beberapa hari kemudian, petugas dari pakan ternak telah aktif mendatangi Gunawan agar segera mewujudkan rencana membangun peternakan ayam.

Yang mengalami nasib seperti saya ini sebenarnya ada beberapa yang saya tahu. Ada teman dari Nganjuk, Kediri, Sragen dan Ponorogo. Mereka tertipu dengan iming-iming produsen pakan ayam.

“Jika keuntungan sudah mereka dapatkan, maka kita yang tadinya diakui sebagai partner, akan dicampakkan dengan kerugian yang luar biasa memenderitakan. “ tegasnya,

Pertengahan tahun 2016, saat seluruh aset yang dia kumpulkan dari bekerja di Korea sudah habis seluruhnya, sebenarnya Gunawan ingin kembali bekerja ke Korea. Namun mengingat biaya dan proses serta kompetisi yang ketat, akhirnya Gunawan berfikir realistis, memilih Malaysia sebagai negara tujuan untuk membangun harapan yang pernah hancur berantakan.

Meskipun demikian, pengalaman kerja selama di Korea, saat melamar pekerjaan di Malaysia tetap menjadi pertimbangan bagi perusahaan yang akan menerima Gunawan bekerja. Pengalaman di perusahaan otomotif, membuat Gunawan diterima bekerja di sebuah dealer otomotif dengan posisi dan gaji yang terbilang lebih dibanding BMI lainnya yang baru mulai bekerja.

“Pokoknya, kalau saya belum sukses, saya belum mau nikah” pungkasnya [Asa/Ilham]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner