Prime banner

ApakabarOnline.com – Ada-ada saja kejadian ironis di atas permukaan bumi ini. Seperti yang terjadi antara seorang pekerja rumah tangga asing berusia 21 tahun yang beberapa waktu lalu harus berurusan dengan Satuan Polisi Metropolitan Tokyo Jepang.

Dikutip dari TBS.co.jp, PRT asing asal Filipina berusia 21 tahun tersebut terbongkar kedoknya telah melakukan pernikahan palsu dengan seorang warga lokal berusia 61 tahun.

Setelah diselidiki, terbongkar misi tersembunyi, keduanya sama-sama memiliki kepentingan. Si PRT asal Filipina berkepentingan dengan status perkawinan tersebut agar lebih mudah dalam mencari pekerjaan dan ujung-ujungnya bisa mendapat penghasilan yang lebih banyak dari pekerjaannya.

Umi Menyesal Bawa Pulang Suaminya Yang WNA Ke Kampungnya

Sedangkan di kakek disamping mendapatkan keuntungan seksual, juga berkepentingan dengan uang ceperan untuk hari tuanya yang dihitung dengan prosentase dari setiap pendapatan PRT asal Filipina tersebut setiap bulannya.

Mengutip publikasi Hoyo.jp, fenomena perkawinan palsu antara orang asing dengan warga lokal Jepang beberapa tahun terakhir ini merebak. Filipina dan Indonesia memberi andil cukup besar dari kasus perkawinan palsu yang mereka temukan.

Modusnya, tentu uang dan kesempatan mendapat pekerjaan.

Namun, mencoloknya perkawinan palsu dimata kelaziman publik, membuat perkawinan palsu di Jepang mudah diidentifikasi. Salah satu kejanggalan untuk ukuran publik Jepang adalah selisih usia. Dimata publik Jepang, tidak lazim sebuah pasangan menikah memiliki perbedaan usia yang sepantasnya seperti bapak dengan anak atau ibu dengan anak.

Memahami Perlindungan Hukum Untuk Istri Yang Ditinggal Dan Diterlantarkan Suami

Mahbub Ihsanudin, mantan PMI Jepang asal Madiun mengungkapkan, selama dirinya bekerja (magang) di Jepang, dia mengaku melihat dan bertemu dengan beberapa pelaku perkawinan palsu tersebut.

“Bukan hanya kakek dengan gadis muda saja mas, tapi nenek dengan cowok brondong juga banyak. Apalagi tujuannya kalau bukan uang. Dengan status menikah, kan mereka pikir akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi dan lebih banyak jenis pekerjaan yang bisa dilakukan. Padahal resikonya, kalau ketahuan pasti akan rugi sendiri lah” terangnya kepada ApakabarOnline.com pada Kamis (12/04) kemarin. []

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner