Prime banner

MALANG – Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang kandidat Doktor Bidang Psikologi, Faturrahman Amrullah, tentang Long Distance Relationship pada kalangan BMI membukakan mata siapa saja yang membaca akan sebab musabab BMI menjadi korban eksploitasi seksual melalui jaringan sosial media.

Fatur, dalam risetnya menemukan kenyataan, BMI perempuan yang bekerja di berbagai negara penempatan banyak yang menjadi korban eksploitasi seksual, baik secara riil dalam dunia nyata, maupun secara virtual melalui sosial media.

“Kedua media tersebut (Riil dan Online) sebenarnya memiliki kesamaan latar. Yaitu haus akan “Tatih tayang”. Akibatnya, kontrol logic menjadi semakin longgar, bahkan seringkali hilang, saat iming-iming “tatih tayang” terlihat didepan mata” terang Fatur saat berbincang dengan Apakabaronline.com beberapa waktu yang lalu.

Sri Utami Diduga Mengidap Penyimpangan Seksual

Fatur menambahkan, terminologi kasih sayang yang dia ungkapkan dengan tanda petik dan berdialeg alay tersebut memiliki aspek psikologis yang luas. Pengaruh keterasingan di negara orang, kelelahan bekerja, sedikitnya waktu bisa bergaul secara riil dengan rekan senegara, serta dampak dari miskomunikasi yang seringkali timbul hingga mengarah pada retaknya sebuah hubungan dengan pasangannya, dia sebut sebagai amunisi yang memuluskan “haus tatih tayang”.

“Aspek psikis seringkali memang jauh melampaui batas logic. Namun setidaknya, bagian integral dari sistem psikis manusia adalah fungsi kognitif. Jadi, fungsi inilah yang sebenarnya selalu bisa diandalkan untuk menjadi penjaga gawang lengahnya seorang BMI disaat berada pada kondisi “haus tatih tayang” imbuhnya.

Menurut Fatur, memang tidak bisa dinafikan, setiap individu yang sehat fisik dan psikis, memiliki kebutuhan fisik dan psikis yang harus dipenuhi. Saat pemenuhan kebutuhan psikis tertunda atau harus mengalami kendala, cenderung akan terjadi pergeseran perilaku yang kemungkinannya bisa mengarah ke hal negatif, atau positif.

Terlanjur Telanjang

“Disitulah peran kognitif memiliki arti dalam mengontrol perilaku individu” sambungnya.

Dalam riset tersebut, Fatur berkesimpulan, lebih banyak jumlah mereka yang “tersesat” dalam memilih katarsis (penyaluran) daripada mereka yang mengambil langkah tepat. Pragmatisme berpikir pada individu mempengaruhi bagaimana individu tersebut memilih katarsis.

“Jika fungsi kognitif bisa berpetran dengan baik, individu cenderung memilih jalur kreatifitas sebagai displacement object, misalnya mengalihkan hasrat seksual yang megap-megap minta penuntasan dengan aktifitas menulis cerpen, membuat kreasi mode dan busana, dan lain sebagainya” sambungnya.

Menentukan katarsis, jika tidak tepat, bisa menimbulkan penyimpangan perilaku, seringkali berkembang menjadi perilaku asosial dan amoral. Dalam akhir pertemuan, Fatur meyakini, mereka yang mampu menemukan jalan untuk mendekatkan diri pada sang penciptalah yang paling beruntung dan selamat dunia akhirat. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner