Prime banner

”Aku berkali-kali gagal nikah. Pernah, ada seorang cowok ganteng dari keluarga cukup berada, hendak menikahiku. Akhirnya, ditetapkanlah hari baik untuk lamaran. Waktu keluarganya mau berangkat untuk melamar, tiba-tiba di kampungnya hujan lebat. Kata mereka, langit sangat gelap. Akhirnya, acara lamaran ditangguhkan. Anehnya, hujan deras hanya terjadi di kampung dia. Di kampung sebelah, cuaca cerah. Itu aku ketahui, setelah menelepon teman yang tinggal di kampung yang berdekatan dengan kampung calon suamiku. Akhirnya aku batalkan rencana pernikahan kami.”

Seorang teman, pekerja migran asal Madiun, Jawa Timur, menceritakan kisah ”tragis” rencana pernikahannya yang sering batal. ”Pernah juga, ada cowok yang ingin melamarku. Kami sudah saling kenal cukup lama. Setelah bersepakat soal waktu, keluarganya pun berangkat ke rumahku. Eh, di perjalanan, mereka sekeluarga mengalami kecelakaan. Setelah kejadian itu, hubungan kami secara pelan namun pasti, merenggang,” lanjutnya.

Kerisauan teman tersebut mungkin saja mewakili keresahan teman-teman lain sesama pekerja migran Indonesia di Hong Kong, yang lama menanti jodoh yang tak kunjung datang. Sebagian, berdasarkan curahan hati yang saya dengar, sudah sering mengeluhkan status ”jomblo” yang menurut mereka sangat tidak membahagiakan. Terlebih, tersiar kabar melalui media sosial, satu per satu pekerja migran di Negeri Beton pulang kampung untuk menikah.

Pertanyaan yang sering terlontar di hati dan lisan mereka, ”giliran saya kapan?”

Jika status belum bersuami adalah penyebab ketidakbahagiaan, mestinya orang-orang yang sudah memiliki pasangan hidup tidak lagi pernah mengeluh. Hidupnya hanya berisi bahagia.

Begitu juga keluhan yang kerap diungkap banyak teman pekerja migran yang dipaksa keadaan, harus hidup dengan cara ”menyalahi kodratnya”. ”Kami ini kan harusnya sebagai ’tulang rusuk’ suami. Tapi nyatanya, kami berperan sebagai ’tulang punggung’.” Demikian keluhan yang sering saya dengar. Mereka pun mengaku ”galau” dan resah, karena harus hidup berjarak ribuan kilometer dari keluarga tercinta.

Apakah benar, hidup berjauhan dari keluarga penyebab kehadiran beban hidup yang saat ini ditanggung? Berarti, mereka yang selalu hidup bersama orang-orang yang dicinta seharusnya tidak perlu lagi berkeluh kesah!

Namun fakta berkata lain. Banyak orang yang sudah berkeluarga sering mengeluh tentang rumah tangganya, tentang pasangannya, juga tentang anak-anaknya. Begitu juga pasangan suami-istri yang hidup bersama, tanpa jarak yang memisahkan mereka. Termasuk, teman-teman pekerja migran yang sudah menemukan jodohnya, lalu pulang dan menikah. Tidak sedikit yang harus terlihat lagi di Victoria Park dan mengaku tidak bahagia dengan rumah tangga yang baru seumur jagung dibangunnya di kampung halaman.

Kalau begitu, apa yang sebetulnya menjadi dasar kita merasa bahagia atau sengsara? Jawabnya, semua tergantung hati kita! Bagaimana hati menyikapi ketentuan Allah Ta’ala. Jika ikhlas, apa pun yang dihadapi dalam hidup, akan terasa ringan dijalani. Namun sebaliknya, jika hati tidak ikhlas, persoalan ringan pun akan terasa sebagai beban yang sangat berat untuk dipikul.

Sebab, tidak semua keinginan kita diwujudkan Allah Ta’ala. Sebaliknya, banyak keadaan yang tidak kita inginkan namun ditetapkan Allah bagi kita untuk menjalaninya. ”Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (surat al-Baqarah, ayat 216)

Kuncinya, pasrahkan segala urusan hidup kita hanya kepada Allah Ta’ala. Terus, kita latih hati dan pikiran untuk bertawakal kepada Allah, dengan memperbanyak membaca ”hasbunallah wa ni’mal-wakil, ni’mal-maula wa ni’man-nashir” (Cukuplah Allah sebagai penolong kami serta Allah adalah sebaik-baik pelindung, tempat bersandar, dan sebaik-baik penolong). Terutama, jika kita sedang merasakan kesulitan dan himpitan hidup.

Ucapan itulah yang dibaca Nabi Ibrahim ‘Alaihis-salam ketika dilemparkan ke dalam kobaran api. Maka, Allah jadikan api yang panas itu dingin. Ucapan yang sama dilontarkan Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya tatkala mendapatkan ancaman dari pasukan kafir dan penyembah berhala. ”Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (surat at-Thalaq ayat 3)

Betul, hidup haruslah berusaha. Namun dengan senantiasa bertawakal kepada Allah, niscaya segala ikhtiar yang kita lakukan menjadi benar, terarah, dan mendapatkan hasil yang selalu menggembirakan hati. Terkait hubungan tawakal dan ikhtiar, M. Syafi’ie el-Bantanie, dalam bukunya Cara Nyata Mempercepat Pertolongan Allah, memberikan tiga syarat untuk ikhtiar yang baik.

 Pertama, niatnya lurus. Pada masa-masa di mana kiamat hampir tiba seperti sekarang, sudah tidak zaman lagi kita melakukan sesuatu tidak diniatkan untuk ibadah dan berharap ridha Allah. ”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (hasil) sesuai apa yang dia niatkan.” (hadits diriwayatkan Imam Bukhari). Hanya niat tulus karena Allah saja yang akan mendapatkan pertolongan-Nya, mendapatkan berkah dan ridho-Nya. Semakin sempurna niatnya, semakin sempurna pula pertolongan yang diperoleh dari Allah.

 Kedua, memulai dengan membaca ”bismillahirrohmanirrahim”. Dengan begitu, kita memohon perlindungan Allah atas segala hambatan dan rintangan dalam ikhtiar-ikhtiar kita. Kita berharap berkah dan ridha Allah dari setiap yang kita lakukan. Dengan menyebut nama Allah, akan timbul kepercayaan diri yang tinggi di hati kita. Sebab, kita meyakini, Allah bersama dan menolong kita.

 Ketiga, ridha menerima hasil yang diperoleh. Apa pun yang kita dapatkan, ucapkan ”alhamdulillahirobbil’alamin”, sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah. Rasa syukur akan menghadirkan pertolongan lebih besar dari Allah di ikhtiar berikutnya. Seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Jika kita terus berikhtiar dengan benar, disertai tawakal kepada Allah Ta’ala, maka jangan heran kalau kemudian Allah memberikan ”bonus” kebaikan melimpah dan kebahagiaan tiada tara di penghujung ikhtiar kita. Persis, seperti yang diceritakan teman mengenai pencarian jodoh yang sebelumnya sering gagal dan kemudian berujung happy ending.

”Semua kejadian itu aku ikhlaskan, sambil terus berikhtiar. Sampai akhirnya, aku menikah dengan Si Akang yang saat ini menjadi suamiku. Terbukti, dia adalah jodoh terbaik aku, bisa memahami sifat-sifatku. Rasanya, bahagia banget! Alhamdulillah…!” ujarnya, dengan senyum terkulum. [Penulis : H. Abdul Razak, SS. Da’wah Worker, Islamic Union of Hong Kong ]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner