May 9, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

KETIKA KAMPUNG BMI BERUBAH MENJADI KAMPUNG SAPI, APA YANG TERJADI ?

3 min read

INDRAMAYU – Guna meminimalisasi pemberangkatan buruh migran, Pemerintah Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg mengembangkan usaha peternakan sapi. Sejumlah sapi yang merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian tersebut dikelola oleh para keluarga buruh migran.

“Usaha ini diharapkan dapat lebih mengembangkan potensi di desa ini. Ke depan, kami berharap agar usaha peternakan ini menjadi usaha terpadu yang dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal sekaligus menekan angka buruh migran,” kata Wartono, Kepala Desa Majasari.

Diberitakan oleh Republika.co.id, saat mengunjungi desa ini, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menyatakan apresiasi positifnya.

“Ini luar biasa. Kalau bisa inid icontoh oleh seluruh kepala desa di Indonesia,” tegas Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Tingkat kesejahteraan masyarakatnya yang semula banyak yang menjadi pekerja migran di luar negeri, juga meningkat meski tak lagi pergi ke negeri orang. Kini, masyarakat Desa Majasari banyak yang menjadi peternak sapi dan memanfaatkan berbagai produk ikutannya menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.

“Sangat kreatif. Seorang kepala desa mampu mengangkat pendapatan petani dan menurunkan jumlah TKI. Mereka tetap bisa mencari nafkah di kampung halaman sendiri dan sejahtera,” kata Amran.

Apresiasi senada juga disampaikan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, yang mendampingi kunjungan menteri pertanian. Diapun sepakat dengan menteri pertanian yang menyatakan bahwa Desa Majasari patut dicontoh desa-desa lainnya di Indonesia.

“(Desa Majasari) luar biasa,” tutur gubernur yang akrab disapa Aher itu.

Aher mengatakan, Pemerintah Desa Majasari selama ini mampu mengelola dengan baik bantuan yang dikucurkan oleh pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan berbagai pihak lainnya. Bantuan itupun menghasilkan gerakan perekonomian yang sangat bagus hingga menurunkan angka kemiskinan dari 40 persen menjadi delapan persen.

“Majasari pun jadi desa terbaiknasional pada 2016 lalu,” ujar Aher.

Saat ini, lanjut Aher, yang menggerakkan perekonomian Desa Majasari salah satunya adalah peternakan sapi. Bahkan, semakin hari, peternakan tersebut semakin berkembang pesat.

Kepala Desa Majasari, Wartono, mengungkapkan, peternakan sapi di desanya dimulai pada 2013. Saat itu, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian memberikan bantuan Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) sebanyak 32 ekor.

Sapi-sapi itu sebagian dirawat oleh warga yang istrinya menjadi BMI ke luar negeri. Dengan memelihara sapi, para suami dari BMI tersebut punya kesibukan, tidak ada kejenuhan, dan tidak ada kesempatan untuk berbuat negatif. Sapi bantuan pemerintah itupun berkembangbiak dengan pesat.

Menurut Wartono, banyak kemajuan yang dimiliki oleh kelompok ternak sapi itu karena ketua dan anggotanya telah mengikuti berbagai pelatihan. Di antaranya, pelatihan pengolahan limbah, pelatihan teknologi pakan ternak, pelatihan budidaya sapi potong, baik yang diselenggarakan oleh Dinas Peternakan Provinsi Jabar maupun Kabupaten Indramayu.

Tak hanya itu, pada 2016 lalu juga telah dilakukan Gerakan Penanaman Indigofera seluas dua hektare. Penanaman Indigofera itu merupakan program gubernur Jabar dan didukung oleh perguruan tinggi yaitu Universitas Padjajaran dan Universitas Wiralodra.

Selain itu, masyarakat Desa Majasari juga sudah memanfaatkan teknologi tepat guna. Seperti pengolahan limbah (biogas), pengolahan limbah cair (POC) dan pembuatan kompos.

Ketua Kelompok Tunggal Rasa, Slamet Setyadi menyebutkan, perkembangan yang sangat pesat itu juga diperoleh dari hasil pelaksanaan pembibitan sapi dengan Inseminasi Buatan (IB).

“Program Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) dari pemerintah juga telah membantu peternak dalam program pembibitan,” kata Slamet.

Slamet menambahkan, peternak juga sudah melaksanakan sistem recording atau pencatatan, serta menggunakan bibit unggul. Menurutnya, dari usaha beternak tersebut, peternak di Majasari telah memperoleh pendapatan yang cukup sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk bekerja menjadi BMI. [Asa/Lilis-Republika]

Advertisement
Advertisement