Prime banner
Cerpen Yesi Armand Sha

Aku biasa mengenali kedatangannya dari bunyi derap sepatunya yang beradu dengan lantai. Biasa setelah menutup pintu, ia akan menautkan matanya dengan retinaku. Lalu menanyakan bagaimana kabarku, yang tak lupa disertai dengan seulas senyum hangat dari bibirnya yang kebiruan. Hari ini aku tak tahu ia tiba jam berapa. Aku tak mendengar suara sepatunya dan tak tahu kapan ia masuk. Tiba-tiba saja aku melihat laki-laki itu sudah terlelap di atas kursi separuh sofa berwarna abu-abu itu.

Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dada, sedang kedua kakinya terjulur ke lantai. Kepalanya menunduk dengan kedua bola mata yang mengatup sempurna. Dari gerak napasnya yang naik turun dengan tenang, tampak sekali ia tengah menikmati tidur dengan posisi duduk itu. Tak seperti aku yang jika tidur harus terbujur di atas kasur, ia bisa pulas di sembarang tempat.

Agaknya memang laki-laki itu diciptakan untuk mudah tidur. Aku ingat kala kami masih kanak-kanak, teman-teman jarang mau melibatkan ia ke dalam sebuah permainan yang mengharuskan untuk sembunyi.

”Aku ikut bermain,” pintanya pada teman-teman kala itu.

”Tidak! Kalau sembunyi kamu selalu ketiduran. Menjengkelkan sekali,” tolak salah satu teman kami.

”Kali ini aku tak akan tidur sembarangan.” Ia menempelkan jari kelingkingnya dengan ibu jari, sedang ketiga jari lainnya tegak lurus menghadap ke atas. Ia membuat janji.

Sebelum pendirian teman-teman goyah, laki-laki itu tak akan berhenti membujuk. Ia terus berkata-kata melafalkan janji-janjinya dengan suara berisik, yang pada akhirnya membuat teman-teman merasa risih dan laki-laki itu diterima untuk bergabung bermain.

Tiga kali putaran, permainan masih berjalan dengan baik. Tapi di putaran selanjutnya, janji yang diucapkan oleh laki-laki itu tinggal kata-kata belaka. Kami kembali dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya sudah terjadi berkali-kali. Ya, lagi-lagi ia membuat aku dan teman-teman kelimpungan mencari tempat persembunyiannya.

Setelah lama dicari, salah seorang teman kami kadang memergokinya tengah berdiri dengan mata terpejam dan tubuhnya menempel di tembok dekat gang kecil yang menghubungkan rumahku dengan sumur belakang. Atau, di lain waktu, ia ditemukan sedang mendengkur di dekat tumpukan kayu kering yang akan dipakai sebagai bahan bakar untuk menggoreng krupuk. Pernah juga ia ketiduran di atas dahan pohon kopi di belakang rumahku. Laki-laki itu mudah sekali tidur. Mungkin itu imbas karena malamnya ia terjaga terlalu larut sebab setelah membungkusi krupuk di rumahku, ia harus belajar setelah sampai di rumahnya.

Laki-laki itu kadang memang menjengkelkan. Tapi aku juga tak menampik kenyataan kalau aku sering diam-diam memperhatikannya ketika ia datang dengan sepeda onthel yang belnya selalu diputar berulang-ulang. Suaranya yang cempreng ketika menyapa Bapak selalu membawa kakiku untuk cepat-cepat lari menuju jendela kaca berwarna hitam yang tak tembus pandang jika dilihat dari luar. Di pojokan jendela itu aku sesekali mengulum senyum sambil mengamati laki-laki itu yang dibantu bapak memasukkan krupuk-krupuk memenuhi dua keranjang belakang sepedanya.

”Ini catatannya. Hati-hati dan cepat pulang,” pesan Bapak.

Enggih, Pak.” Laki-laki itu menerima kertas dari Bapak, mempelajarinya dengan cermat lalu memasukkan ke dalam tas selempang kecil berbahan kulit yang mulai mengelupas. Setelahnya, laki-laki itu gegas memutar sepeda onthel tuanya dan bersiap menyetorkan krupuk ke toko-toko sesuai dengan kertas yang berisi catatan tulisan tangan bapak itu.

 

***

 

Laki-laki itu masih terlelap. Beberapa kali kepalanya bergerak-gerak seakan hendak roboh, namun tidak jadi jatuh karena lekas tegak kembali. Melihatnya, aku jadi kasihan. Sepertinya ia mengantuk sekali atau barangkali sangat kelelahan.

Sebenarnya aku sudah sering menasihatinya agar lebih banyak istirahat di rumah. Berkali-kali pula kukatakan agar di usianya yang mulai senja itu, ia lebih fokus memperhatikan kesehatannya dan mengurangi pekerjaan di toko buku.

”Agus dan Iwan sudah bekerja bertahun-tahun. Tabiat baik dan kejujurannya sudah tampak. Mereka amanah, percayakan saja urusan toko pada mereka. Kamu tak perlu pergi ke toko setiap hari,” kataku suatu hari.

”Aku pun memiliki pandangan sepertimu tentang mereka. Tapi masalahnya bukan percaya atau tidak. Hanya saja jika otak ini tak digunakan untuk bekerja sebagaimana mestinya, aku takut akan lebih cepat pikun sebelum waktunya. Bagaimana jika aku tak bisa mengenalimu lagi. Aku tak ingin hal itu terjadi padaku,” kilahnya menggodaku.

”Kamu kan bisa menghabiskan waktu dengan merawat taman di depan rumah, mencabuti rumputnya, dan memangkas tanaman yang keluar pagar.”

”Semua itu tak menyenangkan jika dilakukan sendirian. Lagi pula belakangan toko ramai. Tenagaku cukup dibutuhkan disana.”

Laki-laki itu memang seorang pekerja keras. Bahkan ia sudah mandiri sejak kecil. Ketika anak-anak seusianya sibuk menadahkan tangan pada orangtuanya untuk meminta uang jajan, ia telah memiliki penghasilan sendiri. Upah membungkusi dan mengantar kerupuk yang diperoleh dari Bapak cukup untuk memenuhi sakunya. Bahkan setelah dikumpulkan berbulan-bulan, bisa membantu ibunya untuk membayar bulanan sekolahnya sendiri.

Semua tahu jika laki-laki itu sudah lebih dewasa dari usianya. Ia menjaga ibu dan adik semata wayangnya dengan baik. Ia tak pernah membuat khawatir ibunya dan tak pernah membuat marah perempuan berbadan ringkih itu. Ia berubah menjadi laki-laki yang lebih tanggung jawab sejak bapaknya meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun.

Laki-laki itu tak mau menyusahkan ibunya. Ia selalu berusaha menghasilkan uang sendiri. Sejauh yang kutahu, selama kuliah ia jarang menggunakan uang kiriman dari ibunya. Semester satu sampai tiga ia biayai kuliahnya dari upah kerja paruh waktu. Di semester lanjutan sampai akhir, ia menghasilkan uang dari berdagang. Ia berjualan apa saja. Kadang kulakan baju, celana atau sepatu untuk dijual pada teman kos atau teman kampusnya.

Aku mengetahui dengan baik perjuangan kerasnya itu, karena kebetulan kami kuliah di kampus yang sama dan tinggal di tempat kos yang tak terlalu jauh. Ah, bukan. Sebenarnya itu bukan kebetulan. Jika mengingat hal itu aku selalu merasa berutang budi padanya.

”Ayolah, tolong aku sekali ini. Hanya kamu yang bisa membantuku,” pintaku kala itu dengan wajah penuh pengharapan.

”Kenapa harus aku? Teman-teman lain juga ada yang kuliah di kota,” jawab laki-laki itu.

”Kau tahu sendiri kan, Bapak sangat percaya padamu. Pasti Bapak akan mengizinkanku kuliah di kota jika tahu kamu juga kuliah di kampus yang sama,” kataku berusaha menjelaskan tentang kekhawatiran Bapak untuk melepasku hidup di kota.

Laki-laki itu tak memberi kepastian bahwa ia akan membantuku untuk membujuk Bapak. Hanya saja, dua hari setelahnya, Bapak memberi kabar yang membuatku sangat bahagia. Aku diizinkan untuk kuliah di kampus yang kupilih. Agaknya laki-laki itu sudah berbicara dengan Bapak.

 

***

 

Suara beberapa anak kecil yang berbicara di luar terdengar cukup berisik. Andai tanganku tak dipasangi selang-selang infus, pasti aku akan keluar lalu meminta mereka untuk memelankan suaranya agar tak mengganggu tidur laki-laki itu. Aku ingin melihatnya tidur lebih lama lagi.

”Alisa, kamu sudah bangun?’’

Aku tergeragap mendengar suaranya yang tiba-tiba.

Laki-laki itu mendekat. ”Aku tadi tiba ketika kamu sedang tidur. Makanya kuputuskan menunggu sampai kamu bangun. Tapi akhirnya aku malah ketiduran.”

”Bagaimana keadaanmu hari ini?” tambahnya.

Ia tersenyum lalu menautkan retinanya dengan mataku. Aku menemukan tatapan dari pemilik mata kopi itu masih sama seperti tatapan puluhan tahun silam.

Puluhan tahun silam itu…

”Aku tak tahu seperti apa laki-laki itu. Aku tak bisa membayangkan sebuah kehidupan dengan seorang yang tak kukenal. Aku ingin menolak perjodohan itu, tapi aku juga tak ingin melukai hati Bapak” Aku tergugu menceritakan perihal perjodohan antara aku dengan anak laki-laki pelanggan krupuk Bapak.

”Lagi pula hatiku sudah menyimpan sebuah nama,” tambahku.

Laki-laki yang diam dengan wajah tak bisa kubaca itu menarik kursinya berhadapan denganku. Wajahnya sangat serius. ”Alisa, jawab sejujurnya apa yang kukatakan. Apakah nama yang kau simpan itu namaku?”

Aku tak berani menjawab. Hanya mampu menutupkan kedua tangan ke wajahku yang penuh air.

”Sebelum semuanya terlambat, aku juga ingin memberitahumu satu hal. Aku mencintaimu, Alisa. Aku mencintaimu sejak saat itu. Sejak kamu mengintip aku melalui kaca depan rumahmu.”

Laki-laki itu membimbing tanganku turun perlahan-lahan hingga membuat tangisku pecah karena kaget dan malu. Setelahnya, aku pun menemukan sebuah ketulusan dan kehangatan di kedalaman matanya.

”Alisa, kamu melamun?” Kedua kalinya, suara laki-laki itu mengagetkanku.

”Tidak. Bukan,” kataku cepat. Aku berbohong.

”Dokter bilang, seminggu lagi kamu boleh pulang. Aku sudah merindukan kopi buatanmu.” Sebuah senyum terkulum dari bibirnya yang membawa aroma kebahagiaan.

”Syukurlah. Aku juga sudah bosan terbaring di kamar ini berminggu-minggu,” jawabku tak kalah bahagia.

”Lekas sehat ya, Sayang. Aku ingin selalu menghabiskan waktu bersamamu. Aku berjanji akan lebih banyak menemanimu di rumah. Membantumu membuat cake atau merawat tanaman di depan rumah.” Laki-laki itu menggenggam tanganku. Memilin-milin cincin pernikahan kami yang melingkar di jari manisku. Hingga kemudian, punggung tanganku terasa hangat oleh sebuah kecupan.

”Aku mencintaimu,” bisiknya. (*)

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner