Prime banner

PURWOKERTO – Ayahnya menikah lagi di Malaysia dan kini entah berada dimana, Anna Bella Novie (6) kini harus hidup bersama Satinah neneknya lantaran ibunya yang terpaksa harus menjadi tulang punggung kelurga, kini sedang mengadu nasib di Jakarta. Bella diketahui memiliki kelainan pada alat kelaminnya kali pertama pada usia 2 tahun.

Neneknya, Satinah, mengatakan, Bella lahir di Malaysia saat ibunya masih menjadi pekerja migran. Karena repot, Bella dan ibunya kembali ke Indonesia, sementara ayahnya tetap di Malaysia. Bahkan, sang ayah justru memilih menikah lagi dan meninggalkan Bella dan istrinya.

Mengutip pemberitaan satelitpost, biaya berobat Bella tertutup Kartu Banyumas Sehat (KBS) yang telah berubah menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS). Beberapa bulan periksa ke Puskesmas, dokter merujuk ke RSUD Margono Soekarjo. Ia lalu dirujuk lagi ke RS Karyadi Semarang. Namun RS Karyadi juga tak bisa melakukan tindakan operasi pada Bella. Sebab, kelainan pada Bella tidak termasuk tanggungan BPJS.

Satinah mengatakan, Bella semakin hari semakin mirip laki-laki.

“Tapi dari hasil USG dan pemeriksaan kelamin katanya lebih mendukung dia menjadi perempuan. Karena ada kandungannya,” katanya.

Sementara itu, petugas Puskesmas Ajibarang, Tri mengatakan, pihaknya telah turut melakukan pemantauan terhadap Bella.

“Puskesmas sudah intens mendatangi untuk melakukan asuhan keperawatan keluarga,” kata dia.

Terpisah, Kepala Unit Manajemen Kepesertaan BPJS Kesehatan Purwokerto, Anif Saofika Pratama mengatakan pihaknya sudah pernah bertemu dengan Bella. Dan sudah disarankan untuk ke RS Karyadi setelah cek laboratorium.

“Ini kasus sudah lama, sudah kami sarankan untuk bertemu dengan petugas kami di RS Karyadi. Tapi kami belum tahu apakah yang bersangkutan sudah melakukannya atau belum,” katanya.

Kesulitan yang sedang menimpa Bella saat ini adalah ketidaktersediaan biaya untuk melakukan tindakan operasi di RS Karyadi lantaran, tindakan medis yang akan dijalani oleh Bella tidak ditanggung oleh BPJS.

Apa Itu Kelamin Ganda ?

Secara medis, kelamin ganda bukanlah penyakit melainkan gangguan perkembangan seksual yang mampu memengaruhi perkembangan seksual anak. Kelamin ganda atau ambiguous genital merupakan kondisi langka di mana penampilan organ kelamin bayi yang baru dilahirkan tidak jelas apakah perempuan atau lelaki. Biasanya, kelainan ganda langsung dapat dikenali segera setelah bayi lahir. Namun, ada juga yang bisa didiagnosis sebelum kelahiran, meski hal tersebut jarang terjadi.

Kelamin ganda diidentifikasi menjadi beberapa jenis, yaitu:

 

  • Berkelamin ganda karena memiliki ovarium dan testis dengan alat kelamin eksternal yang tidak jelas apakah laki-laki atau perempuan.
  • Berkelamin ganda karena memiliki ovarium dan bentuk alat kelamin eksternal yang mirip penis.
  • Berkelamin ganda karena memiliki alat kelamin wanita eksternal (termasuk vulva) dan testis tidak turun ke skrotum. Jadi kantung pelirnya tidak berisi testis.

Mengapa Kelamin Ganda Bisa Terjadi?

Kelamin ganda bisa terjadi jika selama kehamilan ada suatu hal yang tidak berjalan dengan normal hingga mengganggu perkembangan organ seks janin, contohnya:

  • Kurangnya atau tidak cukupnya hormon laki-laki pada janin laki-laki.
  • Kelebihan hormon laki-laki pada janin perempuan.
  • Mutasi pada gen tertentu.
  • Kelainan kromosom.
  • Kelainan genetik.
  • Ibu hamil mengonsumsi obat-obatan tertentu.
  • Adanya tumor pada ibu ketika sedang mengandung.
  • Kurangnya produksi hormon tertentu. Hal ini dapat menyebabkan embrio berkembang dengan tipe tubuh wanita, tanpa memandang jenis kelamin genetik.

 

Perempuan atau Lelaki?

Jika secara genetik si anak ternyata berkelamin perempuan, tanda-tanda kelamin ganda bisa dicermati melalui:

  • Klitorisnya membesar hingga terlihat seperti penis kecil.
  • Labia kemungkinan menyatu dan terlihat seperti skrotum.
  • Pembukaan uretra (tempat urine keluar) bisa berada di sepanjang, di atas, atau di bawah permukaan klitoris.
  • Terkadang terasa ada benjolan jaringan di dalam labia yang menyatu, membuatnya terlihat seperti skrotum dengan testis.
  • Bayi pun sering dianggap berjenis kelamin laki-laki dengan testis tidak turun.

Dan jika secara genetik si anak adalah laki-laki, tanda-tanda kelamin ganda dapat dilihat dari:

  • Ukuran penisnya kecil (kurang dari 2 atau 3 cm) hingga terlihat seperti klitoris yang membesar dan dengan pembukaan uretra lebih dekat ke skrotum.
  • Kemungkinan ada skrotum kecil yang terpisah dan terlihat seperti labia.
  • Pembukaan uretra bisa berada di sepanjang, di atas, atau di bawah penis. Bisa juga terletak di perineum (daerah antara anus dan skrotum atau vulva) hingga membuat bayi seperti berjenis kelamin perempuan.
  • Testis tidak turun dan skrotum kosong hingga terlihat seperti labia, disertai dengan atau tanpa penis kecil.

Kelamin Ganda Menjadi Kelamin Tunggal

Kelamin ganda bisa memengaruhi psikologis dan kesejahteraan sosial, tidak hanya bagi orang tua melainkan juga pada si anak ketika dia besar kelak. Karena kompleks dan jarangnya kasus ini terjadi, hingga perlu dibentuk satu tim dokter khusus untuk menangani kondisi ini. Tim tersebut terdiri dari dokter anak, ahli urologi pediatrik, dokter ahli perawatan bayi baru lahir, dokter ahli bedah umum anak, dokter ahli sistem endokrin dan kelenjar, dokter ahli genetika, dan psikolog.

Operasi menjadi pilihan dalam menangani kasus kelamin ganda. Misalnya dengan memindahkan testis yang tidak turun ke dalam skrotum, memisahkan vulva yang menyatu, atau mengecilkan klitoris. Operasi dilaksanakan tentunya setelah dilakukan pemeriksaan terhadap si anak terlebih dahulu. Orang tua bisa memutuskan “memiliki” anak perempuan atau lelaki, tentunya setelah berdiskusi panjang dengan tim dokter dan melihat hasil tes.

Sebagian besar ahli medis menganjurkan jika operasi dilakukan sejak dini agar jenis kelamin anak jelas dan membuat anak merasa menjadi bagian dalam masyarakat. Ada juga kelompok masyarakat yang menyarankan agar menunggu operasi sampai anak cukup dewasa untuk memutuskan.

Selain operasi, anak juga membutuhkan terapi hormon ketika mereka berusia remaja. Gunanya untuk membantu mereka menjalani masa pubertas. Dan tidak ketinggalan, konseling untuk orang tua dan anak itu sendiri.

Pengobatan kelamin ganda dilakukan tidak hanya demi kesejahteraan sosial maupun psikologis anak, melainkan juga kesehatan fisiknya. Mengapa? Karena kelamin ganda bisa menyebabkan ketidaksuburan, masalah pada fungsi seksual, meningkatkan risiko beberapa jenis penyakit kanker, hingga rasa tidak nyaman mengenai identitas gender.

Kelamin ganda memang bisa diatasi dengan operasi. Namun, hal tersebut tidak boleh diputuskan dengan sembarangan dan tanpa pertimbangan yang matang, karena hal ini menyangkut hajat hidup anak dari kecil hingga tua nanti. [Asa/Net]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner