Prime banner

LEMBATA – Fenomena warga Lembata yang bekerja ke luar negeri menjadi pekerja migran, kemudian saat pulang mereka membawa pasangan (suami/istri) warga negara asing, sudah bukan hal yang baru lagi di daerah ini. Pernikahan warga Lembata dengan warga asing sudah terjadi sejak jaman dulu. Jika di jaman dulu warga lokal tidak pernah mau tahu tentang legalitas keimigrasian warga asing yang menikah dengan warga lokal, kemajuan jaman menuntut, pemerintah daerah setempat untuk lebih melakukan langkah monitoring.

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Lembata, Petrus Kanisius Payong Pati, dihadapan awak media menuturkan, jika di daerah lain terbentuk Timpora yang biasanya terdiri dari unsur imigrasi, kepolisian, gerakan sipil, pemerintah daerah serta TNI, di kawasan ini keberadaan tim tersebut belum ada.

“Karena itu, kesbangpol secara aktif dan proaktif harus melakukannya demi menjaga kondisi agar kehidupan warga di Lembata tetap aman, kondusif dan kehadiran warga asing, terutama yang datang kesini karena perkawinan, tidak menjadi masalah” terangnya.

“Kami, atasnama pemerintah Daerah Lembata pada prinsipnya mendukung mereka dimana kebanyakan para TKW, yang menikah dengan warga asing. Sebab, ada banyak hal yang potensial bisa berkontribusi positif untuk Lembata” imbuhnya.

Petrus menambahkan, keberadaan warga asing para suami pekerja migran yang masuk ke Lembata, tentu memiliki sisi positif. Untuk meminimalkan sisi negatif, sisi positif inilah yang oleh instansinya akan terus didorong agar bisa semakin maksimal manfaatnya.

“Kehadiran mereka pasti ada sisi negatif, namun demikian, kehadiran mereka juga membawa sisi positif. Bukan saja dari faktor pertukaran budaya serta penambahan wawasan, faktor peningkatan ekonomi, jika didesain dengan bagus, bisa kok berkembang dari mereka.Dalam parisiwata misalnya” papar Petrus

Sementara Kanis Making didampingi Kepala Bidang (Kabid) Pengawas Nasional (Wasnas) Kesbangpol Lembata, Tekla Tokan. Pertemuan itu merupakan yang pertama kali diselenggarakan dalam rangka menggali gagasan untuk membentuk Forum Pengawas Orang Asing di Kabupaten Lembata.

Dalam pertemuan itu terungkap sejumlah fakta bahwa ada orang asing datang ke Lembata dan tinggal di desa. Salah satunya orang asing asal Norwegia, datang mengikuti istri dan tinggal di Desa Ata Illi, Kecamatan Wulandoni.

Selain itu, ada orang Jerman yang datang bersama istri tinggal di Desa Lerek, Kecamatan Atadei. Orang Jerman itu beristrikan warga Desa Lerek. Bahkan orang asing ini sudah beberapa kali datang mengunjungi keluarga istrinya di desa tersebut.

“Itu yang terjadi di Lembata ini. Makanya kami merasa perlu dibentuk semacam Forum Pengawas orang Asing di Kabupaten Lembata. Forum ini dibuat supaya seluruh informasi tentang keberadaan orang asing di daerah ini langsung dilaporkan kepada Bupati,” ujarnya.

Saat ini, lanjut dia, Lembata menjadikan pariwisata sebagai leading secktor pembangunan. Lembata juga punya destinasi wisata unik terpopuler, yakni Gunung Batutara. Belum lagi destinasi unggulan lainnya di daerah ini.

Karena itu, tandas Kanis, penting sekali bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata untuk memiliki Forum Pengawas Orang Asing di daerah ini. Peran forum tersebut mendukung eksistensi Tim Pora (Pengawas Orang Asing) yang saat ini bernaung di bawah Imigrasi Maumere.

“Hasil dari pertemuan ini akan kami tindaklanjuti dengan melakukan kajian untuk membentuk forum itu. Bagi kami, forum ini dibentuk untuk membantu pemerintah melakukan pengawasan terhadap orang asing yang datang ke daerah ini,” ujarnya. [Asa/FK]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner